Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Awal Pertemuan


__ADS_3

Cuaca begitu terik hari ini, menambah panasnya hati Fero. Dalam 10 menit Fero sudah berdiri tepat di depan klinik. Tanpa menunggu lama Fero langsung masuk ke klinik. Seketika beberapa pasang mata yang tak asing menatap Fero.


Dua wanita sok cantik dengan kaki menyilang sambil memainkan hp menoleh sebentar ke arah Fero. Fero menduga itu pasti pelanggan klinik, sementara karyawati yang sepertinya masih mengingat Fero segera menanyakan maksut dan tujuannya datang, "Mas ojol yang kemarin datang ke sini bukan?Ada yang bisa dibantu mas?"


"Karin ada mbak?Saya mau bicara penting dengannya." Mendengar nada kurang enak dari mulut Fero membuat karyawati yang bernama Emma itu agak curiga. "Mbak Karin masih istirahat mas, kalau tidak salah keluar cari makan sama dokter."


"Oh!! Baik mbak saya tunggu diluar kalau begitu..Terimakasih."


Fero segera berbalik menunggu di luar dan duduk di atas motornya tanpa melepas helm sejak masuk dari klinik tadi. Tak terasa bayangan Annisa, gadis yang dia harap berbeda dengan yang lain terlintas di benaknya. 4 tahun dia mengenal Annisa, Fero begitu terkesan pada Annisa, dia bersikap biasa dan bahkan malu saat menatap wajahnya tanpa penutup, berbeda dengan kebanyakan wanita lain. Selain itu, Annisa bisa dikatakan sangat sopan dan begitu menghargai orang tua Fero. Meski begitu perasaan Fero ke Annisa entah itu bisa dikatakan cinta atau sekedar perasaan kagum akan pembawaan santun Annisa atau perasaan tidak enak karena terhadap usianya yang tak pernah tersentuh wanita sehingga ketika Annisa mengajaknya jalan dia hanya menurut.


'Hah!Apa mungkin tidak ada cinta sejati antara dua manusia untukku?'


Dibalik helm berstandart nasional Fero tertawa cekikikan memikirkan nasibnya. Ketika sedang asik-asiknya melamun tentang L O V E melintas Mini Cooper di depan motornya.

__ADS_1


Nampak kaki jenjang tidak terlalu putih namun bersih dan terlihat eksotis dengan balutan rok pendek berwarna putih keluar dari pintu pengemudi. Sesaat setelah keluar mata mereka bertemu pandang, namun wanita tersebut segera memalingkan wajah angkuhnya, sehingga rambut panjang ikal yang dia ikat seolah seperti mengikuti keangkuhan empunya.


Dari balik helm wajah Fero nampak bingung, "Kenapa jantungku rasanya berhenti saat melihatnya". Belum sempat Fero menjawab kegundahannya sendiri, wanita itu menyebut nama yang membuatnya seketika lupa akan perasaannya tadi.


"Karin jangan lupa!! Makanan anak-anak kamu bawa masuk!", kata wanita tersebut sambil membuka pintu kaca. Setelah menjawab ke bosnya Karin segera mengambil makanan dan segera menuju masuk ke klinik. Dan belum sempat masuk Fero langsung menghadangnya.


"Mbak Karin saya ojol yang kemarin nganter pesenan makanan, mbak masih ingat? Saya mau bicara empat mata dengan mbak!Penting!"


"Eh! Iya mas masuk dulu mas! Duduk dulu saya kasih makanan ini ke temen-temen."


Fero memang sudah di dalam tapi dia tidak segera duduk. Emosinya mengalahkan akal dingin dan etikanya hari ini, selain di deretan tempat duduk masih ada satu orang pelanggan. Sehingga membuat Fero enggan untuk duduk.


"Silahkan duduk mas! Ada perlu apa?", Karin mempersilahkan Fero dengan sopan sehingga membuat Fero menjadi bingung dan ragu, 'Apa bener Karin yang berkomentar demikian, tapi orang ini terlihat sopan dan seperti tidak merasa bersalah atau takut???'

__ADS_1


Kemudian Fero duduk dan langsung menjelaskan titik permasalahan, " Begini mbak Karin, kemarin setelah saya mengantar pesanan ke sini. Hari ini saya tidak bisa bekerja lagi..."


Belum sempat Fero meneruskan Karin memotong kata-kata Fero.


"Loh kok bisa kenapa Mas?"


Fero langsung menunjukkan komentar buruk di aplikasinya.


"Komentar ini muncul terakhir setelah saya ke sini. Apa maksud semua ini mbak?"


Karin mengamati dengan seksama tulisan dalam komentar tersebut.


Namun ketika Karin hendak menjawab nampak sepasang kaki yang berdiri di depan Fero dan Karin.

__ADS_1


Fero menengadahkan wajahnya melihat wanita yang tadi sempat membuat jantungnya berhenti, dengan kedua tangan dilipat di dada dan tatapan penuh amarah memandang ke arah Fero.


__ADS_2