Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Sarapan


__ADS_3

Marsella masih dengan rasa kantuk melihat sebuah pesan masuk di ponselnya. Seketika mata yang tadi begitu berat terangkat menjadi cerah dan lebar. Segera dibuka pesan masuk dari orang tersayang dengan perasaan gembira namun seketika juga perasaan gembira menjadi kecewa.


'Mas boleh tanya kenapa kamu kemarin bisa merendahkan adikku seperti itu?'


Marsella terdiam tak bisa berpikir. Kini dirinya merasa bingung mau menjawab apa.


Setelah lama duduk terdiam Marsella kembali menjatuhkan tubuhnya, sekarang badannya terasa lemas tak bertenaga.


Fero telah mengantarkan ibunya ke tempat kerja. Hatinya masih kesal karena pesan Wa yang telah masuk hanya dibaca tanpa balasan kejelasan. Fero mungkin bisa menerima jika dirinya dihina tapi tidak dengan keluarganya terutama ibu dan adiknya. Sedikit emosi muncul kepada Marsella namun tidak bisa membesar karena Fero sangat sulit marah kepada seorang wanita, hatinya terlalu lembut. Hari ini Fero akan lebih fokus untuk mencari uang dihapus pikirannya ke Marsella, tapi wallpaper wajah manis Marsella di hpnya sungguh mengganggu konsentrasinya. Tiap kali ponsel Cina itu terbuka pasti wajah Marsella seolah tersenyum padanya.


Saat pikiran berkonsentrasi membuyarkan bayangan Marsella, orderan masuk.


"Iyessssss, ini baru namanya kerja."


Marsella keluar dari kamar dengan wajah lesu. Dokter Laksmi menatap anaknya dan segera mengajaknya untuk sarapan bersama.


"Sayang ayo sarapan!"


"Eh! Iya mi." kata Marsella celingukan seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


"Papimu sudah berangkat pagi, ada kunjungan dari Dinkes katanya."


"Oh..."


Marsella segera duduk mengambil 2 lembar roti gandum dan selai kacang kesukaannya.


"Ada apa! Mami lama dak ngobrol berdua dengan putri pertama mami yang paling cantik ini."


Senyum tulus dokter Laksmi sedikit membuat bibir Marsella terangkat.


"Dak ada apa-apa mi. Emang kenapa mami tanya begitu?"


Dokter Laksmi memandang tajam ke arah putrinya, "Sayang! Mami ini ibumu yang melahirkanmu yang membesarkanmu. Jadi sebagai seorang ibu tentu mami paham dan bisa merasakan kondisi anaknya lagi baik,buruk,bahagia atau sedih. Itu mukamu keliatan kusut kok kamu bilang dak ada apa-apa."


"Kamu masih sama orang itu?Maksut mami laki-laki berjaket hijau."


Marsella terdiam sejenak, bibir yang baru menggigit dua pasang roti gandum berlapis selai segera dibasahinya dengan beningnya air mineral merk terkenal.


"Menurut mami, apakah dia layak menjadi pasanganku?"

__ADS_1


Sekarang dokter Laksmi yang terdiam mendengar kata-kata putrinya.


"Jika Sella bersamanya apa mami akan merestui?"


Dokter Laksmi masih dengan posisi diam memandang redup ke arah Marsella.


Setelah mengatakan demikian Marsella segera menghabiskan sarapannya dan segera bangkit dari kursinya.


"Sekarang mami tahu kenapa Sella sedih bukan? Sella berangkat dulu mi."


Dokter Laksmi hanya bisa duduk terdiam, perkataan Marsella seperti perekat yang membuat bibirnya rapat tak mampu dibuka.


Fero duduk dengan kesulitan di atas motornya pelan. Di belakangnya sekarang duduk penumpang wanita berbadan langsing, saking langsingnya Fero sampai tidak kebagian tempat duduk. Roda motor yang lama tidak di isi angin sekarang tertekan oleh beban berat penumpang langsing tersebut.


'Anjirrrrrrr,, ini cewek makannya apa? Baru dapat penumpang gini amat nasib-na...'


Belum selesai Fero mengumpat dalam hati roda motor terasa berkelok-kelok dan terdengar suara pelek seperti menjerit kesakitan. Fero kemudian segera menepikan motornya.


"Hehehehe, maaf ya mbak bannya bocor. Mbak bisa saya bantu orderkan ojol lain."

__ADS_1


Dengan pipi terangkat penumpang wanita itu melengos ke Fero yang berjongkok setelah melihat kondisi ban motornya.


"Kalau mau ngojek diperiksa dulu dong bang rodanya, jadinya saya gimana ini? Sudah terlambat masak harus bayar dobel??"


__ADS_2