
"Hai"
Fero hampir tersedak saat baru keluar dari tempat dia makan dan melihat Karin melambaikan tangan ke arahnya. Bukan lambaian tangan yang membuat Fero tersedak namun penampilan Karin hari ini.
"Kok dak pakai baju kerja Rin?" tatap Fero penuh tanda tanya setelah benar-benar dekat dengan Karin.
"Sudah ganti baju Kak"
"Kak??" tanya Fero keherananan
"Dak boleh aku panggil Kak?" jawab Karin sambil mencibirkan bibir yang terbalut lipstik mahalnya.
"Hahahahahaha ya hahahaha boleh saja tapi...agak aneh saja" Fero menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sejenak kemudian Fero terdiam melihat ke arah Karin,bukan karena baru pertama melihat wanita berpakain seperti ini bahkan yang lebih ekstrim banyak Fero lihat baik di dunia nyata maupun dunia maya. Akan tetapi, Karin yang beberapa hari dia kenal sedikit banyak bagi orang yang sudah lama sendiri tentu merasakan perasaan menduga-duga dalam ketidakpastian. Apalagi Karin terlihat bersikap manja,ada kebanggaan dalam hati Fero dan perasaan berharap meski ada sebagian hati yang lebih besar dan lebih murni tergambar di hatinya. Namun Fero juga menepis perasaan itu karena bagimu sangat tidak realistis jika sosok itu mau bersanding dengannya.
__ADS_1
"Kak,dari tadi kok ngeliat Karin ada yang salah dengan penampilanku?" tegur Karin yang merasa malu dilihat Fero.
"Dak sih Rin cuma,,hemmm menurutku kamu mau kemana dandan begitu..." Fero terdiam sejenak kemudian menghela nafas.
"Apaan sih ayo jalan Kak"
"Oke, ayo kuantar pulang kalau begitu"
"Kok pulang" jawab Karin dengan wajah cemberutnya
"Karin sudah dandan begini,masak Kak Fero dak paham"
Fero merasa bergetar,lebih banyak nafsu menyelimut hatinya. Sejak remaja sampai sekarang mungkin ini adalah awal kemunculan nafsu dalam dirinya. Sebab dulu saat bersama Annisa hanya perasan datar tanpa ekspresi dan hatinya tetap dingin sedingin es saat di dekat Annisa. Kenal dan bertemu Karin tubuhnya yang terbiasa dingin mulai merasakan rasa hangat dan semakin mendekati panas. Selain gaya bicara Karin hri ini bahasa tubuh Karin begitu memanjakan jiwa laki-lakinya.
"Mau kemana" Fero menjawab dengan perasaan takut. Entah bagaimana Annisa dulu tidak demikian menarik saat mengajaknya jalan.
__ADS_1
"Terserah Kakak aku mau"
'Dukduk...dukduk....dukduk' jantung Fero bergetar begitu cepat seakan mau lepas dari tubuhnya dan berdiri sendiri. Ditambah Karin segera naik ke motor dan duduk sangat dekat bahkan menempel sehingga pantat Fero bisa merasakan celana jeans yang dipakai Karin dan jaket atribut ojolnya seakan menjerit saat sepasang bukit indah dibalut kaos putih tipis menempel di punggung jaketnya.
"Ayo jalan Kak,malah bengong" bisik Karin di telingan Fero yang membuat Fero bergidik nikmat dan tak terasa ada sesuatu di bawah di dalam celana dalamnya yang terasa basah.
"Rin hari ini kamu kenapa?kok terasa beda dari kemarin?" Fero bertanya saat motor baru berjalan sedikit menjauh dari klinik.
"Emmmm", hanya kata itu yang keluar dari mulut Karin dan setelah itu Karin malah memeluk Fero begitu erat.
"Ehhhh..Rin"
Fero merasa ditekan oleh seribu gunung yang menghimpit seluruh jiwanya. Perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan bertarung dalam dimensi lain namun masih dalam jiwanya.
Saat gejolak itu mendekati klimaknya Fero merasa seperti kosong dan aneh...
__ADS_1