
"Tidak apa-apa Pak!Tidak perlu membayar lagipula saya juga belum mengantarkan. Oiya dokter mohon di aplikasi orderannya dokter yang cancel supaya performance saya tetap baik!Kalau begitu saya permisi,mari dokter, Pak Eko!"
Marsella hanya bisa menatap punggung itu menjauh. Mulutnya tak mampu mengucap sepatah kata pun sampai laki-laki itu menghilang dari pandangannya.
Dokter Kusbandono telah berada di dalam mobil Taft kesayangannya. Dilihatnya putri pertamanya masih memandang ke arah jalan dengan tatapan kosong.
"Sella! Ayo pulang." Melihat tingkah putrinya demikian sedikit banyak insting nya sebagai seorang ayah langsung mengerti bahwa orang yang baru saja pergi bukan hanya sekedar ojol biasa. Lagipula sekali mengingat kembali figur dan wajah ojol barusan tentu dokter Kusbandono bisa menebak kemana arah hubungan itu.
Dengan langkah gontai Marsella menuju mobil ayahnya. Dokter Kusbandono bisa melihat betapa kosong anaknya ini. Marsella segera memasang sabuk pengaman tanpa bicara apapun dengan ayahnya dan kemudian matanya memandang kosong ke depan.
Sepanjang perjalanan begitu dingin suasana di dalam mobil jadul tersebut. " Tumben kamu diam saja sama Papi?" Dokter Kusbandono menoleh ke anaknya yang masih tidak merespon pertanyaannya, "Apa laki-laki itu pilihanmu?"
Kali ini Marsella memandang datar ke ayahnya.
"Papi harap kamu menjaga nama baik yang sudah Papi bangun bertahun-tahun. Papi mengharapkan cucu darimu, hanya saja berpikir lah sebelum memilih. Setidaknya lihatlah status Papimu ini dan tentu dirimu sendiri!"
__ADS_1
Marsella kembali memandang kosong ke depan. Perkataan ayahnya justru semakin membuat rasa bersalah terhadap laki-laki yang diharapkannya itu.
Sesampainya di rumah, Marsella segera menuju ke kamarnya. Dilewatinya ibunya tanpa memberi salam.
"Sayang kamu sudah makan?"
Melihat putrinya tetap berlalu tanpa menjawab membuat dokter Laksmi menoleh ke arah suaminya yang berjalan pelan menuju ke arahnya.
"Pi?.."
Masih dalam posisi berdiri dan kebingungan akhirnya dokter Laksmi beranjak menuju dapur. Mau bagaimana hidup bertahun-tahun dengan suaminya yang sangat keras kepala tentu dia paham satu dua kata dan ekspresi suaminya jika suasana hatinya tidak baik. Ditambah sifat itu diwarisi oleh putrinya membuat dokter Laksmi lebih memilih mengalah agar atmosfer di rumah selalu dalam keadaan sejuk.
Dokter Laskmi meletakkan cangkir berisi kopi tanpa gula di meja di depan suaminya yang sedang dalam posisi duduk merenung.
Mata tua itu memandang istrinya yang 12 tahun lebih muda darinya.
__ADS_1
"Anakmu sepertinya menyukai seseorang."
Dokter Laksmi tersenyum mendengar perkataan suaminya, " Semoga Sella bisa cepet nikah...Mami pengen sege..."
"Dia tukang ojek,ojek online."
Dokter Laksmi hanya bisa memandang terkejut ke arah suaminya yang sedang menyeruput kopi buatannya. Dia lebih memilih berdebat dengan pikirannya sendiri daripada mengucapkan sepatah kata yang dia takutkan justru memperkeruh keadaan. Dia paham betul jika kondisi suaminya seperti ini akan sulit mengatakan sesuatu yang
membantah pikirannya.
Setelah meminum beberapa teguk kopi buatan istrinya dokter Kusbandono bangkit berjalan menuju kamarnya di lantai 2. Ditinggalkan istrinya sendirian yang masih duduk dalam kondisi bengong.
"Sella mami boleh masuk sayang?"
Dokter Laksmi menghela nafas panjang setelah menunggu beberapa saat tidak ada respon jawaban dari dalam kamar yang terkunci.
__ADS_1
Marsella merasakan sesak di dadanya. Dilihatnya Hp nya terus-menerus menunggu jawaban WA permintaan maafnya ke Fero. 3 kali dia menelepon namun Fero tidak mengangkat telpon nya. Pipinya kini telah basah oleh air mata yang mulai mengering.