
Marsella mendekap erat punggung Fero di sepanjang jalan menuju ke klinik. Keheningan perjalanan tersebut membuat Fero merasa serba salah. Apalagi Marsella memeluk begitu erat seakan tidak rela membiarkannya pergi.
'Sekali saja aku minta sekali saja. Kalau memang dia wanitaku. Aku...Uhftffuhhh'
Fero merasakan kali ini Marsella mencium punggungnya. Diperlakukan seperti itu membuat desir jantung Fero tiba-tiba berdenyut cepat. Logika kurang percaya dirinya berubah dengan pengandaian penasaran dan sedikit liar.
"Sell sudah sampai klinik. Mari pulang!Sudah malam ntar ayah dan ibumu kuatir?"
Setelah beberapa detik menunggu akhirnya Marsella melepaskan pelukannya.
"Iya Mas."
Marsella berdiri di samping Fero yang masih di posisi duduknya. Fero mengamati wajah Marsella tidak seceria sebelumnya seperti orang kehilangan harapan sambil menyerahkan helm kesayangan Fero.
"Mana senyumnya?", kata Fero sambil menyentil hidung tipis Marsella.
Marsella membalas sikap Fero dengan senyum datar. "Aku pulang dulu Mas."
Fero menghela dalam hati melihat tingkah wanita yang sekarang seperti mengacuhkannya seolah tidak terjadi apapun tadi.
__ADS_1
'Kenapa harus wanita seperti ini yang justru terbayang di setiap hembusan nafasku????'
Fero masih duduk di atas motor dengan tangan memegang helm, sementara pandangan matanya mengarah ke mobil mungil yang tak kunjung bergerak bahkan pintu kemudi belum juga tertutup.
'Fuhhhhhh!'
Dengan rasa malas dan bingung Fero menghampiri mobil bernuansa dingin dengan pintu masih terbuka itu.
Kurang atau bisa dikatakan tidak memiliki pengalaman akan dunia percintaan membuat kepekaan Fero terhadap perasaan wanita sedikit terbelakang. Fero melihat Marsella seperti patung membisu duduk di belakang kemudi yang kemudian dengan perlahan menoleh ke arahnya seperti pemeran film hantu yang sedang menoleh korban nya begitu dingin, datar dan nyaris tanpa ekspresi.
' Ya Tuhan!Bagaimana ini...'
"Sellaku!Keras kepalaku, sudah larut. Ayo pul...!"
Diperlakukan Fero seperti itu tiba-tiba Marsella meraih leher Fero dengan kedua tangannya.
Dua bibir yang masih beraroma soto itu sekarang melekat bak amplop dan perangko. Rasa soto bercampur air liur membuat Fero makin tergiur. Fero begitu terkejut, kelembutan dan kekenyalan bibir Marsella nyatanya jauh lebih nikmat daripada sepotong babat, membuat celananya hangat dan terasa ketat, matanya gelap otaknya sekarat.
"Sell!Mmm."
__ADS_1
Fero berusaha meronta manja melepaskan ikatan bibir yang hampir membuatnya kehilangan akal dan pikir. Tetapi Marsella kembali menyerang dengan garang membuat Fero tanpa sadar sedikit mengerang.
"Ohhh."
Mata Fero terbelalak saat lidah Marsella menyapu rongga mulutnya. Fero pasrah dan hampir kalah ketika telaga nafsu mulai menenggelamkannya. Namun akhirnya Fero tersadar dan berenang paksa ke tepian logika. Diraihnya kepala Marsella dengan kedua tangannya dan secepat kilat diciumnya kening yang basah oleh gairah asmara. Seketika nafsu membara berangsur surut penuh cinta. Begitu dalam dan semakin dalam Fero mencium kening Marsella.
"Sella!"
Marsella menatap berkaca ke arah mata yang terpancar dalamnya cinta.
Sekali lagi Fero mencium kening itu, Marsella menunduk memejamkan mata menikmati dengan segenap hati bibir lelaki yang kini dicintai. Hatinya damai benar benar damai penuh harap dan terasa berat oleh cinta yang meluap-luap.
Fero menutup perlahan pintu mobil saat mata wanita pertama yang dia yakini benar-benar dicintainya masih terpejam dalam fantasinya.
Marsella segera membuka kaca mobil saat tersadar bibir itu tak lagi di kening.
Fero berdiri tegak dengan kedua tangan di saku jaket beradu pandang dengan mata yang berharap manja.
"Pulang ya sayangku!Sudah malam."
__ADS_1
Marsella mengangguk bahagia dan segera memutar mundur mobilnya.