
Marsella baru jalan beberapa meter meninggalkan tempat ngopi tadi saat telepon masuk meminta untuk segera dijawab.
"Halo mi ada apa?"
"Mami baru sampek sekarang mami dan papi ada di tempat makan kesukaanmu. Kamu ke sini ya sayang!"
Sehabis menjawab Marsella berbegas menuju tempat yang dimaksut ibunya. 3 hari dirinya sendirian di rumah meski Marsella sedang tidak terlalu baik dengan ayahnya namun ibunya adalah figur yang lain.
Tempat yang dimaksut sebenarnya adalah tempat makan biasa. Jualannya hanya nasi goreng namun dimasak dengan menggunakan tungku. Marsella begitu menyukai tempat ini karena tempat ini begitu legendaris bisa dibilang sejak ayahnya masih muda sampai Marsella umur sekarang nasi goreng Pak Gombloh masih tetap eksis dan bahkan semakin ramai karena kesan legend nya
Penjualnya sekarang anak Pak Gombloh tapi ketika Marsella dan keluarga datang tentu sambutan dan candaan anak Pak Gombloh sangat hangat mengingat Pak Kusbandono adalah langganan setia di warung mereka dari jaman ayahnya masih memulai karir di pernasigorengan sampai sekarang. Pernah pada suatu ketika dan bisa dibilang sering kalau ada acara di rumah sakit mereka selalu memesan nasi goreng, mie atau capcay dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Mas Didik yang biasa ya!"
__ADS_1
Marsella segera duduk di samping ibunya dan segera mencium pipi ibunya tersebut. Terlihat antrian yang begitu luar biasa selain pembeli yang datang untuk makan juga nampak di luar beberapa ojol ada yang berjongkok, merokok bermain hp di depan parkiran motor. Beberapa sedang menunggu pesanan dibuat beberapa masih menunggu kebaikan operator membagi rejeki.
Pak Didik anak Pak Gombloh tidak sendiri, tungku untuk memasak berjumlah 6 dan dibantu istri serta 2 orang karyawan membuat meskipun antrian ramai namun pelayanan masih bisa terkendali sehingga tidak membuat pelanggan kecewa.
Banyaknya kendaraan yang parkir baik mobil maupun motor serta pencahayaan yang dibuat agak remang di sekitar pelataran namun terang di dalam membuat orang diluar begitu leluasa menikmati pemandangan dan keindahan mereka yang makan di tempat, sedangkan mereka yang sedang berada di dalam agak susah mengenali seseorang yang berada di luar terutama di sekitar tempat parkir atau tempat para pencari rejeki sedang bergerombol.
Fero yang berkali-kali mengoceh dalam hati karena ketika orang tua Marsella datang dan dia sedang mengantri pesanan bersama para ojol lain sekarang lebih ekstrim lagi dalam ocehannya. Hal ini karena dia melihat Marsella yang tidak terlalu lama sejak orang tuanya datang sekarang turut bergabung dengan mereka.
Fero bisa melihat bagaimana keluarga dokter itu berada di tempat duduk VVIP alias tepat di belakang penjualnya sambil mengamati bagaimana sebuah tungku bisa menghasilkan nasi goreng yang begitu ramai.
"Dik kapan undangan nya ini?" kata Mas Didik mengagetkan Marsella.
Mas Didik memang sudah terbiasa memanggil Sella adik mengingat memang secara usia lebih tua Mas Didik dan ketika masih kecil dulu saat Mas Didik membantu ayahnya, Marsella kecil yang sering diajak makan di situ jadi akrab seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
"Doakan ya mas! semoga Sella segera ada yang mau."
"Lah! Kok bisa bilang ada yang mau. Cantik begitu harusnya banyak yang ngantri."
Marsella hanya diam mendengar pernyataan tersebut, sementara Mas Didik masih sambil membelakangi Marsella asik dengan 6 tungkunya.
"Yah jodohnya belum datang mas. Mau gimana lagi." kata Marsella begitu pilu diiringi tatapan sedih ibunya, sementara dokter Kusbandono hanya bisa menunduk tak mampu berkata.
Mendengar Marsella begitu sedih Mas Didik berbalik sambil menepuk dadanya, " Tenang mas mu ini kalau berdoa soal jodohkan seseorang biar cepet kawin biasanya mujarab lo."
Marsella tersenyum terhibur mendengar tingkah lucu pedagang nasi goreng yang tubuhnya terselimuti lemak dengan sempurna itu. Saat Marsella dan dokter Laksmi sedang tertawa atas sikap mas Didik tiba-tiba Marsella terdiam terkejut saat salah satu karyawan berteriak keras menyebut nama seseorang.
"Pesanan Feroooooo!Ferooooo!!"
__ADS_1