
Rendi memandang santai sambil mengendarai mobil buatan Jepang berwarna hitam metalik. Dirinya menikmati setiap hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Sesekali dilihatnya pedagang kaki lima di pinggiran jalan yang menggelar dagangannya. Agak lama dirinya tidak menikmati makanan di tempat seperti itu.
Jantung Rendi seperti berhenti berdetak sesaat saat mata terkesan lelah memandang wajah yang tidak asing baginya. Meskipun telah melewati, namun daya ingat Rendi begitu kuat dan jelas. Terlihat begitu bahagianya Marsella yang sedang duduk di kursi yang terbuat dari plastik dan sedang memegang sepiring makanan. Bukan piring maupun gerobak penjual nasi goreng yang menjadi titik fokus Rendi. Melainkan ekspresi Marsella yang terlihat bahagia melihat pria yang duduk tepat di sebelahnya.
"Jadi..."
Rendi hanya bisa tersenyum kecewa, tentu masih ingat dalam ingatan Rendi siapa laki-laki di sebelah Marsella meskipun baru bertemu dua kali dengannya.
Sementara itu, Marsella masih memandang Fero yang belum mendapatkan pesanannya karena Fero memesan mie goreng. Marsella tetap memandang meskipun pria di sebelahnya nampak membuang muka seolah tidak memandangnya. Fero yang terus dilihat merasa tidak enak mengacuhkan wanita yang menjengkelkan di sebelahnya.
"Cepat dimakan!Katanya tadi lapar keburu dingin."
Marsella tersenyum mengangguk dan segera menikmati hidangan sederhana di tempat sederhana itu.
Fero hanya bisa tersenyum dalam hati melihat wajah polos Marsella.
__ADS_1
'Kenapa orang ini bisa berubah begitu cepat, seperti memiliki kepribadian ganda saja?'
Fero seperti lupa saat dirinya merasakan sakit atas penghinaan Marsella. Hatinya merasakan perasaan sayang begitu dalam lagi saat menatap wajah manis yang sedang melahap acar dan krupuk udang.
'Eh! La aku juga ngapain jadi begini? Hahh ternyata sama saja, hahahahaha.'
Fero yang telah mendapatkan mie gorengnya sekarang mengalihkan perhatian pada piring di tangannya. Saat baru beberapa suapan, Fero tersenyum memandang rambut wanita yang masih merasa lapar dan mulai mengganggu mie goreng di tangannya.
"Mas pesankan lagi kalau masih lapar?"
Dengan mulut penuh mie Marsella menggelengkan kepala, "Ummm, mmdakh emmSella mmau mmspiring samma mmmass."
Pipi Marsella yang menggelembung karena penuh mie dan tingkah manjanya ditambah sekarang tidak peduli apa pikiran Fero justru kembali terbenam memakan mie goreng yang terlihat mulai menipis di piring dalam pegangan Fero. Fero hanya celingukan memandang ke beberapa pembeli yang sekarang membuang muka melihat Fero mulai memandangi mereka padahal tadi mereka terlihat menatap tajam ke arah Marsella dan Fero. Fero sekarang merasa malu saat temannya Sobari penjual nasi goreng terlihat sibuk dengan racikan nasgor tapi mulutnya terlihat bergerak tanpa suara membentuk kata, 'Cie..cie..cie'
'Assemm nih Sobari...'
__ADS_1
Saat sudah selesai dengan Sobari sekarang Fero dikejutkan dengan isi piringanya yang terlihat kosong hanya tertinggal satu cabai di sana. Dan Marsella terlihat tak bersalah memandang Fero dengan wajah manjanya.
"Mas sih dak segera makan, kukira dak mau jadi kuhabiskan, hehehehe."
Fero yang tidak habis pikir hanya bisa terbengong melihat Marsella.
' Ya Tuhan ini wanita apa bukan? Dan kenapa aku bisa nurut kayak orang **** begini? Arrrgghhhhhhhhhhhhhhhh'
"Hahahahaha...hahahaha dak papa mas sudah makan sebenarnya tadi."
'Makan angin sama gorengan, hikss' tangis Fero dalam hati.
"Kalau begitu mas anter pulang sekarang sudah malam sebaiknya kamu istirahat!"
Marsella melihat ke arah ponselnya, "Masih jam setengah sepuluh mas. Sella mau nonton film di bioskop?"
__ADS_1
'Woootttttttt bioskop gundulmu. Duh Gusti ini orang apa batu kok dak ada hatinya begini!!?'
"Eh anu begini Sell. Sebaiknya kita nontonnya besok saja, soalnya mas dak enak sama orangtuamu kalau malam-malam. Kuharap Sella bisa mengerti! Besok kita nonton yang jam sore atu siang kalau Sella dak repot?"