
'Kebahagiaan apa ini?'
Marsella begitu bahagia, angin yang berhembus menerpa tubuh dan masuk ke sela-sela helmnya menimbulkan sensasi baru serta bau emisi yang Marsella benci menghadirkan kisah tersendiri. Hal ini tentu karena pria di depannya. Selama perjalanan Marsella trus menatap punggung itu meski tangan mereka tak lagi saling menyentuh namun Marsella tak ragu melingkarkan tangan ke perut Fero.
Fero yang biasanya komunikatif terhadap penumpang kali ini merasa seperti kehabisan kata-kata dan sesekali menunduk melihat tangan itu, iya tangan yang menyentuh perut sebelah kanannya.
Kembali ke Marsella yang seperti mengumpulkan keberanian, watak ke kanak-kanakan dirinya selalu merasa ingin memiliki apa yang dia suka dan selalu bertindak agresif apalagi menyangkut suka dengan seseorang. Tangannya tidak terasa semakin erat memegang perut Fero. Namun sisi lain batinnya yang merupakan salah satu sisi terkecil sikap dewasa nya membuatnya mengendurkan pegangan tangan itu. Flashback kisahnya saat mengejar Rendi,Yansen dan beberapa orang yang dia suka menegaskan bahwa kali ini dia membutuhkan cinta yang tulus,sejati bukan cinta monyet dan mendambakan seseorang yang tulus membutuhkan kehadirannya dan bersungguh-sungguh mengejar dan mengharapkannya bukan seperti yang lalu-lalu.
Sementara Fero sesaat merasakan tangan Marsella mencengkeram erat dan kemudian mengendur dan seperti bergerak pelan ditarik mundur secara refleks tangan kiri Fero memegang tangan kanan Marsella yang hendak ditarik. Perasaan Fero mengatakan bahwa dirinya tidak ingin kehilangan tangan ini. Jangan sampai wanita ini menjadi Annisa kedua yang memilih mundur karena dirinya terlalu pasif.
Marsella terkejut untuk kedua kalinya. Hatinya bahagia benar-benar bahagia. Marsella merasa baru kali ini ada laki-laki yang benar-benar mengharapkannya. Marsella mendekatkan badannya ke punggung Fero dan menyandarkan kepalanya.
"Dokter sudah makan?"
"Sella saja mas, jangan panggil aku dokter!
__ADS_1
Keduanya kemudian diam tapi saling memahami.
Fero menjalankan motornya dengan pelan berharap perjalanan ini akan berlangsung lama dengan seseorang yang sama.
'Jika memang dia yang selama ini kucari, apakah Tuhan tidak terlalu berlebihan. Sedangkan aku hanya....'
Fero menoleh sedikit ke arah kepala yang bersandar itu karena mendengar Marsella menyampaikan sesuatu.
"Mas, maafkan sikapku kapan hari itu. Aku..."
Karena motor berjalan pelan dan jalanan tidak begitu ramai Fero mendengar sesuatu yang membuat Marsella malu. Fero hanya tersenyum dan segera mengarahkan motornya ke tempat makan terdekat yang dia lewati.
Fero memilih tempat makan yang tidak pernah dia singgahi selain jarang mendapat orderan di situ harga makanannya bisa dibilang menakutkan bagi orang seperti Fero namun begitu ini adalah pengalaman pertamanya mengajak makan orang yang benar-benar dia harapkan dan mengingat betapa mewahnya rumah itu membuat Fero mau tak mau harus menimbulkan kesan pertama yang baik.
"Sell!makan dulu ya biar ndak sakit"
__ADS_1
Marsella mencubit pelan perut Fero karena merasa malu. Marsella tentu menyadari Fero mengajaknya makan karena mendengar suara perutnya tadi.
"Ihhh mas Fero aku jadi malu"
Fero berbalik menatap wajah berwarna coklat yang sekarang nampak agak memerah karena malu.
"Malu kenapa?Sella bilang kan tadi kurang enak badan sebelum ke klinik makan dulu takutnya ntar jadi sakit. Lagian aku juga belum makan".
Sella menatap wajah tampan itu sambil tersenyum kemudian dia menoleh sebentar ke arah rumah makan.
"Makan di rumah makan Padang dekat klinik saja yuk. Enak tempatnya dan dekat"
Marsella tidak mau menyinggung pria yang sekarang mengisi hatinya. Tapi Marsella tahu benar rumah makan seafood di depannya termasuk rumah makan kalangan menengah ke atas. Marsella bisa melihat Fero adalah pria yang gentlemen namun dia tidak ingin membuat Fero malu saat nanti membayar makanannya karena harganya yang tergolong mahal.
Fero menggangguk tersenyum.
__ADS_1