
"Kau!! Ngapain datang ke klinik saya? Mana tidak sopan di dalam ruangan memakai helm. Kalau tidak salah lu ojol yang kemarin nganter pesenan kemari kan?Sudah tepat aku memberimu bintang 1. Memang tidak ada sopan santun dan kapoknya kamu ini!"
Bentak wanita itu sambil jari telunjuknya mengarah tidak jauh dari wajah Fero.
Fero yang dari tadi matanya tidak berkedip karena ada getaran lain di hatinya seketika berubah karena kata-kata wanita itu menyadarkan dirinya dan segera berdiri
"Jadi kamu ternyata yang melakukannya? Maaf mbak Karin aku sudah berpikir buruk kepadamu."
Karin mengangguk pelan tanda memaafkan, dan Fero kemudian mengalihkan pandangan ke Marsella. Wanita itu iya memang Marsella, Sp.KK. Dokter pemilik klinik tersebut.
"Apa yang kau lihat? Dasar ojol tak tau diri kamu!"
Fero memang cukup tinggi, dengan tubuh 182 cm namun pandangan matanya dengan Marsella tidak jauh ke bawah karena selain memakai sepatu hak tinggi, Marsella sendiri memiliki tinggi 176 cm.
'...Wanita ini!!! Tapi kenapa tadi jantungku sempat berhenti ketika melihatnya?'
__ADS_1
"Baik sekarang aku tau sumber masalahnya, seperti kata Anda saya akan meminta maaf perihal saya tidak sopan dan memakai helm."
Sambil berkata demikian Fero melepaskan helmnya. Bersamaan Fero melepas helm seolah ada cahaya matahari yang menyinari masuk ke mata orang-orang yang melihatnya, termasuk Marsella. Begitu silau.
Marsella, pegawainya dan pengunjung yang dari tadi tidak terlalu memperdulikan Fero sekarang terlihat mata mereka tak berkedip serta mulut yang terbuka lebar seolah membentuk huruf O.
'..Ya Tuhan..'
'..Astagaaaaa...'
Itulah beberapa kata hati mereka ketika melihat wajah si babang tamvan ini. Namun Marsella hanya mematung seolah waktu berhenti, dia tak tahu ada rasa aneh di hatinya begitu indah dan tubuhnya terasa amat lemas.
"Saya sudah meminta maaf soal ketidaksopanan saya. Sekarang saya mau tanya untuk komentar Anda yang lama dalam mengirim. Seharusnya kalau Anda dokter dan dokter tentu orang yang pintar bukan? Logika Anda tentu tau? Tidak mungkin saya berlama-lama sedangkan saya hanya menunggu dan mengantar. Kalau pihak resto belum selesai dengan masakan yang saya pesan bagaimana saya bisa segera mengantar. Selain itu, ketika saya konfirmasi bahwa Anda bersedia menunggu karena banyak antrian Anda mengatakan mau menunggu."
Dengan raut muka penuh emosi yang ditahan Fero membuyarkan lamunan Marsella dan yang lain.
__ADS_1
"Eh itu!! Terserah saya!! Saya pelanggan dan pelanggan bebas saya yang bayar emang kenapa?", jawab Marsella dengan terbata dan masih menunjukkan sikap angkuhnya meski ada perasaan lain yang dia tidak paham ketika mengatakannya.
"Hmm!! Baik saya paham orang seperti Anda ini, saya akan maklum karena saya memang cuma ojol". Ketika Fero mengatakan dirinya cuma ojol hati Marsella seperti terasa sakit dan ada penyesalan yang sebenarnya itu bukan karakter dia yang biasanya.
"Tapi untuk komen Anda saya melecehkan?Maaf saya tidak bisa terima. Saya meskipun cuma ojol tapi seumur hidup saya tidak pernah saya melecehkan wanita baik secara verbal maupun fisik. Bahkan saya belum pernah sekalipun menyentuh wanita selain ibu dan adik saya. Anda sebagai orang terpelajar bagaimana bisa membuat kebohongan semacam ini? Dan gara-gara komen Anda ini selain saya tidak bisa lagi bekerja nama baik saya tentu hilang dan untung pihak kantor tidak bertindak lebih jauh mengusutnya. Jika aplikator melaporkan ini ke pihak berwajib bagaimana nasib saya dihukum atas sesuatu yang tidak saya lakukan.
"Saya tidak bohong, Karin yang bilang ke saya kalau dilecehkan. Iya kan Karin?"
"Tap,tap,tapi dok sa, saya kan."
"Sudah mbak Karin jangan diteruskan, saya sekarang tau orang macam apa wanita ini, maaf sudah berpikir jelek dan mengganggu waktu mbak."
Fero menghela nafas panjang sebelum berbalik keluar dari klinik tersebut. Karin segera kembali ke meja resepsionis sementara teman-temannya segera berpura-pura melakukan aktifitas kembali. Pengunjung yang dari tadi mengamati Fero masih tidak percaya ada ojol setamvan itu sedangkan Marsella masih berdiri mematung memandang punggung laki-laki yang membuat perasaannya menjadi aneh.
"Kenapa?", batin Marsella lirih.
__ADS_1