
Karin,Emma pontang-panting kuwalahan menghadapi banyaknya pasien yang datang ke klinik. Entah mengapa ketika dokter empunya klinik tidak datang pasien justru 2 kali lipat dari biasanya. Diantara para pegawai klinik Derma Aesthetik bisa dikatakan Karin dan Emma sebagai senior. Ada lagi paling senior mbak Yulia dan Jeni tapi masih cuti melahirkan untuk Yulia dan Jeni ijin sakit sisanya bisa dibilang masih perlu bimbingan sehingga hari ini sungguh hari melelahkan bagi mereka.
"Haduch Emm, kayaknya kagak sanggup rasanya lelah banget mana perut lapar lagi"
"Gantian Rin, kamu makan dulu aku nitip saja terserah kamu mau beli apa soalnya hari ini lupa kagak bawa bekal".
Tanpa memperdulikan Emma menyelesaikan kalimatnya Karin segera keluar menuju rumah makan Padang di samping klinik. Rasa lapar dan lelah membuat langkah Karin begitu cepat. Namun sesampai di rumah makan nafsu makan Karin mendadak menghilang. Karin melihat dokter Marsella dan Fero duduk bersebelahan. Keduanya makan bersama dan sesekali saling tersenyum dan terlihat bahagia.
"Karin sini". Marsella melambaikan tangan ke arah Karin.
Karin berjalan mendekat dengan perasaan dipaksakan. Fero tersenyum canggung melihat Karin, namun begitu di hati Fero, Karin baginya sudah seperti adiknya. Selain itu, Fero tidak ingin mengkhianati perasaan serta tidak ingin menjadi pelarian hubungan seseorang.
"Hai rin!"
__ADS_1
"Hai kak! Ya dokter katanya sakit?Pasien banyak sekali dokter saya dan Emma bener-bener kuwalahan"
Marsella menengok sekilas ke arah Fero sambil tersenyum, "Iya rin maaf ya tadi badanku kurang enak. Trus aku minta tolong sama si Mas buat nganter. Habis makan ntar ke klinik kamu cepet makan sama belikan temen-temen juga ntar aku yang bayar!".
Karin menjawab pernyataan itu sambil menunjukkan ekspresi ceria khas Karin tetapi Fero merasa kali ini terkesan sedikit garing dan Fero tahu mengapa.
Marsella maupun Fero memahami kondisi Karin tapi mereka juga mengerti bahwa hati mereka sekarang saling terikat meskipun belum tersampaikan kata pengikat diantara keduanya.
"Karin masih memiliki seseorang hanya saja hubungan mereka sepertinya renggang. Pekerjaanku tukang ojek ketika Karin memintaku mengantarkan pulang-pergi kerja kuanggap itu sebagai sebuah pekerjaan tidak lebih."
Fero terdiam mendengar Marsella berkata demikian. Tujuannya tadi sebenarnya ingin menegaskan bahwa dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Karin selain teman dan kerja. Tapi sekarang betapa beratnya menjawab pertanyaan Marsella. Pernyataan Marsella justru membuat Fero mengingat status dan posisinya. Satu sisi hatinya mengatakan bahwa kamu lah wanita yang
kutunggu tapi sisi hatinya yang lain begitu terpuruk mengetahui kondisi nya jika dibandingkan wanita di hadapannya. Terlalu jauh bagai bumi dan langit.
__ADS_1
Marsella masih tertahan dengan tatapan sendu menunggu pria di hadapannya memberikan sebuah kalimat yang menyegarkan telaga hati yang lama kering.
"Aku menunggu seseorang dan aku merasa jika dia juga menungguku. Tapi perbedaan kami begitu jauh"
Dada Marsella terasa sakit mendengar kata-kata Fero. Marsella sebenarnya bahagia tapi saat Fero mengatakan hal tersebut seolah dirinya berada pada posisi Fero dan merasakan apa yang dirasakan Fero.
Saat Marsella hendak berusaha mengatakan sesuatu, Karin dengan ekspresi riang menghampiri meja keduanya.
"Dokter saya balik ke klinik dulu,ini bungkusan dokter yang traktir ya hehehehe".
"Eh iya Rin, kamu gak makan di sini saja dulu?"
"Ah ndaklah dokt takut mengganggu dokter sama kak Fero hihihi".
__ADS_1
Mendengar kata-kata Karin keduanya bak maling tertangkap basah.