Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Telepon dari Adik


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 8 malam. Fero begitu terlelap di depan televisi sampai ibunya membangunkan nya, "Kak sudah malam. Ayo bangun dulu makan."


Pandangan Fero masih setengah sadar antara alam mimpi dan kenyataan. Setelah wajah ibunya nampak jelas baru kini pikirannya kembali berputar. Fero mengatur posisi duduk bersila dan dilihatnya dia masih dalam pakaian dinas lengkap, jaket,celana jeans penutup mulut di leher semua masih menempel di tubuhnya.


Bu Rosida berjalan mendekat membawakan segelas teh hangat untuk putranya. Dilihatnya Fero hendak mengangkat telpon.


"Iyaa dik Kakak tadi ketiduran. Tumben kamu telpon Kakak kukira sudah lupa sama kakakmu soalnya sudah ada yang jagain?Hahahahaha."


Bu Rosida tersenyum mendengar percakapan Fero dan pasti dengan adiknya Friska. "Kenapa dengan adikmu Kak?"


"Halah ini Mi,putri kesanyanganmu telpon Kakaknya pas minta transferan." Fero menyerahkan telpon di tangannya kepada ibunya setelah beberapa kali menggoda adiknya.


Fero sesekali tersenyum mengamati ibunya yang sedang berbincang dengan adiknya. Meskipun posisi berdiri nya di luar rusun namun jarak pintu ruang tamu dan teras depan rusun hanya sekitar 1 meter sehingga Fero leluasa mendengar obrolan bahagia ibunya dan matanya memandang pada tetangga yang sedang beraktifitas dan sesekali bertemu senyum dengannya.

__ADS_1


Fero menoleh ke arah tangga bawah rusun saat melihat ayahnya hendak naik membawa alat pancing dan beberapa ikan di tangan. Ayahnya sekarang memang memiliki hobi baru memancing.


Fero tersenyum di dalam hati melihat ayahnya. Fero sekarang mendongak ke atas melihat langit penuh berbintang karena struktur bangunan rusun berbentuk seperti seperti roti donut kotak lubang di tengah. Hatinya berpura-pura gembira berusaha melupakan wajah itu. Rasanya begitu malu bagi Fero seperti kenangan Annisa dengan orangtuanya yang tidak mengharapkan dirinya seakan terulang kembali.


Fero sebenarnya tahu Marsella menghubungi nya. Terlihat beberapa kali panggilan masuk maupun WA yang sempat dilihat sebelum adiknya menelepon tadi.


Bu Rosida segera menyambut suaminya yang membawa beberapa tangkapan ikan di tangan.


"Kak!Ada telepon untukmu. Siapa ini Marsella?"


Fero menunggu sebuah kata yang begitu lama ditunggu.


"Mas.."

__ADS_1


Fero hanya bisa menghela nafas mendengar sebuah nada yang membuatnya serba salah.


"Maaf tadi aku ketiduran dan tadi adikku telpon. Jadi belum sempat balas WA dokter."


"Mas kenapa panggil Sella dokter lagi?Sella benar-benar minta maaf soalnya tadi..."


Fero memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong sebelum tersenyum kembali menjawab telepon itu.


"Jangan meminta maaf lagi. Dokter tidak salah, diriku yang salah tidak sadar akan kondisiku. Hanya saja syukur karena kejadian tadi, sekarang saya sudah sadar kembali."


Marsella tidak mampu menahan air matanya. Kata-kata Fero menghempaskan seluruh jiwanya. Tubuhnya merasa lemas dan tak mampu berucap. Hanya isak tangis yang tertahan terdengar di seberang telepon.


Mendengar isak tangis yang terdengar samar membuat Fero terkejut. Baru kali ini pengalaman Fero mendengar wanita selain ibu dan adiknya menangis.

__ADS_1


Kala itu ketika ayah Annisa memutuskan hubungan mereka di depan mata, Fero bisa melihat wajah tertunduk datar Annisa sehingga Fero merespon kekecewaan itu dengan datar pula. Tapi kali ini mendengar tangis dari seorang wanita yang sesungguhnya dia harapkan membuat Fero merasa ngilu di dada. Ingin rasanya menghampiri dan memeluk tubuh itu.


"Maafkan aku Sell..."


__ADS_2