Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Pekerjaan Om Bobby


__ADS_3

Ada yang berbeda dengan Om Bobby di kantor hari ini. Om Bobby yang biasanya terkesan dingin dan pendiam kini nampak lebih ramah. Wajahnya cerah dan sesekali senyum mengembang di wajahnya.


Karyawan Om Bobby yang biasa segan padanya kini berani menatap wajah bosnya yang terlihat lebih bercahaya tersebut. Om Bobby memiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang periklanan. Jam kerja Om Bobby lebih bebas, itulah mengapa Om Bobby suka berangkat siang dan pulang larut malam.


Baliho, billboard, videotron dan beberapa konten di aplikasi adalah contoh yang dikerjakan oleh perusahaan milik Om Bobby. Kaya? Tentu. Namun mengapa Om Bobby tinggal di rumah sederhana?


Om Bobby tak suka rumah yang terlalu besar. Ia merasa semakin kesepian tinggal di rumah yang megah. Semakin banyak ruang kosong di rumah membuatnya semakin merasa sepi. Om Bobby tak suka.


Kisah pahit masa lalunya yang terbiasa ditinggal Mamanya bekerja membuat Om Bobby jarang berada di rumah. Baginya, rumah itu adalah tempat ia pulang. Sayang, rumah terlalu sepi. Saat menikahi Lisa, Om Bobby sudah membeli sebuah rumah mewah dan bermimpi kalau ia akan memiliki banyak anak untuk meramaikan rumahnya. Sayang, Lisa sudah tiada. Rumah besar itu ia jual dan memilih membeli dua rumah berukuran sedang.


"Konsep iklannya monoton. Saya tak suka. Iklan yang akan kita buat adalah produk popok bayi. Buatlah senatural mungkin. Masa sih bayi lomba lari? Jalan saja masih suka jatuh. Terlalu mengada-ada. Buat iklan dimana bayi itu main mobil-mobilan atau berlarian di taman. Tolong revisi lagi!" Om Bobby menolak iklan yang diajukan oleh karyawannya. Meski hati sedang senang, namun jangan ragukan profesionalitas Om Bobby. Kalau tak sesuai ya ditolak.


Om Bobby melihat jam di pergelangan tangannya. Jam mewah yang harganya seharga mobil itu membuat lengannya yang ditumbuhi bulu halus terkesan keren. Baru jam 4 sore. Rasanya lama sekali bekerja, Om Bobby sudah kangen pulang.


Masih terngiang godaan Ariel tadi yang sempat membuat Joni memberi reaksi. Mereka akan lanjutkan lagi nanti malam. Tentunya setelah Galang tertidur pulas.


Galang ... ah, anak itu begitu pintar dan selalu memukau Om Bobby dengan tingkah lucu dan menggemaskannya. Rumah yang biasanya sepi kini menjadi ramai dengan suara rengekan dan tawa Galang. Baru membayangkannya saja Om Bobby sudah merindukan anak itu.


Om Bobby mengambil ponsel miliknya dan melihat apa yang Ariel dan Galang lakukan. Ariel nampak habis memandikan Galang dan kini sedang memakaikannya baju. Galang yang tak bisa diam serta kesana kemari tidak diomeli Ariel. Ternyata meski suka emosian dalam menghadapi orang, Ariel adalah sosok Ibu yang sabar dalam menghadapi Galang. Suatu hal positif di mata Om Bobby.


Tanpa sadar Om Bobby tersenyum sambil menatap ponselnya. Ariel yang mengajak bermain Galang dan membuat anak itu tertawa terbahak-bahak yang membuat Om Bobby tersenyum.


"Permisi, Pak. Beberapa model yang lulus casting sudah ada di ruang meeting. Bapak bisa memilih model mana yang akan dipakai untuk iklan alat kontrasepsi kita," kata karyawan Om Bobby memberitahu.

__ADS_1


"Oke. Saya ke sana sekarang." Om Bobby mematikan yang ia tonton dan pergi ke ruangan tempat biasa ia melakukan casting untuk para tenantnya.


Sudah ada beberapa perempuan cantik dengan pakaian yang seksi dan harum parfum yang menusuk hidung. Iklan alat kontrasepsi kali ini lumayan menggiurkan para model. Bayarannya besar dan durasi penayangannya juga sering. Selain mendapat uang yang besar, kemungkinan model tersebut semakin terkenal lebih menggiurkan.


Om Bobby masuk ke dalam ruang seleksi . Ia duduk di sebuah kursi kebesarannya dengan laptop yang menampilkan profil para model yang akan casting. "Panggilkan model pertama!" perintah Om Bobby pada karyawannya.


"Baik, Pak!" Karyawan Om Bobby keluar sambil menutup pintu ruangan.


Tak lama pintu ruangan diketuk. "Masuklah!" perintah Om Bobby.


Seorang model cantik dengan dress seksi yang menampilkan belahan asetnya yang menggoda masuk. Make up tebal yang menutupi wajah aslinya membuat Om Bobby mengerutkan keningnya.


"Sore, Pak," kata model tersebut yang sengaja agak membusungkan dadanya untuk menggoda keimanan Om Bobby.


"Perkenalannya secara resmi atau tidak, Pak?"


Om Bobby mengerti maksud perkataannya. Ia hanya ingin tahu saja apa yang akan dilakukan model tersebut demi uang. "Terserah," jawab Om Bobby.


Model itu mendekat ke arahnya. Om Bobby makin melihat tebalnya make up yang dikenakannya. "Namaku Kiky."


"Oke. Kamu pernah bekerja dimana?" tanya Om Bobby dengan ekspresi datar.


"Di salah satu perusahaan." Kiky makin mendekat dan duduk di pegangan kursi yang Om Bobby duduki.

__ADS_1


"Berarti belum ada pengalaman bekerja?" Om Bobby melirik ke arah Kiky yang kini bergelayut manja dengan mengalungkan lengannya di leher Om Bobby.


"Pengalaman bukankah bisa dicari? Aku siap belajar kok, Pak. Belajar yang lain pun aku siap." Tangan Kiky mulai menggoda Om Bobby. Ia mengusap dada Om Bobby sambil tersenyum menggoda. "Bapak mau bukti?"


Tangan Kiky mulai turun ke perut Om Bobby dan ingin menyentuh Joni. Entah mengapa Om Bobby malah tersenyum. Ia teringat nama yang Ariel berikan untuk aset miliknya. Joni. Bukankah nama yang sangat lucu?


"Bapak suka?" tanya Kiky yang salah paham. Ia pikir Om Bobby tersenyum karena menyukai sentuhan yang ia berikan.


"Apanya?" tanya balik Om Bobby dengan bersikap pura-pura tak tahu.


"Sentuhan saya. Apa ... Bapak mau saya memberi pelayanan yang lain? Saya jago loh memberi yang lain," kata Kiky dengan nada menggoda. Ia memainkan lidahnya dan bibirnya seakan memberi kode.


Om Bobby tertawa melihat sikap Kiky yang dinilainya bak ikan mujair yang megap-megap karena kehabisan air. "Kamu mau menggoda saya?" Om Bobby geleng-geleng kepala dengan ulah nakal Kiky.


"Bukan menggoda, Pak. Hanya ... memberi bukti kalau saya cocok memerankan iklan yang perusahaan Bapak tawarkan. Kalau Bapak tertarik, saya juga mau kok dibawa pulang," jawab Kiky sambil terus membelai Joni.


Om Bobby mengangkat tangan Kiky dan menjauhkannya dari Joni. Bukan apa-apa, tidak memberi pengaruh apa-apa untuk Joni. Hanya geli-geli dikit saja, tak akan mampu membuat Joni bereaksi. Sejauh ini, hanya Ariel yang berhasil.


"Tak perlu, terima kasih. Sayang sekali, kamu tak lolos iklan ini. Saya mencari model bukan wanita nakal yang suka menggoda macam kamu," kata Om Bobby dengan pedas. Tak ada lagi senyum di wajahnya, semua berganti dengan sikap tegas.


"Bapak ... tak mau mencoba sekali saja service dari saya? Saya kasih gratis deh karena Bapak ganteng dan selera saya. Mau ya?" bujuk Kiky sambil kembali mencoba menyentuh Om Bobby.


"Tak perlu. Kamu bukan tipe saya. Kurang nakal dan tak bisa membuat Joni tergoda. Keluarlah! Saya sibuk!"

__ADS_1


****


__ADS_2