Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Berjualan di Bazar


__ADS_3

"Itu loh, Kak-" Om Bobby cepat-cepat menutup mulut Prisa sebelum adiknya membocorkan rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Om Bobby tahu bagaimana kelakuan sang Mama selama ini, hanya saja Om Bobby menutupinya dan seolah tak peduli karena menganggap Mamanya juga butuh kebahagiaan.


"Itu ... teman Mama. Udah ya, enggak usah kita bahas lagi. Lebih baik, kita makan ayam goreng. Prisa, kamu belum pernah nyobain ayam goreng Sukabumi kesukaannya Galang bukan? Enak banget loh." Om Bobby melepaskan tangannya dari mulut Prisa dan langsung mendapat tatapan tajam dari adiknya tersebut.


Agar Prisa tidak membocorkan rahasianya lagi, Om Bobby lalu memanggil Galang dan tak lama anak itu datang. "Galang, mana Ayam gorengnya? Minta tolong Mbak untuk siapin agar kita bisa makan bareng!" kata Om Bobby seraya mengusap lembut kepala Galang. Anak yang sedang memakan paha ayam tersebut kembali berlari ke dapur dan melakukan apa yang disuruh oleh Om Bobby.


Prisa tertawa melihat ulah Galang. Baru sebentar mengenalnya saja sudah membuat Prisa menyukai anak menggemaskan itu. Pantas saja sang kakak amat menyayangi Galang, karena anak itu memang sangat lucu dan pintar serta tidak nakal seperti anak kecil yang ada dalam bayangan Prisa.


"Gimana Galang, kamu suka bukan dengan anak itu?" tanya Om Bobby.


"Suka banget. Lucu," jawab Prisa.


"Iya, lucu banget. Kakak saja langsung jatuh hati sama Galang. Yang akur ya, selama ini kamu kalau melihat anak kecil suka sebal soalnya," pesan Om Bobby.


"Kalau sama Galang berbeda dong. Galang lucu, menggemaskan dan tidak galak."


"Nah gitu dong. Baru adik Kak Robbie!"


****


Ariel menatap box container besar berisi keripik buatannya. Rupanya ia membuat banyak sekali keripik. Karena terlalu bersemangat, Ariel bahkan tak merasa lelah sama sekali. Mungkin beginilah rasanya kalau mengerjakan sesuatu dengan ikhlas dan menjadi hobby barunya. Semua jadi mudah dan menyenangkan.


Prisa ikut membantu. Anak itu hanya minta bayaran sebungkus keripik yang tentunya akan Ariel berikan dengan cuma-cuma. Pagi-pagi sekali Ariel sudah bolak-balik dari taman ke rumahnya dengan membawa banyak peralatan. Ia bersemangat sekali mau jualan hari ini.


Om Bobby juga ikut membantu sebelum berangkat ke kantor. Ia membawakan tenda, meja lipat dan kursi. Secara mengejutkan tiba-tiba Om Bobby mengeluarkan standing banner yang ia buat secara diam-diam. Tempat jualan Ariel menjadi lebih menarik perhatian dengan adanya standing banner buatan Om Bobby.


"Wow ... keren, Beb. Ini kamu buat sendiri?" tanya Ariel dengan mata berbinar-binar melihat standing banner bergambar dirinya. Terlihat cantik sekali.


...Keripik Kucin (Kuli Cinta) ala Mama Ariel. Rasanya enak, dijamin nagih!...

__ADS_1


"Slogan yang kamu buat ... gak nahan aku!" Ariel tertawa membacanya.


"Bagus bukan? Sebagai orang yang bekerja di bidang iklan, aku hanya bisa membantu masalah iklan saja. Yang lainnya, kamu usaha sendiri ya! Kalau kamu mau dibuatkan iklannya juga boleh sih, tapi harus siap semua mesin dan pekerjanya karena pasti laku banyak. Keripik Mama Ariel gitu loh!" kata Om Bobby dengan bangganya. Sejak mendengar kalau Ariel makin semangat mau maju, rasa kagum Om Bobby terhadap istrinya semakin meningkat.


Ariel memilih membuktikan kehebatannya dibanding memendam dendam yang tak berkesudahan. Ia ingin membalas sang Mama mertua dengan cara yang keren dan berkelas, bukan cara rendahan lain. Mungkin Om Bobby tak bisa membantu banyak, namun ia yakin istrinya sangat hebat dan pasti berhasil meski tanpa bantuan darinya.


"Terima kasih ya, Sayang. Nanti kalau usahaku sudah berkembang pesat, aku akan pakai jasa perusahaan kamu untuk mempromosikannya. Doakan usahaku berhasil ya, Sayang. Doa suami baik seperti kamu, pasti akan dikabulkan!" Ariel kembali tersenyum tulus.


"Tentu. Akan aku doakan kamu siang dan malam. Aku berangkat kerja dulu ya. Aku mau ke Tangerang, ada iklan dengan Ibu Ndari yang punya bisnis toko kue besar di sana. Aku pergi dulu. Good luck My Darling!" Om Bobby mengecup kening Ariel lalu Galang dan terakhir mengusap rambut Prisa dengan penuh kasih. "Bantu Kakak kamu ya!" pesan Om Bobby pada Prisa.


"Siap, Kak. Hati-hati di jalan!"


Ariel dan Prisa kembali menata barang dagangannya di atas meja. Galang yang pintar tidak lari-larian dan memilih duduk manis seraya membaca buku cerita bergambar yang Om Bobby berikan. Ada saja mainan dan hadiah untuk Galang dari Om Papa kesayangannya. Setiap melihat mainan yang menarik, Om Bobby akan teringat Galang dan akan membelikannya.


Galang menekan tombol bergambar sapi, tak lama lagu Old Mc Donald mengalun. Galang geleng-geleng kepala mengikuti alunan musik sambil tertawa kecil. Sikap menggemaskannya membuat Prisa yang curi-curi pandang ikut tertawa dibuatnya.


"Lucu sekali anakmu, Kak," puji Prisa.


Sedang asyik mengobrol, rupanya sudah ada beberapa ibu-ibu yang sudah melihat-lihat dagangan Ariel. Dengan sigap Ariel menyapa mereka. Senyum ramah Ariel membuat calon pembeli merasa disambut kedatangannya.


"Keripik Mama Ariel, Bu. Asli buatan Mama Ariel." Ariel menyodorkan toples berisi tester produk. "Silahkan dicoba agar tidak penasaran."


Ibu-ibu yang penasaran pun mencoba keripik buatan Ariel. Saat mereka mencoba, Ariel mulai promosi. "Enak bukan, Bu? Keripik ini dibuat dari bahan yang berkualitas. Minyaknya jernih dan baru, tidak membuat tenggorokan gatal. Bisa jadi teman untuk makan nasi juga."


"Berapa Mbak harganya?" tanya Ibu-ibu dengan baju yang bertabrakan warnanya antara atasan dan bawahan. Wajahnya sih cantik namun selera berpakaiannya agak tidak nyambung.


"Yang ini 40 ribu, Bu." Ariel mengangkat plastik keripik berukuran kecil. "Kalau yang ini 100rb."


"Wah, mahal juga ya?" komentar Ibu-ibu yang memakai baju branded namun kw.

__ADS_1


"Iya, mahal," kata ibu-ibu yang lain. "Kalau bikin sendiri bisa jadi banyak."


Ariel tiba-tiba jadi menciut nyalinya. Ia yang semula percaya diri kini menjadi down. Keyakinannya terhadap produk yang ia jual jadi hilang, hari masih pagi namun semangat jualnya mulai sedikit padam.


"Hush, jangan komentar di depan yang jual. Kalau mau beli, ya beli. Kalau tidak, jangan menjelekkan produk yang dijualnya," tegur ibu-ibu yang berbaju tak nyambung tersebut.


Tanpa sadar Ariel mengembangkan senyumnya. Ada yang membelanya, ia senang sekali.


"Mahal tau. Buat kita emak-emak mendang-mending pasti mikir buat beli kayak begini. Mending buat beli ayam deh dapat dua ekor daripada cuma jadi keripik doang," jawab ibu-ibu lain.


"Ya kalian beli ayam aja, ngapain nanya keripik?" balas ibu-ibu berbaju branded kw.


"Sudah ... sudah. Kalian lihat yang lain saja ya. Jangan mengecilkan hati Mbak yang lagi usaha jualan. Kalau bagi kalian harganya mahal, berarti kalian bukan target marketnya Mbak ini. Ada harga, ada kualitas," omel ibu-ibu berbaju tak nyambung.


Anehnya, ibu-ibu yang lain nurut saja dengan omongan ibu-ibu berbaju tak nyambung tersebut. Mereka yang tak mau membeli akhirnya pergi melihat jualan yang lain tanpa banyak kata.


"Mbak, saya mau yang 100rb hmm ... 10 bungkus ya!" pesan ibu-ibu berbaju tak nyambung.


Ariel terdiam di tempat. Rasanya tak percaya mendengar ada yang membeli produknya langsung 10. "Beneran, Bu?"


Ibu-ibu itu tersenyum. "Saya sudah coba rasanya. Enak. Tidak membuat tenggorokan sakit. Anak-anak saya pasti suka. Saya tidak bawa cash, bisa transfer saja?"


"Bi-bisa, Bu," jawab Ariel dengan cepat. Ariel pun memberikan nomor rekeningnya pada ibu-ibu yang berbaju tak nyambung tersebut. Prisa dengan sigap membantu Ariel membungkus pesanan tanpa diminta.


"Saya bayar cash saja." Ibu baju branded kw memberikan selembar uang 100 rb pada Ariel.


"Tetap semangat jualannya ya, Mbak. Jaga kualitas dan percaya pada produk yang Mbak jual. Mbak mau menitipkan keripik Mbak ke toko saya?"


****

__ADS_1


Siapa yang nungguin double up? Makanya like yang banyak, vote, gift dan komen. Kemarin sepi jadinya aku batal. Kalau kalian gak semangat, aku juga gak semangat nih. Ayo, like sampai 3000 ya baru aku double up 😁😁


__ADS_2