
Mama Tita langsung menatap Ariel dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Ia tak menyangka kalau wanita di depannya adalah istri dari anaknya. Rasanya tak mungkin, sama sekali bukan selera anaknya.
Mama Tita tahu bagaimana para wanita di perusahaan agensi milik anaknya yang terlihat sangat cantik dan menggoda saja tak ada yang mampu membuat anaknya mau menikahinya, melirik pun jarang, namun kenapa wanita di depannya yang terlihat biasa saja malah berhasil menjadi istrinya?
Timbul rasa curiga dan buruk sangka dalam diri Mama Tita. "Jangan-jangan wanita ini pakai pelet untuk menggoda anakku?" batin Mama Tita.
Mama Tita kembali menatap Robbie, anaknya. Rasa marah perlahan mulai menggantikan rasa terkejutnya. "Kapan kamu menikahinya? Kenapa tidak mengatakannya sama Mama terlebih dahulu? Kenapa tidak izin sama Mama sebelumnya?" cecar Mama Tita.
"Aku sengaja tak ijin sama Mama. Memangnya aku harus lapor dulu gitu sama Mama? Ini urusan pribadiku. Kayaknya, aku cukup memperkenalkan kalian saja deh. Aku hanya mencontoh apa yang Mama lakukan. Toh, Mama selama ini juga tak pernah memberitahuku kapan Mama akan menikah dengan laki-laki lain, eh tahu-tahu Mama membawa lelaki lain ke rumah ini dan tak lama lelaki tersebut sudah Mama tendang seenaknya," balas Om Bobby dengan pedas.
Ariel yang mendengarkan percakapan antara Ibu dan anak tersebut semakin bingung. Om Bobby yang tidak mau meminta izin Mamanya dan Mamanya yang ternyata sering menikah dengan laki-laki lain. Dua-duanya salah dan Ariel hanya bisa mendengarkan saja sambil bersiap menghadapi mertuanya yang terlihat sangat killer tersebut.
"Jangan membalas ucapan Mama!" tegur Mama Tita dengan gayanya yang terlihat berkelas dan anggun.
"Kalau Mama tak mau aku membalas ucapan Mama, maka jangan bandingkan Ariel dengan Lisa. Aku membawanya baik-baik ke hadapan Mama untuk kuperkenalkan sebagai istriku. Wajar kalau aku langsung tersulut emosi saat Mama membandingkannya dengan Lisa." Om Bobby merasakan rasa sakit yang Ariel rasakan. Terbayang lagi kata-kata Ariel semalam saat curhat dengan Prisa. Bagaimana sakitnya disamakan dengan seseorang yang sudah meninggal. Om Bobby tak tahan untuk tidak membela Ariel.
"Bisa tenang tidak sih? Kita sedang sarapan!" tegur Prisa dengan santainya. Ariel tertegun. Prisa masih remaja namun mampu membuat sang Mama yang terlihat anggun kini menutup mulutnya.
"Kita lanjutkan percakapan kita setelah makan!" kata Mama Tita pada Om Bobby.
Mereka kembali melanjutkan sarapan yang tak lagi terasa nikmat. Perut Ariel yang rasanya sudah penuh dengan kata-kata pedas tak bersemangat lagi untuk menghabiskan makannya. Mama Tita seolah sedang menunda hukuman mati untuknya saja.
"Mama tunggu di ruang keluarga!" perintah Mama Tita setelah selesai makan.
"Ya ... tunggu saja. Aku dan Ariel mau mandi dan bersiap pulang ke Jakarta. Kami mau menjemput anaknya Ariel dulu." Om Bobby menggandeng tangan Ariel dan melenggang pergi meninggalkan Mama Tita yang semakin murka saja.
__ADS_1
"Anak? Wanita itu sudah punya anak?" Mama Tita mengipasi wajahnya. Rasanya panas sekali hatinya. Rasa panasnya sudah menjalar ke wajah, membuat wajahnya yang cantik dan glowing jadi memerah.
Prisa juga terkejut saat tahu kalau Ariel sudah punya anak namun setelah tahu bagaimana kebaikan Ariel, ia hanya bisa menerima keputusan kakaknya. Saat kakaknya bisa menerima dan menikahi wanita yang bahkan sudah punya anak, pasti dia adalah wanita yang amat spesial. Apalagi saat tadi pagi Prisa bangun dan melihat aneka skincare, parfum dan pakaian milik Lisa sedang dibereskan pelayan. Itu artinya sang kakak rela melepaskan masa lalu demi bersama Ariel. Semakin spesial saja Ariel di mata kakaknya.
"Kamu tahu kalau wanita itu sudah punya anak? Dia janda? Atau istri orang?" tanya Mama Tita pada Prisa yang asyik dengan ponselnya. Prisa hanya mengangkat bahunya, tak menjawab dengan kata-kata.
"Kok Robbie mau sih sama wanita kayak begitu. Masih banyak loh wanita yang lebih baik dari dia. Apa jangan-jangan wanita itu pakai pelet makanya Robbie mau?" tanya Mama Tita yang apesnya malah dicueki oleh Prisa.
Mama Tita melirik putrinya yang cantik dan blasteran tersebut. Prisa memang cantik namun sikapnya agak buruk. Jarang bergaul dan lebih asyik sendiri. Sikapnya amat acuh. Mama Tita takut dengan Prisa karena dia yang mewarisi semua kekayaan mantan suaminya. Kalau Prisa sampai menyetop uang jajan bulanannya yang nilainya fantastis itu, bisa habis Mama Tita tak bisa bersenang-senang nanti.
"Prisa, kamu dengar 'kan apa yang Mama katakan?" tanya Mama Tita.
"Hem," jawab Prisa singkat.
"Tanya saja langsung kalau mau jelas, Ma. Jangan ngedumel di sini sama aku," balas Prisa dengan santainya.
"Sama saja kamu sama Kakak kamu. Tidak care. Seharusnya sebelum menikah, kenalkan dulu sama Mama. Biar Mama tahu bagaimana bibit, bebet dan bobot calon menantu Mama nantinya. Pasangan hidup itu adalah jodoh, kalau tak cocok bagaimana?" oceh Mama Tita seorang diri.
"Kayak Mama ya? Tidak cocok terus ganti suami. Tidak cocok lagi, ya ganti lagi?" sindir Prisa.
"Jangan mulai deh, Pris. Mama hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak Mama. Tak perlu kamu membahas kisah Mama," balas Mama Tita tak mau kalah.
"Mama saja belum dapat yang terbaik, kenapa mengharapkan Kak Robbie mendengarkan saran Mama? Ma, Kak Robbie sudah dewasa. Mama lupa bagaimana Kak Robbie susah move on? Bagaimana Kak Robbie terus memikirkan Kak Lisa? Bagaimana Kak Robbie terlihat menderita? Sekarang di saat Kak Robbie mendapatkan pengganti Kak Lisa, kenapa Mama larang?"
"Mama tak akan larang kalau wanita itu adalah wanita baik-baik," jawab Mama Tita.
__ADS_1
"Oh ... biar tidak seperti Mama ya?" Prisa berdiri dan meninggalkan Mamanya yang marah-marah setelah mendengar perkataannya.
"Prisa! Tarik kembali ucapan kamu!" bentak Mama Tita.
Prisa tak peduli, anak itu tetap naik ke atas dan berpapasan dengan Om Bobby serta Ariel yang sudah rapi hendak pulang ke Jakarta. "Kamu apain tuh Mama?" tanya Om Bobby.
"Kakak mau pulang sekarang?" tanya balik Prisa, mengacuhkan pertanyaan Om Bobby.
"Iya. Nanti sih setelah diomeli Mama," jawab Om Bobby dengan santai. "Hey, jawab pertanyaan Kakak dong, kamu apain Mama?"
"Aku hanya mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Mama saja yang tak bisa menerimanya dan menganggap diri Mama paling benar," jawab Prisa tanpa merasa bersalah.
Om Bobby tersenyum lalu mengacak rambut Prisa dengan penuh kasih. "Jangan begitu, biar bagaimanapun, Mama tetaplah orang tua kita. Kakak titip Mama ya!"
Prisa tersenyum kecil. Ia amat bersyukur memiliki kakak lelaki seperti Om Bobby. Meskipun mereka tidak berasal dari ayah yang sama namun mereka saling menyayangi. Kalau tak ada Om Bobby, mungkin Prisa sudah berada di jalur yang salah. "Cepat sekali sih kalian pulang. Hati-hati ya!"
Prisa kini menatap Ariel. "Jangan masukkin ke dalam hati ya omongan Mama. Sebenarnya Mama itu ... ngeselin. Acuhkan saja apa yang dikatakannya. Kebanyakan memendam ucapan Mama bisa bikin sakit hati."
Ariel tersenyum. Ia maju dan memeluk adik iparnya yang mulai ia sayangi tersebut. "Terima kasih atas dukungan kamu ya, Prisa Cantik. Aku tunggu kedatangan kamu di Jakarta."
"Good luck ya!"
Ariel melepaskan pelukannya lalu menerima uluran tangan Om Bobby. "Sudah siap?"
****
__ADS_1