
Om Bobby keluar dari kamar mandi dan menatap Ariel yang sedang memilihkan pakaian untuknya dengan wajah serius. Sudah ada pakaian yang tersedia namun Ariel merasa tak puas dan memilihkan lagi yang lain. Terkadang, Ariel suka sesuatu yang matching dan akan menggantinya jika ia rasa tak sesuai.
Om Bobby selama ini menyukai gaya berpakaian yang Ariel rekomendasikan untuknya, ia tidak mempermasalahkan apa yang Ariel pilih untuknya. Merasa gemas dengan kelakuan Ariel, Om Bobby berjalan pelan-pelan lalu memeluknya dari belakang. Rasa kangen yang begitu besar pada istrinya membuat Om Bobby langsung mengecup pipi Ariel. "Kangen," kata Om Bobby dengan nada super manja.
"Ish, ngagetin aku aja deh!" omel Ariel.
Tangan Om Bobby bergerak jahil dan menelusup ke dalam baju Ariel, membuat wajah Ariel memerah karena malu. "Nakal, aku juga kangen sama kamu, Beb." Ariel berbalik badan seraya menatap Om Bobby yang menatapnya dengan penuh rasa rindu. Keduanya saling memandang diiringi degupan jantung keduanya yang bertalu dengan kencang.
"Kamu dicariin sama Joni," bisik Om Bobby pelan.
Ariel tersenyum mendengar ucapan Om Bobby. "Joni atau kakaknya?" Ariel dan Om Bobby masih saling menatap.
"Dua-duanya," bisik Om Bobby sambil tertawa kecil.
"Oh ya?" Tangan Ariel mulai turun dan mengusap dada bidang Om Bobby. Saat ingin mengusap lembut bulu halus Om Bobby, Ariel menatap sesuatu di dada suaminya. Sebuah tanda kepemilikian.
"Ini ... apa?" Ariel menunjuk bekas kepemilikan yang terlihat masih baru.
"Apa? Memang ada apa?" Om Bobby berjalan menuju cermin dan terkejut mendapati tanda kepemilikan di dadanya. Hanya satu pelakunya dan Om Bobby yakin pasti Sinta.
"Sialan, Sinta!" rutuk Bobby dalam hati.
Om Bobby merasa harus menjelaskan semua ini pada Ariel. Ia pun berjalan mendekati Ariel yang matanya kini sudah memanas. "Aku bisa jelaskan," kata Om Bobby.
Ariel menggelengkan kepalanya. Berbagai pikiran negatif kini melintas di benaknya. "Siapa yang membuatnya? Kamu ... selingkuh?"
__ADS_1
Air mata Ariel akhirnya menetes juga. Tak kuasa ia tahan lagi. "Kamu tega!" Ariel mendorong Om Bobby dan hendak pergi dari kamarnya.
Dengan cepat Om Bobby menahan Ariel dengan memeluknya dari belakang. Ariel berusah melepaskan diri namun tidak Om Bobby beri kesempatan. "Dengarkan penjelasan aku dulu ya, please!"
Ariel mengusap air matanya yang menetes dengan kasar. "Tak ada yang harus dijelaskan. Lepas!"
"Ada yang harus kamu dengar. Aku tidak selingkuh!" elak Om Bobby.
Ariel tersenyum mengejek. "Hah? Tidak selingkuh? Lalu bekas apa itu yang ada di dada kamu?"
"Itu ... bekas ... em ...." Om Bobby bingung mau menjawab apa. Rasanya semua jawaban akan salah, mau jujur atau berbohong. Ia sempat menikmatinya karena berpikir kalau itu adalah Ariel.
"Benar bukan, kamu selingkuh? Jahat kamu sama aku, Beb!" Ariel berusaha melepaskan pelukan Om Bobby namun ia kalah tenaga. Om Bobby bertubuh besar dan kekar. Tenaga Ariel tak ada apa-apanya dibanding lelaki itu.
"Aku tidak selingkuh. Aku berani sumpah demi apapun. Aku tak tahu kalau ada yang melakukan ini karena aku sedang tidur!" kata Om Bobby.
"Serius!" Om Bobby melepaskan pelukan Ariel dan membalikkan tubuhnya. Kini mereka saling bertatapan.
Ariel menilai kejujuran Om Bobby dari sorot matanya, sedangkan Om Bobby membaca emosi Ariel dari ekspresi wajahnya. "Aku benar-benar tertidur pulas saat dia melakukan hal ini padaku."
Kening Ariel berkerut. "Dia?"
Om Bobby mengganggukkan kepalanya. "Sinta, model iklan alat kontrasepsi yang dipilih perusahaanku yang melakukan hal ini. Sinta ternyata diam-diam masuk ke dalam kamarku di saat aku tertidur pulas. Aku sudah mengunci pintu kamar, namun aku tidak mengunci pintu balkon karena aku pikir tak ada yang akan masuk dari balkon. Aku tak menyangka kalau kamarnya terletak di samping kamarku. Dia sengaja diam-diam masuk lewat pintu balkon dan mulai menggodaku."
"Lalu dengan gampangnya kamu tergoda dan menyukai apa yang dia lakukan?" tanya Ariel dengan senyum sinis. Ia melipat kedua tangannya di dada dan terus menatap dengan lekat saat Om Bobby menjawab pertanyannya.
__ADS_1
"Ya ... aku tak tahu kalau itu dia karena aku sedang bermimpi dan di dalam mimpiku ... aku sedang memimpikan kamu. Aku lelah seharian bekerja dan kupikir aku sedang berada di rumah dengan kamu dan digoda sama kamu seperti biasanya. Aku sempat terlena dalam keadaan setengah sadar, karena itu ia berhasil membuat ini." Om Bobby menunjuk bekas tanda cinta yang dibuat oleh Sinta, membuat Ariel semakin kesal saja.
"Aku lansung terbangun saat ia melakukan hal lain, dia ... menggoda Joni. Aku pikir itu kamu, namun ternyata bukan. Aku sangat terkejut. Aku memarahinya dan aku langsung mengusirnya saat itu juga. Aku menolaknya, tak ada yang terjadi semalam, hanya sebatas itu saja. Aku bisa pastikan itu."
Ariel terdiam dan kini malah membuang pandangannya. Ada perasaan marah dalam dirinya yang sangat besar. Ia tak terima suaminya disentuh oleh wanita lain apalagi sampai meninggalkan tanda cinta seperti itu. Om Bobby adalah miliknya, tak ada seorangpun yang boleh memilikinya selain Ariel seorang.
"Lalu Joni menyukainya?" Pertanyaan Ariel sungguh membuat Om Bobby terkejut. Kenapa pertanyaan seperti ini yang Ariel ajukan, bukan bertanya seberapa cantiknya Sinta atau pertanyaan lain. Ariel lebih tertarik mengetahui kenyataan tentang bagaimana reaksi Joni.
"Awalnya ... iya," jawab Om Bobby dengan jujur. Sebelum Ariel semakin marah, cepat-cepat Om Bobby menenangkannya. "Jangan salah paham dulu, please. Aku saat itu sedang tidur dan wajar kalau sedang tidur Joni pasti bereaksi. Semua laki-laki juga begitu. Semua itu di luar kendaliku. Saat dia menggoda, aku terkejut dan kulihat Joni memang bereaksi namun saat aku lihat kalau itu bukan kamu, Joni kembali loyo. Joni tahu kalau wanita itu bukan pawangnya.
Ariel tersenyum sinis mendengar cerita jujur Om Bobby. "Lalu, kalau Joni tidak loyo, pasti kamu akan meneruskan lagi bukan kegiatan kalian yang mengasyikkan itu?"
"Yang, kali ini kamu sudah salah paham tentang aku. Aku tak akan melakukan hal itu. Aku tidak menyukai wanita itu. Kalau aku memang menyukainya, kenapa tidak sejak awal aku mengajaknya untuk berhubungan lebih jauh lagi? Semua itu karena aku tidak mau. Aku sudah punya kamu dan Galang, kalian itu dua hal terindah dalam hidupku saat ini. Aku tak mau menggantikan kalian dengan hal yang sama sekali tidak berharga seperti wanita itu. Aku mohon, kamu tolong maafin aku ya? Aku enggak akan kecolongan lagi seperti saat ini, aku janji!" kata Om Bobby dengan wajah serius.
Ariel melihat kejujuran dalam ucapan Om Bobby namun sayangnya, hatinya masih sakit karena merasa sesuatu yang sudah menjadi miliknya diambil oleh orang lain. Ariel tak bisa terima begitu saja. Ia manusia biasanya yang akan sakit hati jika miliknya direbut wanita lain. "Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Satu lagi, selama masih ada bekas itu jangan pernah berpikir untuk mendekatiku!" Ariel menghempaskan tangan Om Bobby dan pergi meninggalkan kamar lelaki tersebut.
Om Bobby menatap Ariel yang menutup pintu kamarnya dengan pasrah. "Yah ... kita puasa lagi dong, Joni? Padahal kita berdua sudah siap tempur tapi karena Mama Ariel ngambek, enggak jadi deh. Nasib ... nasib!"
****
Hi Semua!
Yang kangen novel ini, yuk komen yang banyak. Jangan lupa like, vote, add favorit dan kirim kopi sebanyak mungkin biar aku yang sudah tak semangat ini jadi semangat lagi.
Follow juga IG aku: Mizzly_ FB: Mizzly dan tiktok: @mizzlyauthor untuk tahu novel aku yang terbaru ya.
__ADS_1
Baca juga novel aku yang lain di profil aku ya. Yang pasti seru dan beda 😍😍😍