Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Prisa


__ADS_3

Pintu berbahan kayu jati itu dibuka oleh Ariel. Nampak kamar yang bergaya minimalis. Ariel tentu berpikir kalau itu adalah kamar Om Bobby, sebuah kasur besar dengan meja kerja dan laptop yang menyala. Ariel mendekat, hendak mematikan laptop tersebut.


Betapa terkejutnya Ariel saat melihat apa yang sedang diputar di laptop berlogo apel dimakan codot tersebut. Mata Ariel membesar dan spontan Ariel menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Mau apa kamu di kamarku?" tanya Prisa yang baru keluar dari toilet.


Prisa melihat Ariel tengah syok melihat apa yang dilihatnya di laptop yang sedang Prisa tonton. Dengan langkah cepat, Prisa berjalan menuju laptop miliknya dan menutupnya dengan paksa.


"Kamu ... kok nonton film biru?" tanya Ariel dengan alis yang bertaut. Bagi Ariel, Prisa masih terlalu kecil untuk menonton film yang tak sesuai umurnya tersebut. Usia SMP belum pantas menonton film dewasa tersebut.


Prisa menaruh jari telunjuknya di bibir. "Sst! Jangan kencang-kencang! Nanti Kak Robbie dengar!" protes Prisa. "Kamu mau, aku diomeli Kakakku?"


Ariel menurunkan suaranya. "Oke. Kita bicara pelan-pelan. Prisa, kamu masih terlalu kecil untuk menonton film seperti itu. Tak baik untuk perkembangan jiwamu!" nasehat Ariel.


"Itu bukan urusanmu! Jangan mentang-mentang kamu pacar Kakakku, kamu berhak mengatur hidupku!" balas Prisa dengan ketus. "Mau apa kamu di kamarku?"


Ariel menghirup nafas dalam, mencoba mengisi stok udara di paru-parunya serta menambah kesabaran menghadapi anak remaja di depannya. "Aku salah kamar. Aku pikir ini kamar kakakmu. Balik lagi ke masalah film biru yang kamu tonton. Kenapa kamu menonton tontonan yang tak sesuai umurmu? Kamu masih kecil, Prisa. Jangan menonton sesuatu seperti itu."


"Cih, apa salahnya menonton film?" Prisa lalu bergumam pelan, "Menonton yang asli pun aku sering."


"Hah? Apa?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu. Jangan sok suci deh. Kamu dan Kakak pasti juga sering melakukan hal itu bukan? Jangan berlaga kamu tak punya dosa. Perbaiki dulu hidup kamu, baru ceramahi aku!" balas Prisa semakin pedas saja.


Ariel mengusap dadanya. Ia emosi. Kalau Prisa bukan adik Om Bobby, pasti sudah ia jewer anak kurang ajar itu tanpa ragu. Ariel beberapa kali bernafas cepat dan menenangkan dirinya.


"Aku dan Kakakmu sudah menikah. Wajar kalau kami melakukan hal seperti itu, sedangkan kamu? Apa pantas anak SMP seperti kamu menonton film seperti itu?"


Prisa tersenyum mengejek. "Menikah? Jangan ngarang cerita deh. Kakakku itu hanya cinta sama Kak Lisa seorang. Jangan ngaku-ngaku deh. Kak Robbie tak akan menggantikan sosok spesial seperti Kak Lisa dengan kamu!"


Ariel menatap gadis remaja yang sama sekali tak mirip dengan Om Bobby di depannya. Jika Om Bobby berambut hitam dan hanya sedikit terlihat blasterannya, Prisa adalah murni gadis bule dengan rambut pirang dan bola mata berwarna hijau gelap. Kulitnya putih dan agak kemerahan, khas bule pada umumnya. Secara keseluruhan, Prisa memang cantik, sayang, sifatnya yang jutek dan ucapannya yang ketus tidak Ariel suka.


Hati Ariel agak tercubit mendengar Prisa menyebut nama Lisa dan bagaimana dirinya seakan tak bisa disandingkan dengan almarhum mantan istri suaminya tersebut. Bersaing dengan seseorang yang sudah meninggal dan memiliki banyak kenangan indah, tentu saja Ariel tak akan menang. Apalagi masa lalu Ariel yang kelam dan dirinya juga bukan berasal dari keluarga kaya raya. Ariel sadar kalau ia tak akan menang, kalah telak pasti. Satu kelebihan Ariel, dia adalah pawang Joni.


"Terserah kalau kamu tak mau percaya. Kami sudah menikah secara siri. Itulah kenapa aku bisa bebas melakukan hubungan suami istri, karena itu memang kewajibanku." Ariel menatap Prisa dengan tajam. "Kamu masih kecil, aku minta kamu jangan lagi menonton video seperti itu. Ini demi kebaikanmu."


"Tak ada untungnya sih aku mengadukanmu. Kalau aku mau merebut hati kamu, aku akan merahasiakannya, dengan begitu pasti kamu akan mendukungku menjadi kakak iparmu. Sayangnya, aku masih punya hati nurani. Kalau aku membiarkan kamu seperti ini terus, maka aku akan menghancurkan kamu. Aku tak bisa menjadi orang jahat namun aku tak bisa juga menjadi seorang pengadu. Aku tak akan mengadukan ke kakakmu, kalau kamu berjanji padaku, kalau kamu tak akan menonton film seperti itu lagi!" ucapan Ariel begitu meyakinkan Prisa namun anak remaja itu masih gengsi menerima tawaran Ariel.


"Hanya berjanji? Kenapa kamu percaya dengan janji yang kubuat? Aku bisa saja mengingkari janjiku, bukan?" balas Prisa.


"Ya, kamu memang bisa mengingkari janjimu namun malaikat sudah mencatat dosamu karena ingkar janji. Kamu tahu rasa sakitnya saat sebuah kepercayaan diingkari? Itu yang akan aku rasakan. Mungkin kamu tak akan peduli, namun saat orang lain nanti melakukan itu padamu, percayalah, kamu tak akan menyukainya. Aku hanya bersikap dewasa dan tak mau adik suamiku merusak masa depannya yang cerah hanya karena rasa penasarannya, " kata Ariel dengan tegas.


Kini gantian Prisa yang menatap Ariel, ia mengamati wajah Ariel seraya menerka apa kelebihan wanita di depanya sampai sang kakak mau menikahinya. Wajah Ariel dengan Lisa memang berbeda namun dari cara Ariel bicara dan tersenyum memang memiliki kesamaan. Tentu saja Lisa lebih bijak namun nasehat Ariel entah kenapa lebih bisa Prisa dengar. Mungkin karena Ariel menasehatinya disertai rasa peduli dan tak mau masa depannya hancur. Hati Ariel baik dan hangat, mungkin ini yang membuat Kakaknya mau menikahi wanita di depannya.

__ADS_1


"Kenapa diam saja? Ayo putuskan, mau mengikuti saranku atau mau memenuhi rasa ingin tahu kamu dan berakhir hancur?" tanya Ariel saat Prisa hanya diam dan terus menatapnya.


"Kenapa kamu peduli padaku? Mamaku saja tidak," kata Prisa dengan dingin.


"Karena kamu adik iparku, adikku juga. Aku tak mau adikku rusak. Kamu perempuan. Terlalu sering menonton film biru akan membuat kamu penasaran dan ingin merasakannya. Kamu masih muda, jangan merusak masa mudamu demi rasa penasaran. Kamu boleh menontonnya saat kamu sudah menikah. Berikan kesucianmu hanya pada orang yang kamu cintai ... jangan sepertiku." Ariel tak melanjutkan ucapannya lagi. Mengingat itu rasanya sangat sakit sekali.


Apa yang Ariel katakan adalah seperti menasehati dirinya sendiri. Ia memberikan mahkotanya pada Om Sam hanya demi uang. Ia tak mau hidup Prisa rusak seperti hidupnya. Sebuah rasa peduli dari wanita yang menganggap dirinya adalah wanita kotor pada wanita lain yang masih bisa menyelamatkan masa depannya.


"Sepertimu?" Pertanyaan Prisa tentu saja tak Ariel jawab. Itu adalah aib masa lalunya.


"Kamu pilih apa?" tanya balik Ariel, mengacuhkan pertanyaan Prisa.


Prisa menghela nafas dalam. Ia penasaran namun cara Ariel tak menjawab pertanyaan membuatnya sadar kalau ia tak berhak mengetahui tentang Ariel terlalu dalam. "Baiklah. Aku akan berhenti menonton film biru lagi dan menahan rasa penasaranku sampai aku menikah."


Ariel tersenyum lebar, ia senang Prisa mau menuruti ucapannya. "Good. Aku tahu kamu wanita pintar. Apapun yang kamu lihat, coba lupakan. Kalau mau praktek ... ya nikah dulu. Sekarang, aku mau lihat kamu menghapus semua film tersebut dari laptop kamu sebagai bukti."


"Iya ... iya ... bawel sekali sih kamu!" Prisa membuka file rahasia miliknya dan bersiap menghapus semua file film biru miliknya.


"Wow, banyak sekali. Boleh kirim ke ponselku 1 yang paling keren?" tanya Ariel sambil tersenyum penuh maksud.


"Kayaknya sekarang aku tahu deh kenapa Kakakku menikahimu. Oke, aku kirim. Selamat praktek ya dan satu lagi ... tolong pasang musik yang kencang agar aku tak mendengar kegiatan kalian!"

__ADS_1


***


Mau tahu siapa Prisa? Apa hubungannya dengan Kevin? Ups, Kevin masih ingat tidak? Yuk baca Namaku Ayu kalau lupa siapa Kevin. Kisah Prisa akan aku buat dalam waktu dekat (insha Allah) yuk follow IG aku: Mizzly_ ; fb aku: Mizzly dan tiktok aku: Mizzlyauthor untuk tahu info lebih lengkapnya ya 😁


__ADS_2