
"Ma-maaf, Pak, saya lupa." Sinta terpaksa melepaskan tangannya yang sudah terlanjur nyaman berada di dada Om Bobby. "Mungkin karena saya grogi."
"Tak apa. Kalau kamu sudah tenang, kita bisa mulai lagi syutingnya!" Om Bobby membawa kopi miliknya ke dalam villa dan pergi meninggalkan Sinta yang merasa ditolak namun makin semangat untuk mengejar cinta Om Bobby.
Syuting pun kembali dilanjutkan. Sinta tak lagi mengacaukan syuting. Sinta berakting dengan baik sampai mereka harus melakukan adegan lain karena iklan rencananya akan dibuat dua versi. Iklan di sosial media dan iklan di TV nasional. Tentunya iklan di TV nasional lebih ketat.
Pengambilan syuting pun dilakukan di kebun teh. Om Bobby memilih menelepon Ariel dan mempercayakan jalannya syuting pada sang sutradara. Hari sudah jam 3 sore. Om Bobby memperkirakan kalau Ariel pasti sudah pulang ke rumah.
Ariel tak langsung menjawab panggilan Om Bobby. Setelah dua kali tak terjawab, akhirnya Ariel menjawab panggilan Om Bobby.
"Maaf, Beb, aku baru angkat. Tadi bawa Galang agak repot. Anak itu tak mau pulang," kata Ariel.
"Galang yang tak mau pulang, atau kamu?" sindir Om Bobby.
"Loh, kok aku sih?"
"Siapa tahu kamu masih ingin lebih lama bersama mantan suami kamu? Bisa saja rasa rindu itu masih ada bukan?" Om Bobby meluapkan perasaan yang ia pendam.
"Beb, kok gitu sih bicaranya? Masa sih aku rindu pada Mas Wawan? Aku justru malah rindu sama kamu, Beb. Sama Joni juga," goda Ariel.
"Masa sih?"
"Iyalah. Joni tuh udah bikin aku merem melek karena merasa enak. Sudah besar, kokoh, pokoknya kuat deh. Ah, jadi kangen Joni deh. Kakaknya Joni kapan pulang nih?" rayu Ariel.
__ADS_1
Om Bobby tersenyum mendengar rayuan istrinya. "Kamu bisa saja, Yang. Aku juga kangen kamu. Sayangnya, aku lupa kalau ada dua versi iklan. Mumpung ada di kebun teh, kami lanjutkan syutingnya. Sebentar lagi selesai, hanya tinggal-" Belum selesai Om Bobby berbicara, air hujan membasahi kebun teh.
"Aku telepon kamu lagi nanti, Yang. Hujan. Aku bantu yang lain dulu!" Tanpa menunggu izin dari Ariel, Om Bobby memutus panggilan telepon mereka.
Om Bobby membantu para kru mengangkut peralatan syuting dan memindahkannya ke Villa. Syuting yang semula tinggal sedikit lagi selesai kini harus menunggu hujan reda. Semua berkumpul di aula tengah sambil berharap hujan segera berhenti. Sayangnya, hujan bukan berhenti tapi malah semakin deras aja. Sampai sore hari, hujan tak menampakkan tanda-tanda akan berhenti. Syuting di kebun teh tentu tak bisa dilanjutkan.
Om Bobby bersama sutradara dan para kru yang lain pun melakukan diskusi. Ada yang mengusulkan agar syuting di reschedule. Om Bobby dengan tegas menolak usul ini. Iklan yang mereka buat sudah dikejar deadline, belum proses editing yang tentunya akan memakan waktu lumayan lama.
"Saya rasa syuting tidak bisa kita reschedule. Client mau hasil yang bagus dan cepat selesai, karena itu dia berani membayar mahal untuk syuting ini. Satu-satunya solusi adalah kita harus syuting besok pagi, tentunya jika hari cerah dan tidak hujan. Jadi ... terpaksa, untuk semua kru yang bertugas hari ini harus menginap di villa ini. Kalian istirahat saja malam ini, anggap saja seperti di rumah sendiri. Asisten saya, Bayu, yang akan mengatur tempat kalian istirahat dan makan malam." Setelah membuat keputusan. Om Bobby pun berdiri dan berdiskusi dengan Bayu, menyuruhnya untuk mempersiapkan semua untuk para kru yang menginap.
Om Bobby lalu pergi ke kamar miliknya. Ya, villa ini adalah villa pribadi miliknya. Ia punya kamar sendiri yang biasa ia tempati kalau sedang menginap di Villa tersebut. Semua gerak gerik Om Bobby tak lepas dari sorot mata Sinta.
"Mbak Sinta nanti tidur di kamar itu ya, bersama asisten pribadi Mbak Sinta," kata Bayu seraya menunjuk sebuah kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Om Bobby. Rasanya Sinta ingin meloncat kegirangan apalagi saat tahu kalau kamar mereka terhubung dengan balkon yang sama.
"Iya, Mas."
"Yah ... malam ini tak ada Joni yang menemaniku tidur dong?" keluh Ariel.
"Maaf ya, Yang. Aku juga ingin pulang dan bertemu kamu, aku sudah kangen sama kamu, begitu pun dengan Joni, apa daya, aku tak bisa meninggalkan syuting." Om Bobby mulai merasa mengantuk. Udara dingin ditambah rasa lelah membuat Om Bobby ingin tidur saja.
"Yaudah kalau kamu tak bisa pulang. Besok kamu harus pulang ya!"
"Iya, Sayang. Aku kangen kamu. Selamat tidur!"
__ADS_1
"Selamat tidur. Have a nice dream, Beb. Love you!"
Om Bobby menaruh ponsel miliknya di atas nakas lalu menarik selimut. Ia tertidur pulas dan tak memperdulikan kru dan bawahannya yang ramai di luar.
****
Di kamar sebelah, Sinta berpura-pura tidur sampai asistennya juga ikut tertidur pulas. Suara dengkuran asisten Sinta membuatnya yakin kalau asistennya sudah tertidur pulas dan ia bisa menjalankan rencananya.
Sinta menyemprotkan parfum miliknya lalu membuka pintu yang mengarah ke balkon yang terhubung dengan kamar Om Bobby. Setelah memastikan sekelilingnya aman, Sinta pun berjalan menuju pintu kamar Om Bobby. Ia membukanya dan tersenyum saat mengetahui kalau pintunya tidak terkunci.
Sinta masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Ia tersenyum lebar saat melihat lelaki yang sudah membuatnya terpesona tersebut sedang tertidur pulas. Om Bobby hanya mengenakan celana pendek saja seperti biasa. Bulu dadanya membuat Sinta semakin tergoda.
Tangan Sinta terjulur dan membelai bulu dada dengan lembut. Om Bobby pikir yang membelainya adalah Ariel karena lelaki itu kebetulan sedang memimpikan istrinya tersebut. Om Bobby menarik Sinta dan memeluknya.
Sinta merasa memiliki kesempatan. Ia pikir Om Bobby memang memikirkan dan menginginkannya. Sinta kembali membelai dada Om Bobby, memberi tanda cinta seraya mencium harum tubuh Om Bobby kesukaannya.
Om Bobby masih belum sadar sepenuhnya. Ia masih berpikir kalau Ariel yang sedang menggodanya. Ia pun bergumam pelan, "Dasar nakal!"
Sinta tersenyum, ia pikir Om Bobby suka jika dirinya lebih nakal lagi. "Aku bisa kasih yang lebih nakal lagi, Om!"
Sinta mulai membelai Joni. Belum terbangun saja Joni sudah besar apalagi saat terbangun?
"Aku menemukan harta karun, Om. Boleh aku cicipi?" Sinta pun mulai melakukan apa yang ia katakan.
__ADS_1
Om Bobby mulai merasakan sesuatu pada Joni. Om Bobby memaksa membuka matanya yang sangat lengket seolah tak mau terbuka karena kantuk. "Sayang, kamu sedang apa. Ouch ... tunggu, siapa kamu?"
***