
Om Bobby senyum-senyum sendiri sambil mengemudikan mobilnya. Mendengar dirinya dipanggil Beb membuat Om Bobby begitu bahagia. Baru panggilan mesra saja sudah membuat hati Om Bobby sangat bahagia, apalagi jika diberi sentuhan yang menggoda?
Om Bobby menatap Joni yang mulai memberikan reaksi, baru memikirkan Ariel saja Joni sudah bereaksi apalagi digoda oleh Ariel? Ariel Memang luar biasa, wajar kalau Om Sam begitu menginginkannya.
Lelaki itu sering terlihat di CCTV oleh Om Bobby sedang memanggil-manggil Ariel. Untunglah Ariel adalah seorang istri yang patuh pada suami. Ia sama sekali tak menanggapi dan mengancuhkan Om Sam sesuai perintah Om Bobby.
Sebenarnya Om Bobby masih mau berada di rumah untuk merawat Ariel, sayangnya hari ini adalah jadwal shooting untuk iklan alat kontrasepsi yang pertama. Mau tak mau Om Bobby harus melihat secara langsung karena iklan ini adalah kategori iklan yang lumayan mahal. Pihak perusahaan yang memproduksi alat kontrasepsi tersebut rela membayar mahal agar mendapatkan hasil iklan yang berkualitas.
Kedatangan Om Bobby di kantor disambut hormat oleh para karyawannya. Dengan mengenakan jaket berwarna hitam berbahan kulit dan celana jeans, ketampanan Om Bobby naik berkali lipat. Sikap Om Bobby yang terlihat kalem namun tegas terkadang membuat para karyawannya merasa sungkan, namun setiap ada kesempatan mereka akan berusaha untuk curi-curi pandang terhadap bos mereka yang tampan tersebut.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Om Bobby kepada Bayu, asisten pribadinya.
"Kru yang bertugas sudah siap, peralatan juga sudah siap dan Sinta sedang di make up. Sebentar lagi selesai, kita bisa langsung memulai syutingnya," jawab Bayu.
"Oke. Good job!" Om Bobby menepuk bahu Bayu. Ia mengambil sebuah kursi plastik dan duduk sambil melihat proses pembuatan syuting. Beberapa kali Om Bobby protes karena ekspresi Sinta yang kurang maksimal dan tidak menghayati peran.
Dalam konsep iklan kontrasepsi yang dibuat tersebut, Sinta akan menjadi seorang perempuan yang terlihat seksi dan menggoda. Sinta akan menjadi seorang karyawan kantoran yang karena keseksiannya membuat atasannya tergoda. Ada adegan di mana Sinta harus memeluk model laki-laki yang telah dikontrak oleh perusahaan. Cara memeluknya terlihat kurang nyaman.
Beberapa kali sutradara berusaha memberitahu apa yang harus Sinta lakukan. Bukannya semakin benar, Sinta malah semakin gugup. Om Bobby meminta sutradara untuk berhenti syuting sejenak. Ia menghampiri Sinta dan menanyakan kendalanya.
"Kenapa kamu tidak bisa natural? Kamu sudah lolos casting, pasti kamu memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang ini dibanding yang lain. Coba aktingnya lebih natural lagi ya!" Nasehat Om Bobby pada modelnya tersebut.
Melihat Om Bobby dari jarak dekat membuat Sinta makin kagum dengan ketampanan yang dimiliki oleh Om Bobby. Bagaimana lelaki itu begitu berkharisma saat berbicara. Untuk berkedip sekali saja, rasanya Sinta rugi. Jarak mereka begitu dekat dan kini jantung Sinta berdegup dengan kencang sekali.
__ADS_1
"Seharusnya pelukan itu harus dengan nyaman bukan, Pak?" tanya Sinta.
"Benar sekali, makanya kamu harus terlihat senyaman mungkin," jawab Om Bobby.
"Aku sih sudah berusaha untuk nyaman namun cara memeluk cowok itu yang membuat aku kurang nyaman dipeluk. Pelukannya sama sekali tidak melindungi. Bukankah pelukan itu harus terasa terlindungi?" Sinta terus memperhatikan raut wajah Om Bobby dari dekat.
"Betul, pelukan memang harus berkesan melindungi." Om Bobby memanggil model pria dan menyuruhnya memeluk Sinta.
"Stop. Kayaknya benar yang Sinta katakan. Pelukan kamu terlalu kaku dan terlihat seperti pelukan seorang sahabat. Di iklan ini kalian bukan sahabat melainkan dua orang yang memiliki keterikatan fisik," kata Om Bobby.
"Mungkin ... Bapak bisa memberi contoh agar dia tahu bedanya pelukan antar teman dan pelukan yang melindungi," kata Sinta dengan senyum menggoda.
Demi kepentingan syuting, Om Bobby pun memberikan contoh. Ia memeluk Sinta dan membuat Sinta nyaman sampai tak rela melepaskan pelukan Om Bobby. Harum parfum ditambah aroma tubuh Om Bobby seakan menyatu jadi satu, membuat suatu aroma yang membuat Sinta ketagihan. Sinta bahkan tanpa sadar mencium leher Om Bobby.
Om Bobby terkejut dan melepaskan pelukan Sinta. Cepat-cepat Sinta meminta maaf karena tak mau membuat Om Bobby menjadi risih. "Ma-maaf, Pak. Aku hanya mendalami akting saja. Aktingku ... salah ya, Pak?"
"Baik, Pak."
Om Bobby pun mengintruksikan sutradara untuk kembali memulai syuting. Ia tak mau memperpanjang apa yang Sinta lakukan karena tak mau membuang waktu lebih lama lagi di kantor. Om Bobby mau cepat pulang karena khawatir dengan keadaan Ariel.
Syuting pun berjalan lancar. Sinta terlihat lebih mendalami karakternya dan hanya beberapa kali take langsung selesai. Om Bobby terus memperhatikan proses syuting sambil mengirimi Ariel pesan yang mengabarkan kalau dirinya akan telat pulang.
"Mm ... Pak." Sinta mendekati Om Bobby seusai syuting.
__ADS_1
Om Bobby mengangkat wajahnya dari layar ponselnya dan menatap Sinta yang berdiri di depannya. Sinta memang yang paling cantik di antara semua model yang ikut casting kemarin. Wajahnya terlihat lugu dan gadis baik-baik. Wajar kalau dirinya yang terpilih. "Iya, kenapa ya?"
"Maaf kalau tadi aku berakting seperti itu sama Bapak. Kesannya aku itu seperti sedang ... menggoda Bapak." Sinta menundukkan kepalanya.
"Tak apa. Memang kamu harus berakting seperti itu bukan?" jawab Om Bobby.
"I-iya, tapi aku tidak enak sama Bapak. Bagaimanapun Bapak adalah pimpinan di perusahaan ini. Aku juga mendengar beberapa kru yang meledekku seakan aku ini memang benar menggoda Bapak," kata Sinta.
"Tak masalah. Acuhkan saja. Toh kita tak bisa menyumpal mulut semua orang bukan?" jawab Om Bobby.
"Mm ... aku minta maaf ya, Pak."
"Iya," jawab Om Bobby singkat.
"Mm ... Pak, untuk membayar kesalahanku, bolehkah aku traktir Bapak segelas kopi?" tanya Sinta masih dengan sikap malu-malu.
"Tak perlu, terima kasih," tolak Om Bobby.
"Oh ... aduh, aku makin tak enak hati, Pak. Sekarang saja para kru sedang melihat ke arah kita. Aku sudah bilang kalau aku mau minta maaf sama Bapak namun sepertinya tak ada yang percaya. Kalau aku tunjukkan dengan traktir Bapak kopi, mungkin mereka akan percaya. Mau ya, Pak, please!" Sinta menatap dengan tatapan penuh permohonan pada Om Bobby.
Om Bobby melihat para karyawan yang melihat ke arahnya dengan tatapan ingin tahu. Saat ditatap balik oleh Om Bobby, semua langsung grogi dan membuang pandangan ke arah lain.
"Maaf, Sinta. Aku tak bisa. Aku ada janji dengan ... Ayang Beb-ku. Aku permisi dulu." Om Bobby pergi meninggalkan Sinta yang kecewa karena tawarannya ditolak. Baru kali ini ada lelaki yang menolak pesona kecantikan yang Sinta miliki.
__ADS_1
"Kamu membuat jiwa bersaingku bangkit, Pak Bos yang tampan. Lihat saja apa kamu akan bisa menolakku lagi nanti saat kugoda?" batin Sinta.
****