
Ariel menatap Galang yang asyik bermain dengan hati yang gundah. Entah mengapa perasaannya tak enak. Keadaan komplek terlalu sunyi bagi Ariel, seakan sedang menyiapkan sesuatu yang kurang baik untuknya.
"Ma, mamam!" Galang menyuapi Ariel dengan sendok mainan kosong. Kali ini Galang menjadi orang tua dan Ariel menjadi anaknya. Ariel dengan patuh membuka mulutnya dan menerima suapan Galang. "Anak pintel!"
Ariel tersenyum mendengar Galang memujinya, persis yang biasa ia lakukan kala Galang mau makan makanan yang ia suapi. "Kamu pintar sekali sih, Nak." Ariel mengusap kepala Galang dengan tatapan sedih. "Kita akan kemana Nak kalau tak ada yang menerima kita?" gumam Ariel pelan.
"Kita mau pelgi, Ma?" tanya Galang seraya menatap Ariel yang terlihat sedih. "Mama nangis? Cup cup, jangan nangis. Mama anak kuat. Mama tidak boleh nangis!"
Ariel memaksakan senyum di wajahnya mendengar kalimat menenangkan yang diucapkan Galang. "Mama kuat ya? Iya, Galang benar, Mama memang anak yang kuat. Mama tak akan seperti sekarang kalau Mama lemah. Galang yang membuat Mama makin kuat. Galang yang hebat. Mama bangga punya anak seperti Galang."
"Yey, Galang hebat!" Anak itu bersorak gembira mendapat pujian dari Ariel. Sungguh anak kecil yang tak punya beban derita. Ariel bersyukur rasa trauma Galang akan kekerasan masa lalu sudah perlahan menghilang. Kasih sayang Om Bobby yang sudah membantu mengobatinya, mengganti trauma dengan kasih sayang yang tulus.
"Sudah malam, kok Om Papa belum pulang ya?" Ariel melihat jam di dindingnya. Sudah jam 7 malam. Om Bobby tadi berjanji tak akan lama berada di Bandung karena ingin mengajak Ariel dan Galang jalan-jalan malam seraya wisata kuliner.
Ariel mengambil ponsel miliknya dan menghubungi suaminya. Beberapa kali ia menghubungi Om Bobby namun suaminya tak mengangkat telepon padahal sambungan telepon mereka tersambung.
"Om Papa kemana, Ma?" tanya Galang.
"Mama tak tahu, Sayang. Kemana ya?" Ariel menaruh kembali ponsel miliknya. "Tak mungkin Om Papa lupa, Nak. Kemana ya?"
Galang kembali bermain dan mengacuhkan ucapan Ariel. Tanpa Ariel ketahui, di depan rumah Om Bobby sudah ramai para warga yang berniat hendak mengusirnya.
__ADS_1
"Tolong tenang ya, Pak, Bu. Ingat, kita hidup bertetangga yang menjunjung tinggi ketentraman dan kerukunan. Jangan ada tindakan kekerasan dan main hakim sendiri. Saya tak mau apa yang kita lakukan malah menjadi keributan, semua mengerti?" Pak RT memberikan wejangan pada warganya yang terlihat sudah tak sabaran hendak menggeruduk rumah Ariel yang dituduh sebagai pelaku kumpul kebo.
"Iya, Pak. Udah deh cepetan. Lama banget sih kasih wejangannya! Keburu kabur deh tuh cewek gak bener!" kata salah seorang warga menambah panas suasana.
"Iya, benar. Ini semua salah Bapak. Kenapa Bapak tidak sadar kalau ada warga baru. Perempuan gak bener lagi dibiarkan tinggal di komplek ini. Kalau saja Bapak tanya asal usulnya, tidak akan kita sekhawatir ini!" sahut salah seorang ibu-ibu yang malah menyalahkan Pak RT.
"Kenapa jadi saya yang disalahkan? Sudah, semua tenang. Saya yang akan meminta penjelasannya terlebih dahulu. Jangan ada yang bicara atau memanasi suasana ya! Ingat wejangan yang saya berikan tadi!" ancam Pak RT.
Pak RT berjalan mendekat ke pagar rumah Om Bobby lalu menekan bel. Di dalam rumah, Ariel yang mendengar suara bel berbunyi mengintip dari jendela dan melihat Pak RT yang datang. Ariel tak melihat kalau ada banyak warga di belakangnya, semua terhalang tembok tinggi.
"Mbak, titip Galang ya. Saya ke depan dulu!" Ariel membuka pintu rumah dan berjalan menuju pagar rumah dengan sandal jepit miliknya. Kening Ariel berkerut saat menyadari kalau bukan hanya Pak RT yang menunggunya di depan rumah, melainkan beberapa ibu-ibu yang tadi ia temui di taman ditambah beberapa warga komplek.
Perasaan Ariel mulai tak tenang. Ia yakin kalau mereka akan melakukan tindakan setelah mendengar keributan yang Tante Dena buat saat di bazar, ditambah ibu-ibu yang tadi ia temui di taman pasti membuat citra dirinya semakin jelek saja.
"Selamat malam, Ibu Ariel," sapa Pak RT dengan ramah.
"Selamat malam, Pak. Ada apa ya? Kenapa Bapak datang beramai-ramai ke rumah saya?" tanya Ariel langsung ke inti permasalahannya.
"Maaf mengganggu waktunya Ibu Ariel. Saya datang ke rumah ibu karena mendapat pengaduan dari para warga tentang apa yang terjadi saat bazar kemarin titik menurut pengakuan para warga komanya ada seorang ibu-ibu yang melabrak Ibu Ariel dan mengatakan kalau ibu Ariel adalah perebut suami nya. Yang jadi masalah di sini, bukan ibu tersebut karena memang kami tidak mengenalnya titik yang jadi permasalahan dan kekhawatiran warga adalah mengenai Ibu Ariel. "
"Mengenai saya? Memangnya saya kenapa? Untuk informasi saja ya, Pak, saya baru bertemu dengan Ibu Dena itu kemarin, untuk yang pertama kalinya, karena itu saya heran, kenapa Bapak datang bersama para warga malam-malam ke sini., untuk apa?" jawab Ariel yang mulai tak suka hidupnya diusik.
__ADS_1
"Jadi gini, Bu, berdasarkan keterangan warga, mereka mendengar kalau Ibu sebenarnya ... maaf nih, punya masa lalu sebagai seorang perempuan ya ... yang kurang benar. Saya juga kurang tahu pasti ya. Simpang siur berita menimbulkan kekhawatiran dari warga sekitar komplek ini mengenai hubungan Ibu Ariel dengan Bapak Robbie. Mereka mendengar kalau Ibu ... maaf sekali lagi ya, adalah wanita simpanannya Bapak Robbie. Kalau memang benar demikian, bukankah kalian sudah melakukan kumpul kebo?" Pak RT berbicara dengan sangat sopan dan hati-hati.
Ariel mengerti kalau ini bukan keinginan Pak RT, melainkan tuntutan warganya yang sangat ingin tahu dengan kehidupan Ariel, warga yang sudah berprasangka buruk tanpa tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Hanya karena ucapan Tante Dena, semua langsung berpikir buruk tentang Ariel. Tak ada yang salah, hanya mereka saja yang belum mengenal Ariel.
"Sudah saya duga sih Pak, kedatangan Bapak dan para warga pasti karena ucapan Ibu Dena kemarin. Sebenarnya saya tidak mau menanggapi apa yang ia katakan kemarin karena memang saya bukan wanita simpanan Pak Robbie. Saya ... istrinya," jawab Ariel dengan jujur.
Tentu saja tak ada yang mempercayai ucapan Ariel, apalagi para warga yang sudah mulai emosi dan berpikiran buruk tentang Ariel dan Om Bobby yang disangkanya sudah melakukan kumpul kebo sehingga mengakibatkan mereka sering mengalami kesialan, entah dalam bisnis, rumah tangga ataupun kehidupan sehari-harinya. Semua menyalahkan Ariel karena dianggap sebagai pembawa sial.
Warga pun mulai menunjukkan reaksi atas ucapan Ariel. "Jangan percaya, Pak! Maling mana ada sih yang mau ngaku?"
Emosi Ariel pun tersulut mendengar warga yang menyudutkannya. "Maling? Mohon maaf Pak, saya bukan maling. Tolong Bapak jaga ya ucapan Bapak," kata Ariel dengan tegas.
"Heh, jangan asal tunjuk suami saya dong! Kamu tuh memang maling, maling suami orang! Ngaku aja deh, jangan sok suci padahal kenyataannya busuk!" Ternyata istrinya tak terima sang suami dibalas ucapannya oleh Ariel. Warga yang lain pun jadi ikut-ikutan.
"Iya, jangan sok suci jadi orang!"
"Sudah melakukan dosa, bukannya bertobat malah bikin kita semua jadi ikut sial!"
"Udah deh, usir aja orang kayak begitu! Siapa yang mau punya tetangga tukang kumpul kebo macam dia!"
Suasana mulai semakin memanas saja. Ariel sendirian melawan para warga yang terlihat emosi dan ingin menghakiminya. Ariel tak takut sedikitpun. Kalau dulu waktu masih muda dan melakukan pekerjaan hina, ia pasti akan takut. Kini, Ariel merasa dirinya berada di pihak yang benar. Mau menghadapi banyak massa pun dia tak takut. "Apakah kalian ada bukti kalau saya melakukan kumpul kebo? Saya sudah menikah dengan Bapak Robbie. Apakah orang yang sudah menikah dibilang kumpul kebo? Jangan asal menuduh ya kalian!"
__ADS_1
*****