Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Kami Berbeda!


__ADS_3

Senyum di wajah Om Bobby menghilang saat melihat Ariel yang terlihat serius dan marah padanya. Sejak pertama kali bertemu, Om Bobby memang sadar kalau Ariel adalah wanita sumbu pendek. Bukan sekali ini saja ia marah dan meluapkan emosinya, tadi siang pun di kantor Ariel langsung mendatangi Sinta dan melabraknya tanpa kenal takut.


Yang tidak dipikirkan oleh Om Bobby adalah Ariel akan marah saat ia mengungkit tentang Lisa, mantan istrinya yang sudah lama tiada. Om Bobby masih belum menyadari kesalahan yang sudah ia perbuat. Apa salahnya memakai sabun milik Lisa? Sabun itu selalu diganti oleh pelayan di rumah ini. Bukan sabun yang sudah kadaluarsa tentunya.


"Yang, kamu marah?" tanya Om Bobby dengan polosnya.


"Menurut kamu? Aku senang kamu terus menyamakan aku dengan mantan istri kamu? Udah cukup ya aku dimirip-miripkan dengan dia. Aku tahu, aku mendapatkan pekerjaan dan bisa mengenalmu karena aku mirip dengan almarhum istrimu itu. Namun setelah aku lihat, kami tidak mirip sama sekali!" kata Ariel dengan kesal.


"Kata siapa tak mirip? Kalian mirip kok. Kalau kamu tersenyum kalian mirip sekali menurutku. Itu saja sudah cukup."


"Sudah cukup? Maksud kamu apa? Aku tidak mirip sama sekali dengan dia. Kamu yang terus-menerus berimajinasi seakan aku ini mirip dengan dia. Kami berbeda jauh. Asal usul keluarga kami berbeda, kami tidak bersaudara, tidak ada hubungan darah sama sekali, dia berpendidikan dan aku kurang pintar. Tak Ada kemiripan sama sekali antara aku dan dia. Kalau masalah senyum, aku akan menghilangkan semua senyum di wajahku agar kamu tak pernah lagi melihat sosok dirinya dalam diriku lagi!" Dengan kesal Ariel berjalan meninggalkan Om Bobby dan masuk ke dalam kamar. Ia mengambil baju yang dibelikan oleh Om Bobby dan membukanya dengan paksa. Ia merobek plastik pembungkusnya dan memakai baju yang bersih dan harum tersebut. Baju baru yang khusus dibelikan untuknya.


"Aku minta maaf kalau sudah membuat kamu marah. Aku tak ada maksud untuk menyamakan kalian berdua. Jangan marah lagi ya!" Om Bobby berusaha membujuk Ariel. Dia memeluk Ariel dari belakang namun tangannya malah dilepaskan oleh Ariel.


Hati Ariel masih sangat marah karena ia terus-menerus menahan perasaannya selama ini. Ariel tak suka dibilang mirip oleh Lisa. Bukan karena Lisa jelek, menyebalkan atau berbeda jauh dari dirinya. Ariel hanya tak mau Om Bobby terus menatapnya sebagai mantan istrinya. Sebodoh apapun, sekelam apapun masa lalunya, tetap saja ia tak mau disamakan dengan Lisa.

__ADS_1


Ariel mau Om Bobby melihat diri Ariel secara utuh dan apa adanya. Bukan terus hidup dalam bayang-bayang Lisa, istrinya yang sudah meninggal. Percuma saja semua yang Ariel telah lakukan selama ini kalau Om Bobby tetap hidup dengan imajinasinya kalau Ariel itu mirip Lisa. Sia-sia saja bersaing dengan orang yang sudah tiada. Menang jadi kalah, kalau kalah ya tetap kalah, tak ada untungnya sama sekali.


"Yang, please. Kita ke sini untuk senang-senang. Kita ke sini untuk nge-date. Aku sengaja memperkenalkan kamu dengan Prisa, adikku. Itu artinya kamu tuh berharga di mataku. Aku ingin keluargaku mengenal kamu lalu aku akan memberitahu kepada mereka tentang status kamu. Kenapa kita jadi bertengkar sih?" bujuk Om Bobby dengan lembut. Om Bobby paham cara menghadapi Ariel adalah dengan sikap lembut dan sabar, jangan ikut terpancing emosi. Bisa tambah lebar nanti masalahnya.


"Aku juga tidak ingin bertengkar sama kamu. Aku juga tak ingin merusak momen hari bahagia kita kali ini. Aku bukan marah, aku hanya sedih. Aku tak suka saja kalau kamu terus menganggap kalau aku mirip Lisa. Aku bukan Lisa, aku Ariel Anastasia. Wanita murahan yang dulu mengenal kamu karena butuh uang. Wanita yang berstatus janda beranak satu yang kamu nikahi secara siri. Satu-satunya persamaan aku dan Lisa adalah kami berdua sama-sama mencintai kamu." Ariel tak sanggup lagi menahan air matanya. Rasanya sakit sekali saat mengatakan isi hatinya. Rasanya menyedihkan sekali harus memohon untuk dianggap ada.


"Iya. Aku minta maaf." Om Bobby maju dan memeluknya.


Lagi-lagi Ariel melepaskan pelukan Om Bobby. Ia tahu, Om Bobby hanya meminta maaf untuk meredam emosinya, bukan benar-benar menyesali perbuatannya. Mau sampai kapan seperti ini? Apakah Ariel tak berhak untuk memperjuangkan perasaannya? Apakah Ariel tak berhak untuk menolak dianggap kalau dirinya bukanlah Lisa?


Sebenarnya Ariel tak tahu mau ke mana namun Ariel memilih untuk pergi ke halaman belakang dan menatap kolam renang yang terlihat jernih tersebut. Ariel ingin menenangkan dirinya yang sangat emosi dan sedih.


Prisa yang sedang mengambil air minum melihat Ariel yang duduk di tepi kolam dengan tatapan kosong dan terlihat sedih pun datang menghampiri. Ariel yang tadi dilihatnya begitu galak, tegas dan ceria sekarang malah terlihat sedih. Timbul rasa penasaran dalam diri Prisa tentang kakak iparnya tersebut.


"Kenapa Kak Ariel berada di luar? Bertengkar sama Kak Robbie? " tanya Prisa. Prisa memberikan minuman kaleng dingin pada Ariel yang ia ambil dari lemari es. Ariel menerima minuman pemberian Prisa sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


"Iya. Kami bertengkar. Kamu tak perlu tahu, kamu masih kecil. Ini urusan orang dewasa." Ariel membuka minuman kaleng tersebut dan meminumnya, terasa segar rasanya saat rasa manis dan dingin memenuhi perutnya.


"Aku memang masih kecil namun aku tahu apa yang kalian ributkan."


"Apa?" tantang Ariel.


"Kak Lisa bukan?" tebak Prisa. Rupanya anak remaja ini sangat peka dan bisa tahu apa penyebab pertengkaran mereka.


"Kamu nguping ya?" Ariel terus menatap Prisa yang malah tersenyum kecil.


"Tak perlu menguping untuk tahu masalah apa yang akan kalian hadapi. Masuk ke dalam kamar Kak Robbie sama saja seperti masuk ke dalam kamar yang berisi kenangan tentang Kak Lisa. Meski aku masih remaja, aku tahu kalau orang yang kita cintai masih hidup dalam bayang-bayang masa lalunya pasti sangat sakit sekali. Percayalah, sudah lama aku ingin membuang semua kenangan tentang Kak Lisa namun Kak Robbie tak pernah ijinkan."


"Karena Kakakmu sangat mencintainya bukan? Jadi susah move on," cibir Ariel.


"Tet, kamu salah. Bukan karena sangat mencintainya. Kakak masih menyimpan semuanya karena ... merasa bersalah. Mau aku ceritakan kisah mereka?"

__ADS_1


****


__ADS_2