Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Kedatangan Mama Tita


__ADS_3

"Robbie mana?" tanya Mama Tita pada asisten rumah tangga Om Bobby saat membukakan pintu untuknya.


"Bapak sedang pergi bersama Ibu Ariel ke dokter."


"Ke dokter? Siapa yang sakit?" tanya Mama Tita dengan kedua alis bertaut. Seingatnya, Om Bobby adalah anak yang jarang sekali sakit. Daya tahan tubuhnya kuat.


"Bukan sakit, Bu. Bapak sedang mengantar Ibu Ariel periksa kandungan," jawab asisten rumah tangga Ariel dengan jujur.


"Periksa kandungan?" Kening Mama Tita sudah berkerut dalam mendengar jawaban yang membuatnya penasaran.


"Iya, Bu. Kemarin Bapak bilang kalau Ibu Ariel sedang hamil."


"Ariel hamil?" Mama Tita merasa tak percaya. Tak mungkin Ariel hamil. Bukankah Om Bobby didiagnosa sulit memiliki momongan? Hal itu yang membuat Om Bobby susah move on dari Lisa, karena ia bukan hanya kehilangan Lisa namun ia juga kehilangan anak yang ia impikan selama ini.


"Betul, Bu. Kemarin, Bapak Robbie meminta saya untuk membantu pekerjaan Ibu Ariel mulai sekarang. Ibu Ariel tidak boleh kelelahan dan memegang pekerjaan yang berat-berat. Bapak berpesan selama Ibu Ariel sedang hamil sampai nanti setelah melahirkan, Ibu Ariel harus terus dipantau dan dijaga."


Rasanya tak percaya mendengar jawaban yang diberikan oleh asisten rumah tangga Om Bobby tersebut. Hati Mama Tita makin ragu, benarkah Ariel hamil anaknya Om Bobby?


"Sudah lama?"

__ADS_1


"Sudah, Bu. Sejak tadi pagi."


"Baiklah, saya akan tunggu. Tolong siapkan jus buah dan juga cemilan yang sehat ya! Saya tunggu di dalam!" Bak rumahnya sendiri, Mama Tita masuk ke dalam ruang tengah dan melihat-lihat kondisi rumah Om Bobby yang kini berbeda dibanding sebelumnya.


Rasanya sudah lama sekali Mama Tita tidak menginjakkan kaki di rumah anaknya tersebut. Semenjak Om Bobby menikah dengan Ariel, Mama Tita seakan enggan untuk mengunjungi anaknya karena malas melihat wajah Ariel yang mengingatkannya akan masa lalunya yang buruk tersebut.


Rumah Om Bobby terlihat lebih rapi dan hangat. Ariel mengubah beberapa perabotan rumah Om Bobby yang semula terlihat kaku namun kini memiliki dekorasi yang bagus. Furniture yang dipilih juga kualitasnya bagus. Mama Tita kali ini mengagumi selera Ariel dalam menata rumah anaknya. "Tidak buruk juga," gumam Mama Tita dengan suara pelan.


Mama Tita lalu berkeliling rumah. Ia masuk ke dalam kamar Galang. Kamar tersebut sudah dirubah sedemikian rupa, semula kamar tamu, kini menjadi kamar anak dengan dekorasi yang lucu dan membuat anak betah dan nyaman untuk tidur sendiri. Mama Tita menutup pintu kamar Galang lalu pergi ke kamar utama. Asisten rumah tangga Ariel tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak berani melarang karena tahu kalau wanita yang datang ke rumah mereka adalah orang tua dari pemilik rumah tempat ia bekerja.


Kamar Ariel dan Bobby juga berubah. Terdapat ranjang besar yang baru dengan lemari kaca berisi koleksi tas milik Ariel. Ada beberapa tas yang Mama Tita tahu harganya lumayan mahal. "Paling Robbie yang beliin!" cibir mama Tita.


Di dalam mata Mama Tita, Ariel tak pernah terlihat bagus sama sekali, selalu saja ada salahnya. Ia masih kesal karena Ariel menikah dengan anaknya. Anak yang selama ini ia banggakan karena ia berhasil membiayainya dengan jerih payahnya sampai kini menjadi orang yang sukses. Sayangnya, Om Bobby malah menyukai wanita seperti Ariel dengan masa lalu yang buruk. Susah payah Mama Tita menikahkan Om Bobby dengan Lisa yang berasal dari keluarga berada dan terpandang, Om Bobby malah memilih menikah dengan Ariel yang punya masa lalu kelam.


Mama Tita lalu keluar dari kamar dan duduk di ruang tengah. Sudah ada jus buah, buah segar yang sudah dikupas dan juga keripik buatan Ariel tentunya. Mama Tita justru tertarik dengan keripik dibanding jus dan buah yang disajikan. Ia membuka toples dan melihat di dalam toples tersebut terdapat aneka sayuran yang dibuat menjadi keripik. "Apa ini? Buncis kok bisa dijadikan keripik? Bayam juga? Eh ada wortel juga? Wah kreatif sekali pembuatnya."


Mama Tita mengambil bermacam sayuran yang dijadikan keripik dan memakannya dengan lahap. Ariel memang membuat produk baru yakni kripik sayur. Setelah beberapa kali melakukan percobaan, Ariel berhasil membuat keripik sayur yang renyah dan tahan lama meski tanpa bahan pengawet. Bahan-bahan yang ia dapatkan juga mudah, hasil panen para petani di sekitar rumah Ibu dan Bapak Ariel di kampung. Ia beli lalu diubahnya menjadi keripik dengan harga jual yang lumayan. Karyawan Ariel juga sekarang lebih banyak. Perekonomian para tetangga Ariel juga semakin meningkat.


"Mm ... enak!" Mama Tita mengambil lagi keripik yang lain. Ia bahkan mengangkat toples keripik dan memeluknya seakam tak rela membagi pada yang lain. Ia menikmati setengah toples keripik sendirian seraya menonton televisi.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara mobil mengklakson pintu pagar rumah. Dengan sigap asisten rumah tangga Ariel pergi keluar dan membukakan pintu untuk majikannya. Suara ramai langsung terdengar memasuki rumah nyaman mereka. Galang berceloteh terus tanpa henti saat melihat foto USG calon adiknya. Om Bobby yang bawel dan tidak ingin Ariel jalan terburu-buru. Ia begitu over protektif dan tak mau Ariel sampai terluka sedikitpun.


"Galang, nanti fotonya kita kumpulin ya! Jangan kamu robek atau rusak. Om Papa mau nanti kita masukkan ke dalam satu bingkai besar agar adik kamu bisa tahu bagaimana perkembangannya dari kecil," pesan Om Bobby pada Galang.


"Iya, Om Papa. Galang mau lihat Adik Galang terus. Adik Galang masih kecil, lucu. Galang udah enggak sabar mau ketemu adik Galang!" kata Galang dengan penuh semangat.


Mama Tita yang mendengar percakapan dari ruang tamu kembali mencibir. "Cih, adik? Om Papa? Kamu tuh bukan anaknya Robbie tahu!"


Om Bobby lalu diberitahu oleh asisten rumah tangganya kalau ada Mamanya yang menunggu di ruang tengah. "Mama?" Om Bobby mempercepat langkahnya untuk menemui sang Mama yang sudah menunggu di ruang tengah sambil memakan keripik tanpa henti.


"Mama sudah lama? Kok enggak bilang sama Robbie sih kalau Mama mau datang?" Om Bobby mengulurkan tangannya untuk salim.


Seakan tak rela melepas keripik yang sangat enak, Mama Tita tetap memeluk toples keripik di tangan kiri dan mengulurkan tangan kanannya pada Om Bobby untuk salim. "Memangnya seorang Mama harus mengabari dulu kalau mau bertemu anaknya?" balas mama Tita dengan ketus.


"Ya ... kalau aku tahu ada Mama, aku akan pulang lebih cepat. Mama sama siapa? Sendirian saja? Prisa enggak ikut?" Om Bobby berbicara namun matanya menatap ke arah Ariel yang terlihat ragu ingin mendekat. Om Bobby melambaikan tangannya dan meyakinkan Ariel kalau ia akan melindungi jika Mamanya berbuat hal yang menyakitkan hatinya nanti.


"Biarkan aja." Mama Tita pun melihat ke arah Ariel dengan tatapan yang sinis. Ia tetap tidak suka dengan menantunya tersebut. "Suruh dia masuk ke kamar deh! Mama muak melihat mukanya!"


****

__ADS_1


__ADS_2