Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Menyambut Kepulangan Om Bobby


__ADS_3

Jalanan Ibukota yang macet membuat Om Bobby yang sudah pulang terlambat semakin malam sampai rumahnya. Ia sudah berusaha untuk pulang cepat namun apa daya, banyak kendala kendala yang ditemui, mulai dari syuting yang berantakan, Sinta yang bekerjanya tidak maksimal ditambah jalanan yang macet membuat Om Bobby baru sampai rumah sekitar jam 10 malam.


Saat di jalan, Om Bobby berhenti sebentar membeli ayam bakar untuk Ariel dan Galang. Kedatangan Om Bobby disambut dengan suara Galang yang ternyata belum tidur. Galang berlari ke arah Om Bobby dan langsung minta digendong. Ini yang Om Bobby suka, ada keluarga yang menyambutnya kala ia lelah bekerja.


"Loh, Galang belum tidur? Udah malam loh. Mama mana?" tanya Om Bobby.


Dengan pintarnya, Galang menarik tangan Om Bobby untuk salim. Sehabis salim, Galang lalu mencium pipi Om Bobby baru menjawab pertanyaannya. "Mama ... itu!" Galang menunjuk Ariel yang berjalan mendekati mereka berdua.


Wajah Ariel sudah tidak pucat seperti tadi pagi namun masih terlihat agak lemas. Ariel mengulurkan tangannya untuk salim pada Om Bobby, lelaki itu lalu memberikan tangannya kemudian mengecup kening Ariel.


"Gimana keadaan kamu? Masih pusing?" Tangan Om Bobby merangkul bahu Ariel sementara tangannya yang lainnya menggendong Galang. Ia mengajak Ariel dan Galang masuk ke dalam dan duduk di ruang TV.


"Udah lebih enakkan kok, Om ... eh Beb, tadi aku tidur puas sekali. Mungkin karena diberi obat tidur oleh dokter jadi mata aku seperti ada lemnya, tidur terus seharian, bahkan Galang aku titipkan sama si mbak. Ternyata bukan aku saja yang tidur terus, Galang juga tidur siangnya lama, makanya anak itu masih segar jam segini," jawab Ariel.


"Oh ... jadi Galang tidur siang ya? Kok pintar sih? Kalau tidur siang, otaknya jadi berkembang dan semakin pintar nanti. Oh iya, Galang mau lihat iklan yang kemarin Galang ikut syuting tidak?" Om Bobby mengeluarkan ponsel miliknya. Ariel dan Galang begitu penasaran dan tak sabar ingin melihat hasil kerja Galang kemarin.


Om Bobby memutarkan video dimana Galang berakting dengan natural dan ekspresi bahagianya. Pengambilan gambar yang bagus membuat iklan tersebut terlihat lebih hidup.

__ADS_1


"Wow Galang hebat ya. Pintar akting, bisa jadi artis nih? Mama tidak menyangka kalau Mama akan punya anak seorang artis loh." Ariel mengusap rambut Galang yang dipangku oleh om Bobby dengan penuh kasih sayang dan penuh rasa bangga.


"Galang tuh hebat loh, Yang. Model lain harus casting dan bersaing dahulu sementara Galang tidak."


Ariel tertawa lepas mendengar perkataan Om Bobby. "Jelas aja Galang tidak pakai casting, dia ada kenalan orang dalam!"


Om Bobby tersenyum dan memutarkan lagi video yang sangat Galang sukai tersebut. "Iya sih, Galang pakai orang dalam, namun orang dalamnya bukan orang dalam sembarangan yang asal comot model seenaknya. Harus model yang benar-benar berbakat dan memiliki ekspresi yang natural seperti Galang yang akan dipakai oleh orang dalam tersebut. Galang adalah model yang dipilih khusus. Ternyata apa yang aku pilih tidak salah bukan? Aku tuh memang bisa melihat bakat seseorang, termasuk bakat anak kecil menggambarkan ini!" Om Bobby mencubit pipi Galang dengan gemas. Cubitannya tidak sakit, malah membuat Galang tertawa.


"Om, Eh Beb, kamu udah makan belum? Kalau belum, aku akan minta Mbak untuk siapkan," tanya Ariel.


Om Bobby menepuk keningnya. Ia lupa kalau tadi ia membeli ayam bakar dan masih ada di dalam mobil. "Aku beli ayam bakar buat kalian, ketinggalan di mobil. Sebentar, aku ambil dulu ya!"


"Kamu nelpon siapa?" tanya Om Bobby penuh selidik.


"Oh ... Mas Wawan yang telepon. Biasa, menanyakan Galang," jawab Ariel dengan jujur.


"Lalu kenapa kamu sampai senyum-senyum begitu? Digodain ya sama dia?" tanya Om Bobby dengan raut wajah tidak suka.

__ADS_1


"Bukan, Beb. Mas Wawan itu tadi mau ketemu sama Galang, Mas Wawan lalu pergi ke rumah kamu yang lama. Jelas dia tidak ketemu sama aku dan Galang karena kita 'kan sudah pindah. Malah, Mas Wawan ketemu sama anjing tetangga yang menggonggong. Mas Wawan lalu kabur daripada dikejar." Ariel kembali tersenyum karena teringat kisah Wawan yang menceritakannya dengan lucu sampai ia jadi tertawa saat mendengarnya


"Terus? Dia masih mau ketemu sama Galang, gitu? Mau ke sini?" Pertanyaan Om Bobby terdengar semakin sinis saja.


"Iya, Mas Wawan pengen ketemu sama Galang. Mas Wawan bilang, dia udah beli mainan sesuai yang Galang mau. Kalau memang kamu enggak mengijinkan aku bertemu dengan Mas Wawan di rumah ini, aku akan membawa Galang ketemuan dengan papanya di tempat lain. Mungkin di Cafe depan atau di restoran cepat saji kesukaan Galang."


"Kenapa sih kamu harus mempertemukan Galang dan Wawan lagi? Bukankah Galang takut sama Papanya? Bukankah dia hanya akan merasakan trauma saat bertemu lagi dengan Papanya?"


"Beb, aku tahu apa yang terjadi di masa lalu antara aku dan Mas Wawan itu sedikit banyak membuat Galang trauma. Menjauhkan Galang dengan Mas Wawan itu bukan hal yang baik. Bagaimanapun Mas Wawan adalah Papa kandung dari Galang. Suka tidak suka, mau tidak mau, aku tak bisa memisahkan mereka berdua. Pengadilan memang sudah memenangkanku untuk mendapat hak asuh atas Galang, namun aku tak boleh membatasi Mas Wawan untuk bertemu dengan Galang. Kalau aku melanggar, bukankah Mas Wawan bisa menuntut balik?" Ariel berusaha tenang menjelaskan sesuatu yang ia tahu membuat Om Bobby terlihat kesal.


Setelah diam sejenak seraya memikirkan kata-kata Ariel, Om Bobby pun berkata, "Jam berapa kalian akan ketemuan? Enggak bisa diundur sampai weekend gitu, biar aku bisa menemani? Kamu baru enakan loh, kamu harus banyak istirahat, dokter yang bilang bukan aku." Sebisa mungkin Om Bobby mencegah Ariel untuk bertemu dengan Wawan. Sakit Ariel akan digunakannya sebagai senjata agar rencana Ariel bertemu dengan Wawan batal.


"Aku udah enakan kok, Beb. Aku juga tahu kalau aku harus menjaga kesehatanku karena itu aku mau ketemunya tidak jauh dari rumah. Aku sih menyarankan di restoran cepat saji agar Galang bisa main perosotan dan aku tidak terlalu lelah mengejar-ngejarnya, boleh ya?" Ariel merangkul lengan Om Bobby dan memberikan puppy eyes guna membujuk suaminya agar mau memberikan izin.


Dengan berat hati terpaksa Om Bobby memberikan izin. Aebenarnya Om Bobby mau menemani namun besok masih ada syuting di luar kantor. Sinta yang lagi-lagi menjadi modelnya. Ia tak bisa meninggalkan proses syuting karena ingin hasil yang terbaik untuk iklan dengan bayaran fantastis tersebut. "Oke. Jangan lama-lama dan terus mengabari aku!"


Ariel tersenyum lebar setelah mendapat izin dari Om Bobby. Terima kasih ya, Beb! Kamu baik deh. Yuk, sekarang kita makan ayam bakarnya!"

__ADS_1


***


__ADS_2