Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Mama Tita


__ADS_3

"Siap!" jawab Ariel.


Ariel sadar mereka akan menghadapi masalah terberat dalam rumah tangga mereka, yakni Mama kandung Om Bobby. Mendapatkan restu darinya bukan hal yang mudah. Saat mendengar kalau Ariel sudah memiliki anak saja ekspresinya langsung berubah, semakin menyeramkan. Semakin terlihat menakutkan, apalagi saat nanti sang mertua tahu kalau Ariel bukanlah wanita baik-baik, pasti ia akan semakin dipandang sebelah mata.


Awalnya Ariel takut. Ia khawatir Om Bobby akan meninggalkannya dan lebih mendengarkan ucapan Mamanya. Namun setelah melihat kalau Om Bobby malah mengulurkan tangan untuknya dan mensuport dirinya apapun yang terjadi nanti, timbul rasa yakin dalam diri Ariel kalau suaminya tersebut akan dapat melindunginya dan tak akan pernah meninggalkannya sampai kapanpun.


"Kalau kamu merasa ucapan Mama terlalu menyakitkan, tak usah kamu jawab dan cukup tutup telinga kamu saja. Lihatlah Prisa, anak itu hidup dengan menyimpan banyak rasa kecewa dalam dirinya. Ia sering melihat Mama berganti suami. Prisa menganggap kalau Papanya adalah lelaki terakhir setelah Papaku dalam hidup Mama, namun nyatanya Mamaku tetap saja centil dan beberapa kali berganti suami. Pak RT juga males mencatat siapa suami Mama saat ini. Aku pun tidak tahu namanya karena terlalu seringnya Mama berganti pasangan,"


"Prisa berani melawan Mama karena menganggap kalau dirinya adalah pemilik dari semua kekayaan ini. Berbeda denganku. Aku bukannya tidak berani namun aku tahu bagaimana perjuangan Mama dalam membesarkanku seorang diri sampai akhirnya bisa bertemu dengan Papanya Prisa dan hidup dengan nyaman seperti sekarang. Aku menghormati Mama. Tanpa jasa Mama, aku takkan mungkin bisa berada di hidupku yang sekarang. Walaupun kamu marah nanti, tolong hargai Mamaku. Kamu boleh membalas tapi lebih baik kamu menahan diri. Bukankah menahan amarah dan bersikap sabar lebih baik daripada meluapkan emosi?" pesan Om Bobby saat mereka tengah bersiap-siap hendak pulang.


Ariel teringat cerita Om Bobby kalau dirinya dibesarkan oleh sang Mama yang berstatus sebagai single parent. Apa yang Om Bobby alami adalah apa yang Galang alami. Beruntung Ariel kini sudah menikah lagi dan mendapatkan suami yang bisa membiayai hidupnya dulu, Mamanya Om Bobby cukup lama bekerja keras seorang sendiri menghidupi sang anak sampai akhirnya bertemu dengan suami yang bisa membiayai semua kebutuhan hidupnya.

__ADS_1


Kurang lebih, Ariel pernah merasakan posisi yang dialami oleh Mama Tita. Kalau ada yang mengatakan siapa yang paling mengerti apa yang dirasakan oleh Mama Tita, tentu Ariel adalah orangnya. "Iya, Beb. Aku akan menahan amarahku," janji Ariel.


Om Bobby lalu mengajak Ariel turun dan setelah berpapasan dengan Prisa, Om Bobby semakin yakin kalau sang Mama sudah sangat marah dengan apa yang ia lakukan. Tak apa, semua sudah menjadi resiko yang harus Om Bobby ambil jika ingin menikahi Ariel. Mau bagaimana lagi, terkadang Tuhan suka bercanda agak keterlaluan dengan memberikan takdir yang bagai permainan jungkat jungkit. Yang berada di atas sebelumnya juga berasal dari bawah bukan?


"Kamu mau langsung pulang? Duduk dulu! Mama belum selesai ya bicara sama kamu!" kata Mama Tita dengan tegas.


Om Bobby menaruh tas miliknya di atas lantai lalu mengulurkan tangan pada Ariel. Berdua mereka duduk di sofa tepat di seberang Mama Tita. Mama Tita terus memperhatikan pasangan suami istri yang menikah diam-diam tanpa restunya tersebut dengan tatapan tajam dan bahkan tidak berkedip sedikitpun. "Kapan kalian menikah?"


"Apa? Sudah beberapa bulan yang lalu? Kenapa kamu baru datang sekarang dan memberitahu Mama?" Kemarahan Mama Tita semakin bertambah saja. Mama Tita pikir mereka baru menikah beberapa hari namun ternyata sudah beberapa bulan dan anaknya dengan rapat menyembunyikan pernikahan tersebut dari dirinya. Pantas saja Om Bobby tak pernah pulang ke Bandung, rupanya ada rahasia yang selama ini ia tutupi.


"Aku sibuk, sedang ada banyak syuting iklan di kantor. Toh, Mama juga jarang di rumah bukan? Aku dengar dari Prisa, Mama jalan-jalan terus ke luar negeri dengan gebetan Mama yang baru. Jadi ... nanti saja aku beritahunya kalau aku sempat. Kebetulan baru sekarang aku sempat jadi ya udah aku bawa deh," jawab Om Bobby dengan santai.

__ADS_1


Mama Tita menghirup udara banyak-banyak untuk menambah stok sabar dalam dirinya. Ia sangat marah bahkan rasanya ingin berteriak dan mengamuk saja karena kesal dianggap tidak ada dan merasa tidak dihargai oleh anaknya sendiri. "Setidaknya, kamu bisa bertanya sama Mama terlebih dahulu sebelum kamu menikahi dia. Kamu kenal dia di mana?" tanya Mama Tita yang bahkan tak sudi untuk menyebut nama dan menunjuk ke arah Ariel dengan tangannya.


"Dia? Namanya Ariel, Ma. Bukan Dia. Masalah aku kenal Ariel dimana, itu bukan urusan Mama. Proses aku bisa bersama Ariel juga tak perlu Mama tahu. Intinya, aku menikahi Ariel karena aku sudah memilih dia untuk menjadi istriku. Aku tahu bagaimana karakternya yang membuat aku merasa yakin untuk menjadikannya istriku," jawab Om Bobby dengan penuh keyakinan.


"Terserah namanya siapa, Mama tidak peduli. Yang jelas, Mama harus tahu bagaimana bibit, bebet dan bobot dia agar bisa pantas menjadi istri kamu. Robbie, kamu adalah pemimpin perusahaan iklan yang besar di Jakarta. Kamu hebat, mandiri dan sukses. Apa keistimewaan wanita ini dibanding para gadis yang mengenal kamu dan begitu menggilai kamu? Banyak model yang cantik, pintar dan begitu potensial untuk menjadi istrimu di kantor, kenapa kamu malah memilih wanita yang sudah punya anak? Dia hamil diluar nikah atau ditinggalkan suaminya?" ucapan Mama Tita semakin pedas dan menyakitkan saja. Sebisa mungkin Ariel menahan kesabarannya, seperti janjinya pada Om Bobby.


Tangan Ariel mulai terasa dingin. Om Bobby meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Dalam genggaman tangan hangat dan kekar milik suaminya, Ariel merasa seperti berlindung di balik benteng kokoh yang akan selalu melindunginya dalam setiap keadaan.


"Ariel sudah bercerai dari suaminya. Kenapa aku memilih Ariel dibanding yang lain padahal statusnya adalah seorang janda yang memiliki seorang anak, jawabannya sudah jelas. Aku merasa Ariel lebih baik dibanding semua wanita yang mengejarku. Mereka melihat aku sangat hebat, sangat keren tapi ternyata mereka tidak tahu bahwa aku memiliki kekurangan yang justru membuat aku terlihat begitu lemah, pengecut dan rendah diri. Hanya Ariel yang bisa mengembalikanku menjadi diriku yang hebat dan membuat hidupku yang semula hitam putih kembali berwarna. Hanya Ariel, Ma. Bukan wanita lain," jawab Om Bobby.


Tak lama ponsel Mama Tita berbunyi. Ia diam seraya mendengarkan yang meneleponnya. Tak lama Mama Tita mengakhiri panggilannya. Mama Tita menatap Ariel dengan lekat seraya tersenyum sinis. "Hanya Ariel, Ma. Hanya Ariel. Cih! Memang kamu pikir Mama tak tahu dia siapa? Dia itu mantan simpanannya Sam, bukan? Pantas Mama merasa tak asing dengan wajahnya. Wanita seperti ini yang kamu puja puji? Sudah buta kamu?"

__ADS_1


****


__ADS_2