
Ariel membuka matanya seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Om Bobby baru saja mengatakan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Ariel sampai tertegun dan tak mengedipkan matanya saat mendengar pernyataan cinta yang selama ini ia tunggu-tunggu.
"Tuh ... malah bengong. Aneh ya?" protes Om Bobby.
"Ti-tidak. Tidak aneh sama sekali. Aku ... sangat suka mendengarnya. Indah sekali," puji Ariel.
"Indah darimana, Yang? Kayaknya biasa aja. Malah agak kaku."
"Itu menurutmu, Beb. Bagi aku tuh indah banget mendengar kata-kata itu dari bibir seksi kamu ini." Ariel memegang wajah Om Bobby dan mengecup bibir Om Bobby dengan lembut.
Om Bobby melepaskan kecupan Ariel. "Udah malam. Bobo yuk!"
"Ih kok gitu sih? Malu banget ya? Enggak apa-apa kok. Aku senang kamu bilang begitu." Ariel salah paham dan menduga kalau Om Bobby malu karena habis mengungkapkan perasaannya padahal Om Bobby sengaja menghindar karena celananya terasa sesak. Joni terus mendesak untuk dipuaskan padahal Om Bobby ingin memberi Ariel waktu untuk istirahat.
"Udah malam. Aku bobo ya! Met malam!" Om Bobby berbalik badan dan sengaja menghindari Ariel namun Ariel yang gemas dengan sikap Om Bobby yang dianggap malu-malu malah memeluknya dari belakang dan menempelkan tubuhnya. Hal ini malah membuat celananya makin sesak karena ulah Joni.
Om Bobby sekuat mungkin menahan dirinya. Demi rasa sayangnya terhadap Ariel, ia harus kuat menahan keinginan Joni. Ariel yang memeluk Om Bobby tak sengaja mengenai Joni. "Loh, apa ini?"
Om Bobby tak menjawab apa-apa. Ia pura-pura tidur agar Ariel tak makin penasaran. Sayangnya, bukan Ariel kalau tidak penasaran. "Beb, Joni bereaksi ya?"
Lagi-lagi Om Bobby tak menjawab.
"Beb. Oh ... jadi dari tadi kamu diam karena menyembunyikan Joni ya?" Ariel yang tidak bodoh langsung menyadari apa yang suaminya lakukan. "Joni mau digoyang?"
"Sudah malam, Yang. Tidurlah, kamu pasti lelah," kata Om Bobby.
"Kata siapa aku lelah? Aku tidak lelah sama sekali. Aku malah terlalu bersemangat memasak. Semangatku makin bertambah saat kamu mengatakan cinta. Jadi ... ayo kita buat Joni senang!" ajak Ariel.
"Tak usah. Kamu tidur saja. Kamu butuh istirahat. Nanti juga Joni akan tidur sendiri," tolak Om Bobby meski hatinya meronta-ronta ingin bilang iya.
"Aku akan istirahat setelah Joni senang. Yuk!"
Om Bobby berbalik badan seraya tersenyum malu. "Iya deh kalau kamu memaksa. Aku dan Joni bisa apa?"
__ADS_1
Ariel tersenyum dan di saat mereka akan memulai ritual menyenangkan Joni, suara tangis Galang terdengar dari luar. Anak itu memukul pintu kamar Om Bobby dan meminta dibukakan. "Mama! Huhuhu ... Mama!"
"Galang bangun, Beb. Kita lanjut nanti saja!" Ariel cepat-cepat bangun dan menghampiri Galang. Lampu ruang tengah sudah dimatikan. Galang pasti takut berada di luar dalam keadaan gelap. Anak itu menangis makin kencang. Ariel membuka pintu lalu memeluk Galang dan menenangkannya. "Cup cup, anak Mama kenapa nangis?"
"Galang takut huaaa!" Galang kembali menangis.
"Sudah ya jangan nangis. Ayo, Mama temani kamu bobo!" bujuk Ariel.
"Mama jangan tinggalin Galang," rengek Galang. "Mama bobo sama Galang saja."
"Iya. Mama bobo sama Galang. Yuk kita ke kamar!" Ariel memberi kode pada Om Bobby untuk menemani Galang.
Om Bobby menatap Joni dengan tatapan kecewa. "Gagal kita, Jon. Mama Ariel siapa yang punya, Mama Ariel siapa yang punya, yang punya Galang saja. Huft ... Joni sama Papa Bobby aja ya!"
Joni tiba-tiba melemah dan kembali tertidur, seakan takut dengan ucapan Bobby. "Ish, Joni rese! Maunya sama Mama Ariel saja! Yaudah tidur aja deh. Oh Galang ... kamu tidak kasihan sama Om Papa?"
*****
Ariel membeli banyak bahan untuk membuat keripik. Hari ini sticker yang ia pesan sudah datang. Rasanya tak sabar ingin mengemas keripik yang sudah ia buat.
Meski sibuk di dapur, Ariel tak melupakan kewajibannya mengurus Om Bobby. Makanan dan pakaian bersih sudah tersedia. Ariel mau bisnisnya bisa berjalan bersama dengan rumah tangganya.
Saat tengah mengemas keripik, pintu rumah tiba-tiba terbuka. Ariel dan asisten rumah tangganya saling tatap karena tak ada suara mobil dan pasti bukan Om Bobby yang pulang.
"Siapa, Mbak?" tanya Ariel.
"Tidak tahu, Bu."
"Ayo kita lihat sama-sama." Ariel takut ada maling yang masuk di siang hari. Dengan membawa wajan, Ariel dan asisten rumah tangganya bak syuting adegan film, mengendap-endap untuk melihat siapa yang datang.
"Mau ngapain, Kak?"
Ariel meloncat kaget saat mendengar suara dari belakang saat ia sedang mengintip dari ruang tengah. Ariel berbalik badan dan melihat anak remaja sedang tersenyum padanya. "Prisa? Ih, kamu ngagetin aku saja!"
__ADS_1
Prisa tersenyum melihat ekspresi Ariel. "Kakak pikir aku maling ya? Sampai bawa wajan segala." Prisa mengangkat kunci di tangannya. "Aku punya kunci rumah ini. Aku pikir Kak Ariel tinggal di rumah Kak Robbie yang satu lagi jadi aku masuk sendiri saja karena biasanya rumah ini kosong."
Ariel menghela nafas lega. "Iya. Aku pikir kamu maling. Maaf aku sedang sibuk di dapur. Kamu sama siapa? Naik apa?"
"Aku sama supir tapi dia sudah aku suruh pulang lagi. Kakak buat apa?" Prisa pergi ke dapur dan melihat banyak keripik. "Wow, banyak sekali keripiknya. Kak Ariel buat semua ini? Untuk apa?"
"Mau aku jual di acara bazar. Cobalah!"
Prisa mencuci tangannya lalu mencicip keripik buatan Ariel. "Enak banget."
"Benarkah? Semoga nanti laku ya!"
"Kakak baru jualan?" Prisa mengambil lagi keripik buatan Ariel dan memakannya.
"Iya. Kakak baru saja mulai usaha. Kakak mau belajar bisnis keripik."
"Kak, mau makan pakai nasi dong. Enak banget dimakan pakai nasi panas," pinta Prisa tanpa malu.
"Oke, siap." Asisten rumah tangga Ariel dengan sigap mengambilkan nasi untuk Prisa. "Aku senang deh kalau kamu suka. Nanti aku bawakan untuk kamu yang banyak ya!"
"Tak usah. Aku beli saja. Aku tak mau membuat Kak Ariel rugi. Sudah susah payah membuatnya eh mau dikasih ke aku."
"Enggak apa-apa kalau buat kamu. Namanya juga lagi belajar bisnis."
"Enggak mau. Pokoknya aku beli. Kapan bazarnya?" Prisa memakan nasi dengan keripik kentang dan tempe buatan Ariel. Ia makan dengan lahap.
"Hari sabtu besok."
"Aku bantu jualan ya! Aku mau menginap seminggu di rumah Kakak."
"Loh, sekolah kamu gimana?" tanya Ariel.
"Aku libur, Kak. Aku bosan di Bandung. Pegel telingaku mendengar Mama ngomel terus."
__ADS_1
Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba Galang yang baru bangun tidur datang. Ia melihat ada orang asing di rumahnya. "Ma, kok ada nenek sihir?"
****