Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Menambah Kerusuhan


__ADS_3

Para warga mulai ramai, mereka berdengung seakan memberi masukan akan bicara apa lagi. Tiba-tiba dari dalam kerumunan warga muncullah Om Sam. Ariel pikir Om Sam akan membantunya menghadapi kemarahan para warga. Timbul secercah harapan dalam diri Ariel. Dia tidak sendirian. Om Sam pasti akan membantunya keluar dari masalah ini.


"Mohon tenang semuanya!" Om Sam berjalan mendekat ke arah Ariel.


Warga yang mengenal Om Sam pun terdiam. Mereka mengenal Om Sam, salah seorang warga pindahan yang tampan dan ramah pada setiap warga komplek. Wajah Om Sam yang lumayan tampan menjadi salah satu nilai plus yang ia miliki, yang menjadi daya tarik warga.


"Sebelumnya saya mohon maaf atas kekacauan yang terjadi," kata Om Sam.


"Kok Bapak minta maaf sih? Bapak tidak salah apa-apa kok, kenapa minta maaf?" tanya salah seorang ibu-ibu yang rupanya sudah lama ngefans dengan Om Sam karena sering disapa saat berpapasan di jalan.


"Saya minta maaf sekali. Semua terjadi karena kesalahan saya." Om Sam berjalan mendekat ke arah pagar rumah dan berhenti di dekat Ariel. Tatapan matanya ke Ariel seolah memberi kode kalau dirinya akan membela Ariel.


Warga terdiam dan menunggu perkataan Om Sam berikutnya. "Saya mendengar kalau di acara bazar kemarin terjadi keributan yang dibuat oleh Dena, mantan istri saya."


Suara warga kembali berbisik-bisik. Mereka terkejut saat tahu kalau Tante Dena adalah mantan istri Om Sam. Mereka pun mulai menarik benang merah atas masalah yang terjadi. Apa hubungan Om Sam atas semuanya.


Ariel mulai merasa was-was, ia tak tahu apa rencana Om Sam selanjutnya. Ariel mulai meragukan keyakinannya kalau Om Sam akan melindunginya. Jika memang benar ingin melindungi Ariel, untuk apa Om Sam memberitahu siapa dirinya pada warga? Bukankah malah membuat suasana makin keruh saja?


Ariel menatap Om Sam dengan tatapan tajam, seolah memperingati Om Sam akan apa yang ia akan katakan. Ariel tak mau warga semakin panas. Keselamatan Galang yang Ariel pikirkan, bukan dirinya.


"Saya ingin minta maaf sekali lagi jika mantan istri saya membuat keributan. Kami memang sudah berpisah namun mungkin masih ada rasa dendam di hatinya karena saya masih menaruh perasaaan pada Ariel." Perkataan Om Sam semakin memperkeruh suasana.


Mata Ariel membola mendengar apa yang Om Sam katakan. Ariel sampai geleng-geleng kepala dengan kelakukan Om Sam. "Kamu!" Ariel menunjuk Om Sam, ia sampai tak bisa berkata-kata.


Om Sam membisikkan sesuatu di telinga Ariel. "Tenang saja, Sayang. Aku akan menyelamatkanmu. Bobby tak bisa melindungimu. Dimana dia saat kamu susah? Tak ada. Biar aku yang melindungimu dengan caraku. Sadarlah, hanya aku yang benar-benar mencintaimu!" Om Sam tersenyum licik.


"Semua ini salah saya. Selama ini, saya sangat mencintai Ariel dan menyudahi biduk rumah tangga saya dengan Dena. Ariel sudah menjauh namun saya terus mengejarnya. Dena tak terima dan memutuskan melabrak Ariel kemarin. Maaf atas kekacauan yang terjadi," kata Om Sam. "Tak ada kumpul kebo seperti yang Dena katakan. Ariel memang tinggal di rumah Robbie, namun sebagai asistem rumah tangganya saja. Ariel saya titipkan sementara di rumah Robbie sampai acara pernikahan kami, secepatnya."


Warga semakin berbisik-bisik. Mereka jadi bingung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Ariel menatap Om Sam dan berkata tanpa suara. "Gila kamu!"


Om Sam membalasnya dengan senyuman.


"Jadi maksudnya gimana sih? Kita jadi bingung. Ibu Ariel ini cuma pembantu? Dia bukan kumpul kebo dengan Pak Robbie?" tanya Pak RT.


"Iya, benar," jawab Om Sam.


"Bohong, Pak!" jawab Ariel.


Pak RT dan para warga makin bingung. "Jadi yang benar itu gimana? Lalu anak yang sering bersama Ibu Ariel itu anak siapa?"


"Anak saya," jawab Ariel dan Om Sam kompak.


Ariel memelototi Om Sam. "Heh, jangan ngaku-ngaku deh!"


"Ngarang! Itu anak aku dan Mas Wawan!" balas Ariel.


Mendengar Ariel menyebut nama Mas Wawan, warga kembali ramai. "Tuh 'kan dia bukan wanita baik-baik. Siapa lagi tuh Mas Wawan? Wah gawat, memang harus diusir tuh wanita kayak begitu!"


Warga yang semula tenang kini makin emosi dan mulai ramai menyuruh Ariel pergi. Ariel menatap kesal pada Om Sam yang makin memperkeruh suasana. "DIAM SEMUA!" teriak Ariel.


Mendengar teriakan Ariel, semua warga terdiam. "Kalian kenapa sih tak ada yang mau mendengarkan saya? Kalian malah mendengarkan laki-laki sinting ini!" Ariel menunjuk Om Sam dengan tatapan marah. Kepalang tanggung, Ariel pun meluapkan emosinya. Warga dan Om Sam sudah membuatnya marah. Membangunkan Ariel si singa yang kalau mengaum amat kencang.


"Saya jelaskan ya, semuanya. Antara saya dengan dia." Ariel kembali menunjuk Om Sam. "Tak ada hubungan apa-apa. Saya sudah bercerai dengan Mas Wawan dan memiliki anak bernama Galang. Sekarang, saya sudah menikah lagi dengan Pak Robbie. Jelas ya, saya istrinya bukan pembantunya! Saya tinggal di rumah suami saya. Apa yang salah? Masalah Tante Dena yang marah-marah, bukan urusan kalian. Itu hanya permasalahan di masa lalu kami. Semua sudah selesai. Saya sudah punya kehidupan baru bersama suami saya. Puas?"


Om Sam tak mau kesempatan memiliki Ariel hilang. "Jangan bohong deh, Sayang. Kalau kamu memang sudah menikah dengan Robbie, kenapa Pak RT tak tahu? Mana kartu keluarga kalian? Kamu halu deh."


Ariel makin kesal dengan Om Sam. Perkataannya malah membuat suasana semakin tak kondusif. Warga menanyakan kebenaran ucapan Om Sam pada Pak RT. "Saya ... tak pernah membuatkan kartu keluarga jadi saya tak tahu kebenaran berita pernikahan Ibu Ariel dan Pak Robbie."

__ADS_1


"Kami menikah secara siri," kata Ariel yang ternyata membuat warga kembali emosi.


"Dasar wanita murahan tukang bohong! Kumpul kebo ya kumpul kebo. Pakai alasan nikah siri segala lagi! Pergi saja deh dari komplek ini! Dasar wanita pembawa sial!"


"Iya benar! Pergi saja!"


"Usir saja!"


Om Sam kembali mengambil kesempatan. "Saya akan menikahi Ariel agar kalian tak sial."


Ariel yang sangat kesal lalu menendang Om Sam sampai jatuh tersungkur. "Dasar gila! Siapa yang mau nikah sama kamu!"


"Tuh 'kan dia wanita bar-bar! Udah usir saja!" kata ibu-ibu yang kembali memanaskan suasana.


"Heh, kalian tak berhak ya mengusir saya!" kata Ariel dengan berani.


"Pak RT, usir saja dia! Perempuan pembawa sial!"


"Iya, benar, pembawa sial!"


Suara warga kompak meminta Ariel diusir. Ariel tentu saja kalah suara. Mau berkata apapun tak ada yang mendengarnya.


Tiiiin! Tiiin!


Suara klakson kencang dan tanpa henti membuat suara para warga kalah. Semua menoleh dan melihat sebuah mobil yang terus mengklakson tanpa henti. Setelah semuanya diam, pemilik mobil pun turun dari dalam mobil dan menatap para warga dengan tatapan marah.


"Apa yang kalian lakukan pada istri saya?"


****

__ADS_1


__ADS_2