
Wawan tertawa mendengar perkataan Ariel. "Apa? Istri? Sejak kapan? Masa sih lelaki itu mau menikahimu?"
Raut wajah Ariel berubah masam. Cepat-cepat Wawan mengoreksi ucapannya. "Maksud aku begini, siapa itu ... Om Bobby, ya, maksud aku dia, bukankah dia tahu bagaimana masa lalu kamu? Riel, aku lelaki. Aku tahu kalau dia itu punya kehidupan yang hebat. Tampan, tajir, mempesona. Siapa yang tak akan tergoda? Pasti banyak wanita yang menyukainya bukan?"
"Lalu kenapa kalau dia banyak yang menyukai?" tanya Ariel dengan nada ketus.
"Apa lelaki dengan banyak kelebihan dan wanita yang menyukai seperti itu akan benar-benar menerima masa lalu kamu, seperti aku? Riel, kamu tahu bukan, betapa aku mencintai kamu? Aku menerima semua masa lalu kamu. Aku menerima kamu yang pernah aborsi. Aku menerima kamu yang pernah jadi wanita simpanan. Semua karena apa? Karena aku begitu mencintai kamu. Apakah dia seperti itu sama kamu?" tanya Wawan. Wawan kini sedang menyerang mental Ariel. Membuat Ariel seakan tak berharga agar Ariel menyerah dan kembali padanya.
"Kalau dia tak mau menerimaku, kenapa dia mau menikahiku, Mas?" balas Ariel. Dalam hati Ariel masih ada keyakinan yang kuat kalau Om Bobby adalah lelaki baik dan bertanggung jawab, karena itu mau menikahinya dan menyayangi Galang bak anaknya sendiri.
"Mungkin ... agar kalian bisa lebih bebas. Pasti dia pernah meminta kalian berhubungan suami istri bukan? Mungkin untuk tujuan itu," jawab Wawan dengan santainya.
"Pemikiran kamu aneh, Mas. Kalau untuk seperti itu, tak perlu Om Bobby menikahiku. Dia bisa menggunakan uang yang dimilikinya untuk menyewa wanita lain yang lebih hebat dariku. Sudahlah, aku akan menganggap kalau perkataan kamu adalah angin lalu. Tak penting dan tak akan mempengaruhiku sama sekali," balas Ariel.
Wawan tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala. "Percayalah, kamu akan meyakini kalau perkataanku benar suatu hari nanti. Mungkin saat ini dia sedang menghujanimu dengan uang dan sejuta mimpi indah, namun saat kamu terbangun, kamu akan sadar kalau semua itu hanya bunga tidur. Kamu akan tertampar oleh kenyataan kalau dia terlalu berbeda dibanding kamu. Berbeda kasta, kelas dan status sosial. Sadarlah, kamu bukan hidup di dunia Barbie. Kamu bukan berada di dunia dongeng, dimana sang pangeran menyukai Cinderela yang berasal dari rakyat jelata. Pangeran itu cocoknya dengan tuan putri dari kerajaan lain. Bangun dan sadarlah, Riel, aku mengatakan ini demi kamu, bukan demi aku."
Ariel tak lagi menanggapi Wawan karena Galang datang dan minta makan. Wawan dengan sigap menawari untuk menyuapi Galang. "Galang sama Papa aja ya, Mama kamu sedang banyak pikiran."
****
Udara Puncak terasa sejuk, ditambah pemandangan indah dari kebun teh membuat syuting kali ini lebih terasa santai. Adegan hari ini adalah menggambarkan mimpi aktor pria, dimana dia merasa sedang digoda oleh Sinta namun harus menyisipkan moto iklan yang mensponsorinya tersebut.
"Bebas tanpa takut bocor, ya Duileh solusinya!" Sinta yang seharusnya mengucapkan dengan nada menggoda malah terkesan kaku. Tatapannya tidak fokus ke kamera melainkan ke laki-laki tampan yang berada di belakang kamera sedang membaca berkas.
__ADS_1
"Cut! Ulangi lagi! Fokus Sinta, fokus!" omel Sutradara pada Sinta.
Sinta makin grogi saja. Ini sudah take yang kesekian kali namun selalu saja salah.
"Oke, kita ulangi lagi! Camera ... action!" kata Sutradara.
Sinta tersenyum pada kamera sambil memegang dada aktor pria. "Mau bebas tapi bocor? Duileh solusinya!"
"Cut! Salah naskahnya! Kamu bagaimana sih? Salah terus!" omel sutradara. "Kita break dulu sebentar!"
Wajah aktor yang beradu akting dengan Sinta terlihat bete. Ia kesal karena Sinta terus membuat kesalahan. "Konsen dong kamu. Salah terus. Katanya lulus casting karena pengalaman, tapi salah terus," sindir aktor tersebut.
"Maaf. Aku akan berusaha agar tidak salah lagi!"
Sinta melihat Om Bobby pergi ke teras villa sambil membawa kopi. Cepat-cepat Sinta pergi ke teras lewat jalan lain dan berpura-pura bersedih. Sinta menatap kosong pemandangan kebun teh. Siapapun yang melihatnya akan berpikir kalau dia sangat terpukul dan sedih, termasuk Om Bobby.
"Jangan terlalu sedih. Apa yang dikatakan oleh sutradara, kamu jadikan masukan. Apa kekurangan kamu, ya kamu perbaiki, bukan malah sedih dan terus menyalahi diri sendiri," kata Om Bobby yang kembali menyeruput kopi miliknya.
"Eh, Bapak? Aduh, maaf, aku sejak tadi terus membuat syuting harus take berkali-kali. Apa aku memang tidak bakat ya untuk menjadi artis?" Sinta kembali memasang wajah sedih sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu bukannya tidak berbakat, kamu hanya kurang menjiwai dan kurang konsentrasi. Aku perhatikan, cara kamu berakting sudah lumayan kok. Kamu begitu natural ketika harus menggoda aktor cowok tadi, kamu hanya lupa naskah saja. Kalau kamu fokus sedikit, kamu pasti bisa."
"Kayaknya aku merasa kurang nyaman, karena itu aku jadi lupa terus. Bagaimana ya caranya agar rasa nyaman itu bisa tercipta, Pak?"
__ADS_1
"Ya ... kamu harus latihan!" jawab Om Bobby dengan singkat.
"Latihan? Dengan siapa? Lawan mainku saja terlihat bete. Apa ... Bapak mau membantu saya latihan?" tanya Sinta dengan wajah polosnya.
Om Bobby menatap layar ponselnya. Belum ada balasan dari Ariel. Om Bobby makin merasa tak tenang. Ia ingin secepatnya kembali ke Jakarta. Sayang, artisnya salah terus. Terpaksa ia harus turun tangan dan membantu kalau ia mau cepat pulang.
"Baiklah. Aku akan bantu," jawab Om Bobby.
Sinta tersenyum lebar. "Saya akan mulai dari adegan memeluk sambil bicara naskah ya, Pak. Maaf, bisa ditaruh dulu tidak, kopi dan ponselnya, Pak?"
Om Bobby menuruti permintaan Sinta. Artis cantik itu memeluk Om Bobby dan membelai dada bidangnya. Aliran listrik pun mengaliri Sinta. Om Bobby memang menggoda, jauh lebih seksi dari aktor yang beradu akting dengannya. Sinta begitu terpesona apalagi saat mencium aroma parfum Om Bobby. Maskulin sekali. Sinta suka.
Sinta menatap Om Bobby dengan lekat. "Bapak ... tampan sekali," puji Sinta.
"Cut! Kamu salah naskah!" omel Om Bobby.
"Oh, maaf, Pak. Itu pasti pujian dari dalam hati. Saya lanjutkan lagi ya, Pak." Sinta kembali membelai dada Om Bobby dan mulai terbakar gairahnya sendiri.
"Mau bebas tanpa takut bocor, ya Duileh solusinya!" ucap Sinta dengan suara seksi.
"Cut! Nah itu bagus. Nanti langsung seperti itu ya!" puji Om Bobby.
"Serius, Pak, udah bagus?" Sinta belum melepaskan tangannya dari dada Om Bobby. Rasanya ia tak rela menjauhkan tangannya. Ia mau lebih.
__ADS_1
"Iya. Sudah bagus. Bisa kamu lepaskan saya sekarang?"
****