Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
I Love You My Husband


__ADS_3

Keesokan paginya Om Bobby langsung pergi ke KUA tempat ia mendaftarkan pernikahannya dengan Ariel. Ia mengambil buku nikah yang sudah lama ia buat namun belum sempat diambil.


Pulang dari KUA sudah ada beberapa ibu-ibu yang menunggu di depan rumah untuk membuktian bahwa memang benar Om Bobby dan Ariel sudah menikah. Om Bobby dengan santai memasukkan mobilnya ke dalam garasi rumah. Dia keluar dari mobil dan menatap satu persatu ibu-ibu julid yang kemarin sudah membuat onar. Sebal tapi mau bagaimana lagi, inilah kehidupan bertetangga, tak selalu bahagia.


"Jangan menunggu di depan rumah, Bu


Ayo, masuk saja ke dalam," ajak Om Bobby sambil memaksakan senyum di wajahnya. Susah sebenarnya bersikap baik pada orang-orang yang sudah menghakimi istrinya. Terpaksa. Kalau Om Bobby tidak bersikap baik, bagaimana nanti dengan Ariel dan Galang saat ia tinggal bekerja? "Di luar panas loh, Bu. Enakkan di dalam. Ayo, masuk ke dalam!" ajak Om Bobby untuk kedua kalinya.


"Enggak usah deh, Pak, terima kasih. Kita juga enggak mau lama-lama berada di sini! Mana buktinya, biar kita percaya dan langsung pulang," tagih ibu-ibu yang sepertinya kesal sekali karena Ariel melawannya kemarin. Ibu-ibu itu masih penasaran dengan hubungan Ariel dan Om Bobby sampai rela menunggu di depan rumah bersama ibu-ibu yang lain hanya untuk mendapatkan bukti.


"Sabar, saya tunggu Pak RT dulu ya. Saya tidak mau menjelaskan kepada warga di sini satu persatu. Itu bukan tugas saya menjelaskan hubungan saya pada tetangga yang super kepo." Om Bobby mengeluarkan ponsel miliknya lalu menghubungi Pak RT. Dengan segera pak RT datang untuk melihat bukti yang ingin ditunjukkan oleh Om Bobby.


"Ini Pak, bukan nikah kami. Sekarang sudah jelas ya. Saya dan Ariel memang sudah menikah secara resmi. Kami tidak kumpul kebo seperti yang kalian pikirkan." Om Bobby menyerahkan buku nikahnya pada Pak RT, sebelumnya ia menunjukkan kepada ibu-ibu yang masih menunggu di depan rumah barang bukti kuat yang ia miliki.

__ADS_1


Setelah memeriksa bahwa buku nikah tersebut asli dan benar adanya, Pak RT pun meminta maaf lalu pamit bersama ibu-ibu yang semalam sudah membuat kerusuhan. "Saya minta maaf sekali ya, Pak Robbie atas kesalahpahaman yang terjadi. Ke depannya, saya minta kalau ada warga baru tolong lapor. Mungkin saya juga tidak terlalu memperhatikan karena saya juga sibuk bekerja. Saya dan warga di sini minta maaf karena sudah membuat keributan semalam. Terima kasih atas kerjasamanya saya pamit terlebih dahulu."


Om Bobby memilih untuk tidak memperpanjang masalah. Ia memilih damai. Om Bobby juga yakin kalau Om Sam tak akan lagi berani mengganggu setelah ancaman yang ia berikan.


Ariel melihat apa yang dilakukan oleh Om Bobby dari depan pintu rumah. Ariel tidak mau mendekat karena takut keadaan semakin panas. Kini masalah tentang bukti pernikahan mereka sudah jelas. Ariel menerima buku nikah yang diberikan oleh Om Bobby dengan mata berkaca-kaca. Rasanya masih tak percaya kalau kini dirinya menjadi istri sah dari Om Bobby, lelaki yang selama ini ia puja.


"Sudah, bukunya jangan kamu pandangi terus. Lama-lama mata kamu bisa keluar karena melihat buku nikah itu sampai lupa berkedip. Ayo cepat, siap-siap!" Om Bobby sejak tadi menahan tawa melihat Ariel yang duduk sambil senyum-senyum seraya memandangi buku nikah miliknya.


Karena terlalu bahagia, Ariel sejak tadi terus bertanya tentang proses pembuatan buku nikah mereka. Bagaimana Om Bobby mendapatkan foto miliknya, bagaimana cara mengurus surat-suratnya dan segala macam. Om Bobby menjawabnya dengan santai. Ia memang berniat memberikan surprise kepada Ariel karena itu ia bekerja sama dengan kedua orang tua Ariel di kampung. Sayangnya, sebelum ia sempat memberikan surprise tersebut, para warga sudah lebih dulu memberikan kejutan pada mereka. "Siap-siap? Memang kita mau ke mana?" tanya balik Ariel.


"Siap, bos!" Tanpa banyak tanya Ariel berdiri dan dengan penuh semangat mempersiapkan semua kebutuhan mereka. Pakaian ganti Galang ia siapkan sementara asisten rumah tangga mereka menggantikan baju Galang dengan baju yang bagus untuk pergi.


"Mbak, jangan lupa susu Galang dimasukkan ya. Saya mau ganti baju dan siap-siap!" kata Ariel.

__ADS_1


"Baik, Bu."


Ariel meninggalkan kamar Galang dan masuk ke dalam kamarnya. Tak sengaja, ia mendengar percakapan Om Bobby di telepon. Ariel menduga kalau orang yang Om Bobby hubungi adalah Mama Tita.


"Sudah ya, Ma, jangan lagi membuat hidupku makin susah. Karena Mama menyuruh Kak Dena datang, warga jadi menyerbu rumahku. Hampir saja kami diarak warga karena dipikirnya kami kumpul kebo. Aku peringati Mama, jangan lagi mengganggu rumah tanggaku atau Mama akan menyesal!" Om Bobby memutuskan sambungan teleponnya dengan kesal. Dadanya naik turun menahan emosinya. Kesal sekali memiliki Mama yang suka ikut campur urusan pribadinya.


Ariel mengetuk pintu dan masuk dengan langkah pelan. Ia memeluk punggung Om Bobby seraya memberinya dukungan agar emosinya reda. "Yang sabar ya, Beb. Ini ujian rumah tangga kita. Seharusnya kita bersyukur, ujian kita bisa dibilang ringan bila dibandingkan dengan orang lain. Ada yang diuji dengan materi, sudah berusaha mencari uang dari pagi sampai malam tapi uang yang dikumpulkan tetap saja kurang bahkan harus berhutang ke kiri kanan. Ada yang diuji dengan kesehatan, anak atau istrinya sakit keras dan sudah menempuh banyak pengobatan namun tak juga sembuh. Ada juga yang diuji dengan banyaknya nikmat sampai ia tak pernah bersyukur dan menjadi sombong. Kita harus bersyukur, ujian kita masih bisa kita lewati bersama-sama. Aku dan kamu ... kita akan saling mendukung satu sama lain. Bersama, kita yakin bisa melewati semua ujian hidup ini."


Om Bobby berbalik badan dan menatap Ariel dengan lekat. Dalam hati Om Bobby, ia amat bersyukur memiliki istri seperti Ariel yang pengertian dan kuat. "Maafkan aku ya, Sayang. Aku terlalu banyak memberikan cobaan hidup sama kamu. Joniku bermasalah, lingkungan pekerjaanku juga menyakitimu, ditambah Mamaku yang menggunakan berbagai cara untuk menyakitimu. Entah bagaimana caranya aku bisa membahagiakanmu."


Ariel tersenyum mendengar ucapan Om Bobby. Ia merengkuh wajah Om Bobby dengan kedua tangannya. Rambut halus di dagu yang belum sempat dicukur membuat sensasi geli di tangan Ariel. "Kamu lupa kalau kamu sudah mengeluarkanku dari kehidupan yang lebih menyakitkan sebelumnya? Kalau tak ada uluran tangan dan kebaikan hatimu, mungkin aku masih menjadi istri dari lelaki pemabuk yang ringan tangan."


Ariel kini mengambil tangan Om Bobby dan mengecup tangan besar dan kekar itu lalu meletakannya di pipinya. "Kamu sangat baik. Aku bersyukur memilikimu. Jangan pernah merasa kalau kamu sudah menyakitiku ya, kebaikan kamu jauh lebih besar dari itu. I love you, my husband!"

__ADS_1


*****


__ADS_2