
Setahun kemudian
"Beb! Beb!" Ariel memanggil Om Bobby beberapa kali namun tak ada yang menjawab. Rumahnya sepi, kemanakah suaminya dan Galang berada?
Ariel lalu bertanya pada asisten rumah tangga mereka yang memberitahu kalau Galang sedang main ke taman. Ariel pun menyusul ke taman.
Dari kejauhan, Ariel melihat Galang yang tertawa sambil bermain ayunan. Anak itu terlihat amat bahagia saat Om Bobby mengayunnya agak kencang.
Om Bobby melihat kedatangan Ariel dari kejauhan kemudian melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar.
"Om Papa, dorong lagi!" protes Galang.
"Nanti dulu, ada Mama kamu tuh! Om Papa diomelin kalau dorong kencang-kencang," jawab Om Bobby sambil berbisik.
Galang menuruti perkataan Om Bobby. Anak itu pasrah saat ayunannya mengayun pelan. Ariel berjalan pelan dan agak lama baru sampai ke dekat mereka berdua. "Kenapa, Sayang?" tanya Om Bobby seraya menyeka keringat Ariel yang menetes di keningnya.
Ariel menyerahkan sesuatu yang ia bawa. Sesuatu yang membuatnya harus datang dan memberitahukan langsung pada suaminya tercinta. "Lihatlah!'
Om Bobby menerima benda pipih dan panjang yang Ariel berikan. Keningnya bertaut kala melihat tanda garis dua. "Ini ... kamu hamil?" tanya Om Bobby seakan tak percaya.
"Ya, semua karena ulah Joni," jawab Ariel sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Serius? Kamu enggak bohong? Aku enggak percaya, kamu beneran hamil?" Om Bobby bertanya berkali-kali seakan masih belum percaya dengan apa yang ia dengar. Om Bobby melihat lagi benda pipih yang Ariel berikan. Ia bahkan sampai mengucek matanya untuk memastikan kalau apa yang dia lihat itu benar.
Bukannya langsung memeluk Ariel, Om Bobby malah diam terpaku di tempat. "Rasanya tak percaya. Semua seakan seperti mimpi," gumam Om Bobby pelan.
Om Bobby tak pernah menyangka kalau Ariel akan hamil. Om Bobby yang selama ini didiagnosis akan sulit memiliki keturunan ternyata kini bisa membuat Ariel hamil. Om Bobby bahkan menepuk wajahnya beberapa kali untuk membuktikan pada dirinya kalau ini bukan mimpi, semua nyata.
Melihat reaksi Om Bobby yang seolah tak percaya mendengar apa yang Ariel katakan, mata Ariel memanas. Ia menangis haru. Ariel menjadi saksi betapa Om Bobby begitu menginginkan keturunan namun sulit untuk ia dapatkan. Kini setelah menjalani pernikahan lebih dari 2 tahun, akhirnya Ariel hamil.
"Beb, ini nyata. Kamu enggak mimpi. Lihatlah! Alat itu menjadi bukti kalau apa yang aku katakan itu benar. Aku sudah bilang bukan sama kamu, tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika Tuhan sudah berkehendak. Tuhan bisa merubah takdir. Manusia bisa berkata kamu sulit memiliki momongan tapi ternyata Tuhan begitu baik dan memberikan kita kepercayaan untuk memiliki anak." Ariel tersenyum dengan air mata yang terus mengalir. Ia membuka tangan lebar-lebar dan membiarkan Om Bobby menangis dalam pelukannya.
Ariel juga ikut menangis. Ia tak peduli mereka merada di tempat ramai dan membuat banyak orang melihat dirinya dan Om Bobby dengan tatapan heran. Galang hanya menyaksikan dengan tatapan bingung. Om Papa yang tadi begitu riang dan tertawa bersamanya kini berubah menjadi sosok laki-laki cengeng yang menangis dipelukan Mamanya.
"Sudahlah, jangan menangis terus. Lebih baik kita banyak bersyukur atas semua nikmat yang kita dapatkan saat ini."
Om Bobby menatap wajah Ariel dengan lekat. Wanita di depannya adalah wanita yang hebat, wanita yang banyak berusaha dalam hidup dan membuktikan kalau kita mau berusaha, semua pasti bisa, termasuk hal yang tidak mungkin sekalipun. "Terima kasih banyak, Sayang. Kalau bukan karena kamu, aku takkan pernah percaya kalau keajaiban itu ada. Aku bersyukur memilikimu. Kalau tak ada kamu, mungkin aku selamanya akan terpuruk dan tak percaya kalau aku bisa memiliki anak sendiri." Om Bobby kembali memeluk Ariel. Ia terus menangis sampai membuat pengunjung taman terus memperhatikan apa yang dilakukannya.
Sambil menggandeng Ariel dan menjaganya agar jangan sampai lecet dan terluka, Om Bobby mengajak keluarganya pulang. Galang yang diberitahu kalau ia akan memiliki adik terlihat bahagia dan terus mengoceh sepanjang jalan. Ada banyak rencana yang akan Galang lakukan bersama adiknya nanti.
"Mbak!" Om Bobby berteriak memanggil asisten rumah tangganya.
Dengan setengah berlari asisten rumah tangga mereka datang menghampiri. "Ada apa ya, Pak?"
__ADS_1
"Mulai sekarang, saya tak mau Ibu Ariel kelelahan. Jangan biarkan dia melakukan pekerjaan yang berat. Kalau perlu, dia hanya bersantai dan menikmati hari-harinya dengan tenang tanpa ada gangguan sedikitpun. Jangan biarkan Ariel menggendong Galang, mengerjakan pekerjaan rumah dan kelaparan. Tugas kamu mulai sekarang adalah menyiapkan makanan yang sehat dan bergizi untuk Ariel!" perintah Om Bobby dengan tegas pada asisten rumah tangga mereka yang terlihat agak bingung.
"Beb, jangan begitu ah. Aku tuh bukan orang yang sedang sakit. Aku sehat. Kamu enggak pernah melarang aku sampai sebegitunya, kenapa sekarang jadi super ketat larangannya?" Ariel malu dengan sikap overprotektif Om Bobby yang seakan takut Ariel kelelahan.
"Ini perintah. Aku enggak mau kamu kelelahan karena di dalam perut kamu ada anak aku." Ucapan Om Bobby membuat asisten rumah tangga mereka mengerti kenapa sang majikan sampai bersikap overprotektif seperti sekarang. Om Bobby pun melanjutkan kembali ucapannya kepada asisten rumah tangganya. "Ingat baik-baik ya, Mbak, jangan sampai Ibu Ariel kelelahan! "
"Baik, Pak!"
Om Bobby lalu mengajak Ariel ke kamar. Galang dititipkan kepada asisten rumah tangga mereka. Ariel duduk manis di atas tempat tidur menunggu Om Bobby yang sibuk dari tadi bolak-balik menyiapkan baju untuk Ariel. "Kamu ganti baju ya. Pakai baju yang aku siapkan!" Perintah Om Bobby.
"Memang kita mau ke mana, Beb?" tanya balik Ariel yang bingung karena Om Bobby menyuruhnya tanpa memberikan penjelasan ke mana mereka akan pergi.
"Tentu saja ke dokter, Sayang. Aku mau kamu diperiksa secara menyeluruh. Kita cek apa yang harus kita lakukan agar kamu dan anak kita sehat. Kalau perlu aku akan minta vitamin yang paling mahal dan paling berhasiat untuk menjaga kesehatan kalian berdua!" Om Bobby terlihat bersemangat sekali mempersiapkan kehamilan Ariel.
Ariel tak bisa berbuat apa-apa saat melihat Om Bobby yang terlihat bahagia dan bersemangat seperti itu. Ia menurut saja apa perintah suami tercintanya. Mereka pun pergi ke rumah sakit. Galang tak mau ditinggal, ia mau ikut serta melihat calon adikny.
Di rumah sakit, saat USG terlihat janin Ariel yang sebesar biji kacang. Melihat langsung calon anaknya dari layar USG membuat mata Om Bobby berkaca-kaca. Ia hampir saja menangis haru namun ditahannya. Rasanya tak percaya saat mengetahui kalau biji kacang tersebut adalah anak yang selama ini begitu ia inginkan.
"Itu ... anakku! Kira-kira, dia akan mirip siapa ya? Cewek atau cowok ya?" Pertanyaan Om Bobby membuat dokter yang memeriksanya tersenyum.
"Maaf, Pak, kandungan ibu Ariel baru berusia sekitar 6 minggu. Belum bisa terlihat dengan jelas jenis kelaminnya dan mirip siapa. Nanti setelah usia 16 Minggu baru terlihat jenis kelaminnya dan saat memasuki bulan ke-8 atau 9 Bapak bisa melakukan USG 4 dimensi agar terlihat wajahnya mirip siapa ya!" kata dokter menjelaskan dengan sabar. Dokter yang mameriksa melihat Om Bobby begitu bersemangat sekali, pertanda ia sudah lama merindukan seorang anak hadir di dalam rumah tangganya.
__ADS_1
"Masih lama dong dok? Baiklah, saya akan tunggu sampai anak saya lahir. 0h iya Dok, tolong resepkan vitamin yang paling bagus dan mahal agar anak saya sehat ya Dok! Lalu apa saja larangan untuk ibu hamil? Saya mau istri saya benar-benar sehat dan mendapat perhatian penuh. Saya mau mereka berdua sehat dan selamat saat persalinan nanti." Ariel terharu melihat mata om Bobby yang terlihat berbinar saat mengatakannya. Ia bersyukur, lagi dan lagi mendapatkan suami yang begitu perhatian dan baik seperti Om Bobby. Anak di dalam kandungannya adalah hadiah dari Ariel untuk menambah Kebahagiaan rumah tangga mereka. Hanya satu kebahagiaan yang belum bisa dan mungkin akan sulit Ariel dapatkan, yaitu restu dari Mama Tita.
*****