Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Malaikat Penolong Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Iya, benar, itu bisa saja bukti palsu!"


"Betul. Bisa dibuat-buat bukti kayak begitu!"


Warga yang terhasut oleh kata-kata Om Sam mulai ramai.


"Ngaku aja deh kalau memang kumpul kebo. Jangan sampai kami laporkan ke polisi dengan tuduhan perzinahan ya!" kata salah seorang ibu-ibu dengan emosi.


"Wah, Ibu mau laporin? Lapor aja, Bu. Saya tidak takut," jawab Om Bobby. "Malah saya yang akan melaporkan Ibu dan yang lain dengan tuduhan pencemaran nama baik dan juga mengganggu ketentraman keluarga saya!"


"Tenang, harap tenang semua!" Pak RT menengahi agar tidak terjadi kericuhan. "Kita selesaikan dengan baik-baik. Jangan ada yang menjadi provokator."


"Suruh dia tunjukkan bukti dulu, Pak, baru kami tenang." Om Sam kembali memanasi suasana. Ia tak terima dipermalukan di depan umum. Usahanya membuat Ariel kembali padanya juga gagal. Kepalang tanggung, ia maju terus.


"Heh, Sam, selama ini aku diam saja ya kamu terus mengganggu Ariel, kali ini tidak. Aku pastikan kalau aku akan membuat laporan ke polisi atas tindakan yang kamu lakukan!" ancam Om Bobby.


Om Sam tertawa meledek. "Tak usah mengalihkan percakapan deh. Pakai mengancam mau laporin aku segala. Buktikan dulu dong sama warga kalau kalian sudah menikah. Jangan kebanyakan alasan. Kenapa? Tidak bisa buktikan ya?"


Om Bobby kembali membuka galeri foto di ponsel miliknya. Ia menunjukkan foto saat mereka menikah. "Bukti ini, masih kurang kuat?"


Om Sam tertawa. "Robbie ... Robbie. Kamu tuh bodoh atau gimana sih? Bukti kok kayak begini. Bukankah sangat mudah dimanipulasi?"


Om Bobby malah tertawa mengejek. "Manipulasi? Ini tuh bukti pernikahan yang sakral di depan Sang Pencipta, kenapa kamu malah menuduh aku memanipulasi? Oh iya, aku lupa. Kamu suka memanipulasi ya? Kasihan!"


"Setidaknya aku tidak memanipulasi pernikahan seperti yang kamu lakukan!" balas Om Sam.


Om Bobby emosi dengan perkataan Om Sam. "Kamu!" Om Bobby menunjuk Om Sam sambil menatapnya tajam. "Lihat saja pembalasanku nanti!"


Om Sam merasa menang dan berada di atas angin karena menganggap Om Bobby tak bisa menunjukkan bukti yang kuat. "Kenapa? Tak punya bukti ya? Sudahlah, jangan kebanyakan mengelak. Sok jadi pahlawan padahal kamu sendiri yang merugikan Ariel. Lebih baik kamu mengaku. Lepaskan Ariel, biar aku yang bertanggung jawab. Aku akan menikahi Ariel secara resmi. Biar semua tahu kalau aku benar-benar mencintainya, tak seperti kamu yang hanya omong kosong belaka!"

__ADS_1


Warga kembali ramai melihat kedua lelaki memperebutkan Ariel. "Sudah Pak RT, kita usir saja mereka bertiga yang sudah mencemarkan komplek kita dengan tindakan tak terpuji mereka. Jangan sampai tindakan mereka dicontoh oleh anak-anak kita."


"Iya, benar. Kita usir saja!" Ibu-ibu dengan lantang menyuarakan aspirasi mereka. Suara kencang dan ramai mereka membuat tetangga yang semula tidak ikutan kini nampak penasaran. Mereka ingin tahu apa yang sudah terjadi.


"Usir! Usir!"


Tak lama datanglah geng Bapak-bapak tua namun masih terlihat tampan yang kini ikut bergabung. Mereka bertanya apa yang sudah terjadi. Salah seorang yang paling tampan nampak mendekati Pak RT yang sedang menenangkan warganya.


"Ada apa ini, Pak?"


"Ini Pak Agas, ibu-ibu protes. Katanya Bapak Robbie dan Ibu Ariel sudah melakukan kumpul kebo!" jawab Pak RT.


"Wow? Kumpul kebo? Buffalo gathering dong? Boleh ikutan?" jawab Bapak Agas sambil tersenyum meledek.


"Ish, Bapak. Ini keadaan udah makin kacau. Bapak malah becanda. Ayo, bantu saya tenangin warga!" omel Pak RT. Di belakang mereka terdengar suara warga yang meminta Om Bobby, Ariel dan Om Sam diusir dari komplek.


"Pokoknya kami mau mereka diusir, Pak!" kata salah satu warga.


"Usir! Usir!" teriak yang lain.


"Kurang rame teriaknya Pak, Bu!" Pak Agas dan teman-temannya malah mengompori sambil tertawa-tawa. Benar-benar kelakuannya macam bocah tua nakal saja.


Ariel mengeratkan pegangannya di lengan Om Bobby. Ia mengkhawatirkan nasibnya, Om Bobby dan Galang tentunya. Massa semakin ramai, Om Bobby malah tenang saja. Ia sibuk meledek Om Sam dengan menjulurkan lidahnya.


"DIAM SEMUA!" teriak seorang ibu-ibu yang berpakaian tidak nyambung. Ibu Sri, salah satu warga yang begitu disegani akhirnya tiba di lokasi. Ia dianggap malaikat oleh warga kampung sebelah dan begitu dihormati. Semua warga pun terdiam mendengar suaranya yang menggelegar.


"Kalian ini semua, kelakuannya macam penghuni hutan saja. Bar-bar! Kalau ada masalah ya selesaikan baik-baik. Jangan main usir orang saja!" omel Bu Sri.


Semua warga termasuk Pak RT pun diam. Hanya Bapak Agas yang tertawa dan kembali mengompori. "Omelin aja, Bu!"

__ADS_1


Bu Sri memberikan tatapan mata tajam pada Pak Agas. Ia pun mengunci mulutnya dengan rapat karena takut Bu Sri marah. Meski usianya lebih tua namun Pak Agas menghormati Bu Sri yang seorang master di bidang trading saham. Bisa dibilang, guru besarnya lah.


"Saya dengar ada kumpul kebo. Benar itu?" tanya Bu Sri seraya melihat ke arah Ariel yang bersembunyi di balik tubuh Om Bobby. Bu Sri tentu mengenal Ariel. Perempuan muda yang ia tawari kerjasama. Perempuan yang dianggap punya semangat tinggi untuk sukses.


"Tidak benar, Bu. Saya dan Ariel sudah menikah. Saya sudah tunjukkan bukti pernikahan kami tapi tak ada yang percaya," jawab Om Bobby dengan jujur.


"Kamu tidak mendaftarkan pernikahanmu di KUA?" tanya Bu Sri dengan tatapan tajam. "Jangan bilang kamu tak mau menikahi istrimu secara sah? Nikah di bawah tangan itu merugikan pihak perempuan loh. Apa kamu tidak kasihan dengannya?"


"Bukan begitu, Bu. Saya hanya terlalu sibuk sampai tak sempat-" Belum selesai Om Bobby bicara, Om Sam kembali memanasi suasana.


"Dia nipu tuh. Fotonya editan," celetuk Om Sam.


Mendengar ada yang menginterupsi jalannya penyelidikan, Bu Sri pun menyemprot Om Sam dengan kata-kata pedasnya. "Heh, diam kamu! Siapa yang suruh kamu bicara? Kamu ini ya, kerjanya cuma memanasi suasana saja. Sekali lagi kamu bicara, saya uleg bibir kamu!"


Om Sam langsung menutup mulutnya dengan rapat. Wanita di depannya seakan punya kharisma yang tak dimiliki wanita lain. Ia bahkan tak berani menjawab lagi.


"Lanjutkan!" perintah Bu Sri pada Om Bobby.


"Saya sudah mendaftarkan pernikahan kami, Bu, namun bukan di KUA dekat komplek ini karena kartu identitas saya di Daerah B," jawab Om Bobby membuat Ariel terkejut. Ia tak menyangka kalau pernikahan mereka yang semula Ariel pikir tak berharga rupanya malah diresmikan oleh Om Bobby. "Hanya saja ... saya belum sempat mengambil buku nikahnya. Rencananya kalau sempat saya ambil."


Bu Sri mengeluarkan ponsel miliknya. Semua terdiam menunggu apa yang akan ia lakukan. "Hallo, Mas Bejo, bisa tolong kamu ambilkan buku nikah atas nama-" Bu Sri menatap Om Bobby. "Nama kamu siapa?"


"Robbie, Bu. Istri saya Ariel Anastasia."


"Tolong ambilin ya, Sayang. Buku nikah Pak Robbie dan Bu Ariel Anastasia." Bu Sri terlihat berbicara dengan lembut. "Terima kasih, Sayang."


Tak lama Bu Sri menutup teleponnya. "Masalah buku nikah sudah beres. Mas Bejo akan mengecek dulu dan akan diambilkan. Karena sudah malam, besok saja kita sambung lagi. Ada lagi yang mau dipermasalahin tidak? Kalau tak ada, bubar deh semua! Kalian berisik tau!"


****

__ADS_1


__ADS_2