
Kiky keluar ruangan dengan wajah bingung. "Siapa Joni?" batin Kiky.
Setelah Kiky, model lain pun masuk ke dalam ruangan. Model ini pun langsung jatuh hati pada ketampanan Om Bobby. Baru kali ini ia diinterview oleh lelaki tampan yang pesonanya melebihi model laki-laki yang pernah bekerja dengannya.
"Perkenalkan nama aku Sinta," kata Sinta dengan senyum ramah.
"Oke, kamu pernah menjadi model iklan apa saja?" Om Bobby serius mewawancarai Sinta. Ternyata setelah diinterview, Sinta lumayan masuk kriteria sebagai model yang ia cari dan lolos tes pertama.
Beberapa model yang tak kalah cantik dari Sinta pun Om Bobby wawancarai sendiri. Ada beberapa yang agresif seperti Kiky namun tetap saja tak berhasil membangunkan Joni yang tertidur pulas.
Om Bobby mengecek jam di pergelangan tangannya. Sudah jam 8 malam. Rupanya tanpa ia sadari sudah lama juga ia melakukan seksi wawancara. Leher Om Bobby terasa pegal.
Om Bobby memberikan hasil wawancara yang ia lakukan pada karyawannya lalu bergegas pulang. Rupanya jalanan sedang tidak bersahabat, macet karena ada galian. Semakin lama pula Om Bobby untuk sampai ke rumah.
Ariel tak meneleponnya, ia hanya mengirimi pesan singkat yang mengingatkan Om Bobby untuk makan. Ariel tak bawel seperti Lisa yang rajin mengiriminya pesan dan tak jarang akan ngambek jika pesannya tak langsung dibalas. Ariel lebih pengertian dan tahu kalau Om Bobby bukan orang yang suka basa basi.
Jam setengah 10 malam akhirnya Om Bobby sampai di rumah. Rasanya lelah sekali dengan kemacetan Ibukota. Ariel membukakan pintu untuknya dan menyambutnya dengan senyum lebar.
"Malam, Om! Capek ya?" Ariel salim lalu membukakan jaket yang Om Bobby kenakan.
"Iya. Jalanan macet banget. Galang mana? Sudah tidur?" tanya Om Bobby.
"Sudah. Anak itu tak kuat tidur malam. Om mau minum apa? Teh kayu manis atau es teh?" tawar Ariel.
"Es teh saja. Aku butuh yang segar-segar." Om Bobby duduk di sofa ruang tamu lalu menyandarkan kepalanya di sofa lembut tersebut.
"Om sudah makan belum? Mau aku siapkan makan malam?" tanya Ariel dengan penuh perhatian.
__ADS_1
"Aku sudah makan. Buatkan es teh saja."
"Baiklah. Tunggu sebentar ya, Om!" Ariel pergi ke dapur dan kembali dengan minuman serta cemilan buatannya.
"Kok susu? Bukankah tadi kamu menawariku es teh?"
Ariel tersenyum lalu menaruh minuman di atas meja. "Ini milk tea. Coba deh, pasti beda. Aku juga buatkan cemilan brownies untuk Om."
"Aku coba ya." Om Bobby meminum milk tea buatan Ariel. Es yang dingin serta rasanya yang manis membuat Om Bobby terasa segar. "Enak. Kok beda ya? Agak wangi gitu." Om Bobby kembali minum sampai tinggal setengah gelas.
"Aku sangrai dulu tehnya jadi lebih wangi. Kalau Om suka, Om tinggal minta saja. Akan aku buatkan." Ariel mengambil sepotong brownies dan menyuapi Om Bobby.
"Enak ya, punya istri. Ada yang melayani," puji Om Bobby sambil tersenyum. Om Bobby memakan brownies buatan Ariel dan langsung menyukai rasanya. "Enak banget. Kamu jago loh buat cemilan kayak begini."
"Masa sih? Aku hanya melihat di internet dan praktek saat senggang. Syukurlah kalau Om suka. Masih ada banyak kok, besok pagi Om bisa minum kopi dan makan brownies buatanku."
"Boleh. Enak banget." Om Bobby menghabiskan minumannya lalu kembali menyandarkan kepalanya di sofa.
"Tak usah. Kamu juga pasti lelah di rumah, menjaga Galang dan kulihat kamu juga bersih-bersih rumah padahal sudah ada Mbak yang datang untuk membersihkan rumah."
"Tak apa. Sudah tugasku melayani suamiku. Bagaimana kalau aku siapkan air hangat lalu aku pijat setelah Om mandi, mau?" Ariel membukakan kancing baju Om Bobby satu persatu. Ia suka pemandangan saat bulu halus Om Bobby terlihat. Sangat seksi di mata Ariel.
"Baiklah kalau kamu memaksa," jawab Om Bobby.
Ariel tersenyum. "Tunggu ya, aku siapkan dulu." Ariel pun pergi ke kamar Om Bobby. Ia mengisi bathup dengan air hangat dan meneteskan aromatherapy agar Om Bobby lebih relax. Ariel membantu Om Bobby membuka pakaiannya dan pergi keluar saat Om Bobby berendam.
Selesai mandi, Ariel sudah menyambut Om Bobby di dalam kamarnya dengan baju tidur tipis dan seksi. "Loh, katanya mau pijat aku? Kok malah mau mancing aku sih?" Om Bobby tersenyum dengan ulah nakal Ariel.
__ADS_1
"Aku beneran mau pijat Om, kok. Anggap saja Om sedang di tempat pijat plus-plus. Om tak perlu pergi keluar, cukup di rumah saja. Aku bisa kok memberikan pelayanan lebih hebat dari di pijat plus-plus." Ariel menarik Om Bobby ke tempat tidur. "Aku akan pijat punggung Om dulu ya!"
Dengan patuh Om Bobby menuruti perkataan Ariel. Bukan hanya isapan jempol semata, Ariel membuktikan kemampuannya memijat Om Bobby. Ia suka melakukan ini untuk Wawan sebagai baktinya saat masih menjadi istri Wawan dulu. Tangan Ariel tahu dimana letak rasa pegal yang Om Bobby rasakan.
"Enak banget pijitan kamu, Riel," puji Om Bobby sambil memejamkan matanya.
"Itu baru pijatan, Om, belum goyangan," batin Ariel sambil tersenyum senang dengan pujian dari Om Bobby.
"Iya dong. Demi Om-ku tersayang, aku siap menggoyang eh memijat maksudku, sampai Om puas," goda Ariel.
"Bisa saja kamu. Oh iya, jangan lupa cek rekening ya! Aku sudah transfer kamu. Gunakan untuk keperluanmu dan rumah. Kamu atur saja karena kamu sekarang istriku. Kalau kurang, bilang saja nanti aku transfer lagi," kata Om Bobby masih dengan mata terpejam. Rasa kantuk mulai datang, membuat mata Om Bobby rasanya seperti ada yang bergelayutan. Susah sekali untuk membuka mata.
Hati Ariel berbunga-bunga mendengar Om Bobby menyebutnya 'istriku'. Sudah lama sekali tak merasakan dinafkahi oleh suami, kini Ariel memiliki suami yang menafkahinya lagi. Suami impian yang kini sudah tertidur pulas.
Ariel menutupi tubuh polos Om Bobby yang hanya mengenakan celana pendek dengan selimut. Ariel mematikan lampu di atas nakas dan hendak pergi ke kamarnya, ia takut Galang terbangun dan menangis karena tak menemukan keberadaannya.
Baru saja Ariel turun dari tempat tidur tiba-tiba tangan Om Bobby memegang tangannya. "Jangan pergi!"
Ariel terkejut saat tangannya tiba-tiba ada yang memegang. Hampir saja ia meloncat kaget. "Loh, Om bukannya sudah tidur ya?"
"Pijatannya berhenti di saat aku sedang terbuai dengan nikmatnya. Mana bisa aku tertidur lagi." Om Bobby duduk tegak dan menarik tangan Ariel, membuat Ariel jatuh di pelukannya. "Kamu bilang, mau memancing Joni lagi, mana janji kamu?" tagih Om Bobby.
"Oh ... Om mau Joninya aku bangunkan?" Tangan Ariel dengan lihat menyelusup dan langsung mengelus Joni yang ternyata memberi reaksi.
"Wow, baru kamu sentuh saja Joni bereaksi loh, Riel!" Om Bobby terkejut mendapati Joni yang bereaksi cepat padahal sudah lama tertidur pulas.
"Itu baru sentuhan, belum goyangan. Om siap digoyang sekarang?"
__ADS_1
****
Yuk yang sudah baca sampai Bab ini ketik 'DONE' ya di kolom komentar sebelum lanjut ke bab berikutnya. Jangan lupa di like juga ya 🥰🥰🥰