Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Bertemu Adik Ipar


__ADS_3

"Rumah Mamanya Om Bobby? Berarti rumah mertuaku dong?" batin Ariel.


Ariel menatap rumah mewah dan megah di depannya. Rumah bergaya klasik dengan halaman luas dan pilar kokoh di beberapa sisinya. "Wow, rumahnya mewah sekali. Apakah ini yang namanya orang kaya sejak lahir?" batin Ariel lagi.


"Ayo, kok kamu malah melamun sih?" Om Bobby membuyarkan lamunan Ariel.


"I-iya." Ariel mengikuti langkah Om Bobby. Berjalan melewati mobil mewah yang begitu mengkilap sampai memperlihatkan penampilannya saat ini.


Ariel menunduk dan mendapati pakaiannya terlihat tidak sopan untuk bertemu dengan sang mertua, apalagi mertua kaya raya seperti orang tua Om Bobby. Celana jeans dengan kemeja kebesaran milik Om Bobby serta sepatu keds. Apa kata mertuanya saat melihat anaknya menikahi wanita seperti Ariel?


Ariel menghentikan langkahnya. Om Bobby yang menggandeng tangannya ikut berhenti. "Kenapa?"


Ariel sekali lagi menatap penampilannya. "Pakaianku. Rasanya tak pantas bertemu orang tuamu, Beb, dengan pakaian seperti ini."


Om Bobby tersenyum, ia mengetahui kekhawatiran istrinya. "Aku sudah memesan pakaian dari butik, nanti akan diantar. Tenanglah. Mama jarang di rumah. Kita mau kencan bukan acara bertemu mertua." Om Bobby mengedipkan sebelah matanya, memberi kode pada Ariel kalau dirinya bisa diajak kerjasama.


"Oh, baiklah, kalau seperti itu ... aku tenang." Ariel kembali mengikuti langkah Om Bobby masuk ke dalam rumah megah tersebut.


Om Bobby mengetuk pintu dan tak lama kemudian pelayan dengan baju seragam hitam bak di komik yang Ariel baca pun datang dan membukakan pintu untuk mereka. "Tuan Robbie? Silahkan masuk, Tuan!"


Pelayan tersebut menundukkan wajahnya saat memberi Om Bobby jalan masuk. Ariel merasa seperti berada di kerajaan dimana ada seorang Maid yang menyambut Raja yang datang sambil terus menunduk.


"Ada siapa di rumah? Mama ada?" tanya Om Bobby sambil menggandeng tangan Ariel ke dalam rumah.


"Nyonya besar sedang ke luar negeri, Tuan. Ada Nona Prisa di kamar, Tuan," jawab pelayan tersebut.


"Bilang Risa kalau saya datang! Siapkan minum dan cemilan untuk wanitaku. Yang enak dan jangan lama!" perintah Om Bobby.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" Pelayan itu lalu pergi menjalankan tugasnya.


Om Bobby melingkarkan tangannya di pinggang Ariel dan mengajaknya ke ruang tengah. Ariel masih terdiam seraya menatap isi rumah mewah tersebut. Lampu kristal besar menjuntai dari lantai atas, berbeda dengan lampu bohlam 15 watt yang sudah cukup menerangi rumah mungil Ariel di kampung.


Luas ruang tamu dan ruang tengah jika digabung bahkan jauh lebih luas dari kontrakkan Ariel dulu. Lantai marmer yang diinjaknya terasa dingin dan sejuk. Om Bobby mengambil remote AC dan menyalakan AC 2 PK yang ada di ruang tengah. Udara semakin sejuk saja.


Om Bobby duduk di sofa berbentuk huruf L dengan busa tebal dan empuk. Ia menepuk sofa tersebut agar Ariel duduk di sampingnya. "Mau dipangku atau duduk sendiri?" goda Om Bobby.


"Duduk sendiri saja." Ariel duduk di samping Om Bobby dan langsung menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran. "Beb, Prisa itu ... siapa?"


"Prisa? Dia adikku. Lebih tepatnya, adik satu Mama dan beda Papa." Om Bobby melingkarkan tangannya di pinggang Ariel dan mengecup pipinya. "Malam ini kamu puaskan Joni di rumah ini ya!"


"Kita tidak menginap di hotel saja?" tanya Ariel yang merasa risih dan tak bebas berada di rumah mewah ini.


"Untuk apa? Rumah ini sudah lebih bagus dari hotel. Aku punya kamar sendiri yang lebih luas dan nyaman untuk aktivitas kita." Om Bobby menyampirkan rambut Ariel untuk mengecup leher jenjang Ariel.


Ariel bergidik geli. Bulu kuduknya meremang karena Om Bobby terus menggodanya. "Ish ... malu, Beb."


Tak lama terdengar suara langkah kaki menuruni tangga dengan riang. Suara sandal rumah bergambar kelinci terdengar seperti menggambarkan sebuah kerinduan akan seseorang yang sudah lama tak ditemui.


Langkah kaki riang itu tiba-tiba berhenti. Ariel dan Om Bobby berbalik badan dan melihat seorang gadis remaja dengan rambut dikuncir dua yang semula tersenyum, kini senyuman di wajahnya berganti menyisakan kerutan di keningnya.


"Hi, Baby!" Om Bobby berdiri dan membuka kedua tangannya dengan lebar.


Gadis remaja itu menatap Om Bobby, ia kembali tersenyum dan menghambur ke pelukan kakaknya. "Apa kabar kamu? Nakal tidak?"


Om Bobby melepaskan pelukan Prisa yang kini kembali melirik Ariel dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. "Mana pernah aku nakal? Aku itu anak baik-baik, tidak seperti Kakak yang jarang pulang." Prisa memanyunkan bibirnya sebagai wujud protesnya terhadap sang kakak yang seakan lupa pulang.

__ADS_1


Om Bobby mengacak rambut anak remaja tersebut seraya tertawa riang. "Maaf. Kakakmu sibuk."


"Sibuk? Huh, sibuk sama dia?" Bola mata Prisa melirik ke arah Ariel. Ia penasaran dengan wanita yang dibawa kakaknya. Semenjak kakak iparnya -Lisa- meninggal, kakaknya seolah menjadi lelaki yang dingin dan tak pernah membahas tentang wanita sama sekali. Sekarang tiba-tiba kakaknya pulang dan membawa wanita yang tak pernah ditemui sebelumnya. Tentu saja Prisa heran.


"Oh iya, sampai lupa memperkenalkan kalian berdua." Om Bobby meminta Ariel mendekat. "Perkenalkan, Ariel. Ariel, ini Prisa adikku!"


Ariel mengulurkan tangannya dan tersenyum bersahabat pada Prisa. Meski agak ragu namun Prisa membalas uluran tangan Ariel.


"Ariel."


"Prisa."


Keduanya saling menyebutkan nama masing-masing. Ariel tersenyum hangat namun Prisa nampak datar saja. Prisa terus memperhatikan penampilan Ariel yang dinilai tak seperti mantan kakak iparnya dulu yang anggun dan berkelas. Ariel terkesan agak ... nakal. Kemeja besar dan celana jeans, bukan celana jeans yang dinilai Prisa namun kemeja besar yang Ariel kenakan. Prisa yakin, kemeja itu adalah milik Kakaknya. Prisa menduga kalau hubungan mereka sudah jauh.


Prisa terus menilai, apa kelebihan wanita di depannya dibanding yang lain? Cantik sih iya namun tidak lebih cantik dari model di perusahaan yang menggilai kakaknya yang tampan tersebut.


"Hei, jangan menatap Ariel seperti itu," tegur Om Bobby. "Malam ini, Ariel akan menginap di rumah ini. We have a great date tonight."


"Oh, have fun deh." Prisa terlihat dingin dan pergi kembali ke kamarnya.


Tak lama terdengar suara bel, ternyata baju pesanan Om Bobby sudah datang. "Yang, aku harus menghubungi Bayu karena ada sedikit masalah di kantor. Bawalah baju ini ke kamarku dan kamu istirahat untuk persiapan nanti malam. Ingat, kamarku di atas sebelah kiri ya!"


"Iya." Ariel membawa baju baru miliknya dan berjalan ke kamar atas. Ariel terdiam di tengah ruangan seraya berpikir kamar mana yang menjadi milik suaminya. "Sebelah kiri yang mana ya? Kiri dari tangga atau kiri dari sudut kamar?"


"Pasti kiri dari tangga." Dengan yakin Ariel membuka pintu kamar dan terkejut saat melihat sesuatu.


****

__ADS_1


Pagi semua 😍


Yuk ramaikan novel ini dengan vote, like, komen, add favorit dan bergalon-galon kopi ya 😍


__ADS_2