Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Tercengang


__ADS_3

Semua seolah tercengang dengan apa yang dilakukan Bu Sri. "Kenapa? Kok belum bubar? Kalian tidak percaya kalau Mas Bejo akan mengambilkan buku nikah mereka? Besok pagi jam 10, semua kumpul lagi ya. Biar saya bawa buku nikah mereka sebagai bukti!"


"Bu Sri ... serius?" tanya Pak RT.


"Iyalah saya serius. Sudah, sekarang bubar! Ingat ya, besok datang untuk pembuktian. Yang sudah memfitnah, akan mendapat hukuman atas perbuatannya. Saya sudah merekam siapa saja yang paling vokal dan menjadi kompor. Siap-siap saja, terutama dia!" Bu Sri menunjuk ke arah Om Sam yang mulai ragu. "Besok kalau Bapak tidak datang, saya akan dukung Pak Robbie untuk membawa kasus pencemaran nama baik dan mengganggu ketenangan ini ke polisi. Saya yang akan jadi saksinya. Ingat itu! Sekarang, bubar semua!"


Mendengar ucapan Bu Sri yang tak main-main, semua dengan patuh menuruti ucapannya. Semua bubar dan kembali ke rumahnya masing-masing. Ariel kini bisa bernafas lega. Ia pun berterima kasih pada Bu Sri.


"Terima kasih banyak Bu, atas bantuannya. Kalau tak ada Ibu, entah bagaimana saya bisa membubarkan warga yang datang semakin banyak saja," kata Ariel dari hati yang terdalam.


"Ah, jangan bilang begitu. Saya tidak melakukan apa-apa kok." Bu Sri melihat ke kiri dan ke kanan. Semua warga sudah bubar, hanya tinggal mereka bertiga saja yang tersisa.


"Sampaikan terima kasih pada ... Mas Bejo ya, Bu," kata Om Bobby sambil tersenyum lepas.

__ADS_1


"Kenapa harus terima kasih sama Mas Bejo?" tanya balik Bu Sri.


"Ya ... karena Mas Bejo-nya Ibu sudah membantu mengambilkan buku nikah saya. Kalau tidak karena Ibu menelepon Mas Bejo, mungkin warga di sini tidak ada yang mau percaya dengan apa yang saya katakan," jawab Om Bobby.


Bu Sri kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Om Bobby. "Maaf, Mas, saya tidak telepon suami saya. Yang saya lakukan tadi cuma akting saja. Iya sih suami saya seorang PNS tapi bukan bekerja di KUA. Warga saja yang gampang saya bodohi dan percaya dengan apa yang saya bilang."


Om Bobby dan Ariel kompak menatap Bu Sri dengan tatapan tak percaya. "Loh, tadi Ibu bukannya bicara sama suami Ibu dan minta diambilkan buku nikah saya?" tanya balik Om Bobby.


"Mas percaya juga ternyata? Itu cuma akting saja saja, Mas. Jago bukan? Ah, saya ini memang cocok jadi artis." Bu Sri tertawa bangga namun tidak dengan Om Bobby yang masih tak percaya kalau ibu-ibu di depannya ternyata punya ide brilian membubarkan warga yang ia sama sekali tak kepikiran.


Bu Sri bahkan menceramahi Om Bobby dengan gayanya yang santai. "Makanya Mas, nikah itu jangan secara siri, nikah itu yang resmi. Jangan sampai merugikan pihak perempuan. Untung saja Mas Robbie sudah mendaftarkan pernikahan kalian, kalau belum, siap-siap deh kalian diusir sama warga di sini. Sudah ya Mas, sudah malam, saya ngantuk. Jangan lupa, besok pagi-pagi sekali, Mas Robbie pergi ke KUA dan ambil buku nikah kalian. Saya tidak tanggung jawab ya kalau warga besok pagi sudah kumpul di rumah Mas Robbie dan kalian tidak bisa menunjukkan buku nikah. Saya cuma bisa membantu sampai di sini saja, selanjutnya Mas Robbie dan Mbak Ariel saja yang melanjutkan. Permisi!"


Bu Sri meninggalkan Om Bobby dan Ariel yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Rupanya perempuan yang dianggap sebagai peri penolong tak lain hanya-lah ibu-ibu cerdas yang tahu kapan kebohongan itu bisa digunakan untuk kebaikan. Ariel dan Om Bobby saling tatap dan keduanya kompak tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Om Bobby merangkul Ariel lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Ha ... ha ... ha ... aku enggak percaya loh, ternyata ibu-ibu itu jago banget akting. Ampun deh, kalau enggak ada dia, aku enggak bisa nenangin banyak warga yang sudah emosian," kata Om Bobby seraya tertawa dan tersenyum senang.


"Iya, aku juga tidak menyangka ternyata Ibu itu jago banget bohongnya. Aku padahal sudah yakin loh kalau dia adalah salah satu orang yang punya power dan punya koneksi orang dalam di KUA. Ternyata, dia cuma menang ngomong doang, tapi aku berterima kasih sama Bu Sri, kalau tak ada Bu Sri mungkin keadaan di depan rumah semakin kacau." Ariel menghentikan langkahnya lalu menatap Om Bobby dengan lekat. "Beb, kamu serius sudah mendaftarkan pernikahan kita?" Ariel rasanya masih tak percaya saat tadi mendengar Om Bobby mengatakan kalau sudah mendaftarkan pernikahan mereka.


"Sudah dong. Aku sebenarnya sudah lama mendaftarkannya, aku hanya terlalu sibuk sampai tidak sempat mengambil buku nikah kita. Memangnya kamu pikir, aku cuma menikahi kamu di bawah tangan saja? Tidak dong, aku bukan tipe lelaki seperti itu. Prinsipku, saat aku menikahi seorang wanita, itu artinya aku harus bertanggung jawab penuh atas wanita tersebut, apalagi kamu punya Galang, anak angkatku yang sangat aku sayang. Aku mau memberikan kalian sebuah rumah, tempat kalian berlindung. Rumah itu adalah pernikahan kita. Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita tak lama setelah kita menikah di kampung kamu, hanya saja karena kesibukanku yang susah sekali mencari waktu lengang untuk mengambil buku nikah, sampai sekarang buku nikah itu masih ada di KUA. Maaf ya, Sayang. Besok pagi aku akan pergi ke sana. Kita buktikan sama semua warga kalau kita sudah menikah ya!" Om Bobby mengusap lembut rambut Ariel Seraya tersenyum teduh.


"Iya, Yang. Aku senang sekali saat mendengar kalau kamu sudah meresmikan pernikahan kita. Aku pikir, selama ini aku tuh tak ada artinya di mata kamu. Aku pikir, selama ini aku hanya akan menjadi istri siri kamu saja, ternyata, kamu sangat menghargai aku. Terima kasih banyak, aku beruntung sekali bisa mengenal kamu dan memiliki suami seperti kamu," puji Ariel dengan tulus.


"Oh ya? Kalau memang beruntung dan berterima kasih, malam ini kamu harus bobo di kamar aku. Kamu enggak boleh sedih lagi dan ninggalin aku bobo sendirian. Malam ini, kamu enggak boleh tidur sama Galang, kamu milik aku! Aku mau membersihkan tubuh dulu, kamu tidurin Galang lalu pindah ya ke kamar aku!" Om Bobby mengedipkan sebelah matanya sebagai kode keras.


"Siap. Aku juga kangen kok sama Joni! Tunggu aku ya Ayang Beb Bobby dan si kuat Joni!" Keduanya pun kembali tertawa.


Ariel dan Om Bobby lalu berpisahan di depan pintu kamar Om Bobby. Ariel pergi ke kamarnya untuk meniduri Galang, sedangkan Om Bobby masuk ke kamarnya untuk mempersiapkan diri. Ia tersenyum lebar dan kembali berbicara kepada Joni. "Malam ini, sekali saja ya, Jon! Besok kita harus bangun pagi dan buktikan sama semua warga kalau kita sudah memiliki Ariel secara sah. Jangan minta lebih, cukup satu kali, oke?"

__ADS_1


****


__ADS_2