
Ariel makin tak percaya mendengar tawaran bisnis yang diajukan untuknya. Baru jualan, sudah 11 pc ukuran besar yang laku, eh sekarang malah ditawari kerjasama. Rasanya bagaikan mimpi. Mungkin memang benar, kalau ingin taubat dan maju, pasti ada jalan asal mau usaha.
"Ma-mau, Bu. Gimana caranya?" tanya Ariel cepat.
"Datang saja ya ke Toko Kue Ibu. Di dekat persimpangan jalan sana. Saya jarang ke toko, Mbak bilang sama kasirnya mau ketemu Sri. Nanti saya datang."
Ariel tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar penuh harapan. "Baik, Bu. Saya tahu tokonya. Saya akan datang dan mencari Ibu Sri."
"Bagus. Saya suka anak muda yang mau berusaha. Saya pergi lihat-lihat yang lain dulu ya! Selamat jualan, tetap semangat ya!"
"Tentu, Bu. Terima kasih banyak!" Ariel melepas kepergian pembeli pertamanya dengan senyum lebar di wajah. "Syukurlah, laku! Semoga menjadi penglaris!"
"Prisa, aku jadi makin percaya diri deh setelah kripikku dibeli oleh ibu-ibu tadi. Rasanya tak percaya namun ini nyata," kata Ariel pada Prisa.
"Menurutku, memang sudah seharusnya Kak Ariel berbangga diri, kripik buatan Kakak tuh enak. Aku orangnya pemilih, saat aku mengatakan sesuatu itu enak, ya berarti produk itu memang enak. Masalah ibu-ibu yang tadi protes karena harganya mahal, itu jadi tantangan tersendiri buat Kak Ariel, bisa saja Kak Ariel menjualnya dalam ukuran yang lebih kecil? Kalau harganya lebih murah mungkin bagi mereka akan lebih terjangkau. Benar loh yang Ibu itu katakan, Kakak harus punya semangat untuk berjualan. Kakak tuh punya bakat, punya kelebihan. Kalau Kakak tidak hebat, mana mau Kak Robbie sama Kak Ariel?"
__ADS_1
Ucapan Prisa makin membuat Ariel semangat untuk memulai bisnisnya. "Iya, Prisa. Aku jadi makin semangat deh. Terima kasih ya. Kamu tuh memang adik aku yang paling baik sekali!" Dengan semangat baru, Ariel kembali memasarkan produknya.
Tak hanya berdiam diri saja, di saat bazar mulai ramai oleh pembeli, Prisa pun ikut turun tangan. Ia tak mau kakak iparnya bekerja sendirian. Prisa tahu, apa yang dilakukan oleh kakak iparnya demi menunjukkan kepada sang Mama kalau dirinya punya kemampuan dan tidak dipandang sebelah mata. Prisa pun tanpa sungkan berteriak menawarkan barang dagangan Ariel di saat Ariel sedang sibuk dengan Galang yang rewel karena mengantuk.
Setelah Galang tertidur pulas, asisten rumah tangga Ariel menggendongnya dan membawa pulang. Ariel bisa kembali fokus berjualan bersama Prisa yang semangat 45 berteriak-teriak memanggil para pembeli untuk datang.
"Keripiknya ibu-ibu! Keripik mahal, lezat dan bergizi. Keripik Kucin Mama Ariel gitu loh!" teriak Prisa dengan lantang.
"Hush, Prisa, jangan bilang keripik mahal. Nanti tidak laku!" tegur Ariel.
Meski agak ragu dengan apa yang dikatakan Prisa namun Ariel memilih untuk mengikuti saran yang adik iparnya berikan. Hari sudah mulai siang, Prisa tetap bersemangat menawari barang dagangan milik Ariel. Rambutnya yang pirang dengan mata indahnya yang berwarna biru tentu saja menarik banyak perhatian pengunjung. Mereka tentu heran, di bazar siang ini ternyata ada seorang bule cantik yang berjualan keripik. Rombongan ibu-ibu pun mulai mendekat, Prisa dengan gayanya yang asyik dan senyum ramahnya menawarkan keripik buatan Ariel.
"Yuk ibu-ibu dicoba dulu keripik mahalnya! Kakak aku ini buatnya dengan bahan-bahan berkualitas tinggi, dijamin lezat, sehat dan bikin ketagihan deh. Yuk, coba yuk!" Prisa membuka toples berisi contoh produk dan menawarkan kepada ibu-ibu yang mencicipinya. "Enak bukan? Kalau keripik mahal itu beda loh, Bu. Rasanya lebih lezat karena bahan-bahannya segar dan berkualitas tentunya. Ibu mau beli berapa?" tanya Prisa dengan penuh percaya diri.
Ariel memperhatikan bagaimana cara Prisa berjualan. Rasanya agak tak percaya melihat anak orang kaya sejati macam Prisa malah lebih jago berjualan dibanding dirinya yang orang susah. Prisa seakan tahu bagaimana kelebihan suatu produk dan menjualnya dengan penuh rasa bangga dan yakin akan produk yang dijualnya. Cara Prisa menawarkan kepada para pembeli juga terlihat sangat meyakinkan.
__ADS_1
Sebenarnya tak ada yang menyangka anak remaja yang masih muda itu seakan sudah sangat pengalaman di bidang marketing. Mungkin karena IQ yang dimilikinya sangat tinggi membuat Prisa mudah saja melakukan pekerjaan seperti ini.
Prisa berhasil menarik perhatian banyak pengunjung. Bisikan-bisikan yang mengatakan kalau ada bule cantik yang sedang berjualan membuat banyak pengunjung lain makin penasaran dan datang untuk melihatnya langsung. Dengan ramah dan senyum di wajah, Prisa memberikan tester produk kepada pengunjung yang penasaran dengan rasa kripik buatan Ariel.
Dari pengunjung yang penasaran, rupanya banyak juga yang ingin membeli setelah mencoba. Bukan 1-2 pc saja, mereka bahkan membeli beberapa varian sekaligus karena menurut mereka apa yang dipromosikan oleh Prisa benar adanya. Perlahan demi perlahan dagangan yang Ariel buat mulai laku. Ariel tersenyum senang melihat hasil usahanya tidak sia-sia.
Tak sampai larut malam, keripik yang Ariel jual bisa dibilang habis total. Hanya tersisa satu dan itu pun langsung diambil oleh Prisa. "Ini punya aku! Aku bayar!" kata Prisa yang memeluk keripik kentang buatan Ariel sambil tersenyum.
Ariel tertawa melihat kelakuan adik iparnya yang lucu seakan takut jatah miliknya kehabisan. "Ambillah. Buat kamu. Kamu tuh hebat, Prisa. Ternyata kamu pintar jualan ya! Aku enggak nyangka loh, aku pikir, kamu hanya anak keluarga kaya saja yang tahunya cuma duduk manis lalu makanan tersedia di atas meja, ternyata kemampuan kamu berjualan patut aku acungi jempol juga! Kamu hebat! Aku bangga sama kamu. Kalau enggak ada kamu, mungkin keripik jualanku tidak akan laku karena harganya yang lumayan mahal dan aku tidak jago untuk berjualan, terima kasih ya," kata Ariel dengan tulus dari dalam hatinya yang terdalam.
"Apa sih, Kak? Aku tuh hanya membuka jalan saja untuk Kak Ariel. Selanjutnya, Kak Ariel sendiri yang berjuang. Aku enggak bisa selamanya membantu Kakak karena aku tidak tinggal di sini. Kalau aku libur, aku janji, aku akan bantu Kakak jualan. Aku yakin sejak awal kalau Kak Ariel itu hebat dan pasti akan sukses dengan bisnis ini. Jangan lupa, Kak Ariel buat yang banyak lalu dititip di Toko Kue Ibu milik Ibu Sri yang tadi begitu bersemangat dan terlihat sangat tertarik dengan barang dagangan Kakak ya. Itu adalah gerbang menuju kesuksesan Kakak, jangan disia-siakan ya!" Pesan Prisa, seperti biasa, selalu bersikap lebih dewasa dari usianya.
"Tentu dong! Kesempatan tidak akan datang dua kali. Tak akan Kakak biarkan kesempatan itu hilang begitu saja." Ariel dan Prisa tertawa kompak. Mereka kemudian asyik membereskan sisa peralatan mereka karena dagangan sudah habis. Saat sedang asyik beres-beres, terdengar suara tinggi yang membuat mereka terkejut karena tak menyangka akan kedatangannya. "Jadi di sini toh? Prisa, kamu dicariin sama Mama kamu! Jangan kebanyakan bergaul sama dia deh!"
****
__ADS_1