
"Kamu pasti sudah tahu bukan kalau Kak Lisa meninggal di dalam mobil yang dikendarai oleh Kak Robbie? Itu adalah salah satu alasan kenapa Kak Robbie merasa bersalah. Alasan lainnya adalah Kak Lisa sudah melepaskan semua yang dimilikinya agar bisa menjadi istrinya Kak Robbie." Prisa mengambil minuman kaleng miliknya dan meminum beberapa teguk untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Kak Lisa itu adalah perempuan yang pintar. Ia sudah bekerja di perusahaan yang hebat dan memiliki karir yang bagus di usianya yang masih muda. Semua ia lepaskan demi bisa menikah dengan Kak Robbie. Dulu, perusahaan Kakak tidak sehebat seperti sekarang. Dukungan Kak Lisa dan kerja keras Kak Robbie, belum berhasil membuat perusahaannya seperti sekarang. Adanya suntikan dana dari Mama yang membuat perusahaan Kak Robbie makin besar seperti sekarang."
"Kak Lisa terus mendampingi Kak Robbie dalam suka maupun duka. Kehidupan mereka berdua nyaris sempurna. Keduanya cantik dan tampan dan tak ada kesulitan finansial. Sayangnya, Kak Robbie didiagnosis sulit memiliki keturunan. Sulit ya, bukan tidak bisa. Kak Lisa tak pernah sekalipun meninggalkan Kak Robbie meskipun Kakak dalam keadaan terpuruk, itu yang membuat Kak Robbie sangat mencintai Kak Lisa. Suatu hari, ada syuting mendadak yang dilakukan di luar kota. Kak Robbie baru saja begadang dan baru tidur selama 2 jam. Karena ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan, terpaksa Kak Robbie harus pergi ke luar kota dengan menyetir mobil sendiri. Tak mau terjadi apa-apa dengan suaminya, Kak Lisa pun ikut. Ternyata apa yang ditakutkan Kak Lisa memang benar terjadi. Kecelakaan tersebut bahkan merenggut nyawa Kak Lisa,"
"Hal ini yang membuat Kak Robbie semakin merasa bersalah. Andai Kak Robbie tidak memaksakan diri untuk menyetir hari itu, mungkin Kak Lisa masih hidup sampai sekarang. Yang lebih membuat Kak Robbie makin bersalah adalah saat dibawa ke rumah sakit ternyata baru diketahui kalau Kak Lisa dalam keadaan hamil anaknya. Anak yang selama ini begitu mereka nantikan,"
"Semenjak kejadiaan naas itu, Kak Robbie menjadi agak tertutup dan seolah mengasingkan diri. Kak Robbie tak mau lagi tinggal di sini. Kak Robbie memilih tinggal di Jakarta dan menjual rumah megah mereka dan menggantinya menjadi rumah yang lebih kecil. Kak Robbie menjadi gila kerja untuk melupakan Kak Lisa. Aku pernah dengar pembicaraan Mama ditelepon, katanya Kak Robbie itu sering mencari hiburan di klub malam. Mama sudah menasehati tapi Kak Robbie tak mau mendengarkan nasehat yang Mama berikan."
Prisa menatap Ariel dengan lekat. "Kedatangan Kak Ariel tentu saja membuat aku terkejut. Kak Robbie yang biasanya tak pernah sama sekali mengenalkan wanita lain pada keluarganya, kini malah membawa seseorang yang ternyata sudah ia nikahi diam-diam. Aneh. Aku pikir Kak Robbie hanya bercanda, namun saat melihat kalian yang begitu saling menyayangi, aku jadi yakin kalau di antara kalian memang saling memiliki perasaan." Ucapan Prisa terdengar lebih dewasa daripada usianya. Mungkin karena Prisa terlahir pintar dan cerdas serta bisa membaca situasi. Prisa tahu saat ini Ariel dan Robbie sedang bertengkar. Ia berusaha mengusir kesedihan yang sedang Ariel rasakan.
__ADS_1
Ariel tiba-tiba merasa kasihan dengan nasib Lisa. Meninggal bersama calon bayi yang selama ini mereka nantikan. Ariel juga memahami betapa hancurnya hati Om Bobby saat kehilangan Lisa dan juga anak mereka akibat kelalaiannya. Pantas saja kalau Om Bobby begitu sulit untuk melupakan Lisa. Ada begitu banyak kenangan di antara mereka dan Lisa pergi membawa hal berharga yang selama ini sangat diharapkan kehadirannya oleh Om Bobby, yakni hadirnya seorang anak di antara mereka.
"Kakak sekarang mengerti bukan kenapa di dalam kamarnya Kak Robbie masih banyak pakaian, foto dan beberapa perlengkapan yang biasanya Kak Lisa pakai? Semua memang dibiarkan seperti saat Kak Lisa masih ada, itu permintaan yang Kak Robbie buat. Kami tak ada yang berani untuk melawan permintaan Kak Robbie. Kami ingin Kak Robbie ceria lagi seperti dulu." Prisa menatap Ariel dengan lekat. Ia melihat bagaimana Ariel begitu sedih dan beberapa kali meneteskan air mata.
"Aku tahu niat kalian baik. Aku tahu kalian hanya ingin membuat Om Bobby bahagia namun hidup dengan bayang-bayang orang yang telah meninggal itu sangat menyakitkan. Aku sudah terbiasa hidup tidak dihargai namun mau sampai kapan aku seperti ini? Aku hanya ingin merasakan sebuah rumah tangga di mana kami hidup dengan saling mencintai dan saling menghargai, bukan terus-menerus terpaku pada masa lalu. Aku tidak akan menyalahkan kamu karena membiarkan kakakmu terus hidup dengan kenangan masa lalunya. Aku juga kasihan tapi aku tak bisa membohongi diriku. Sangat sakit di sini saat kenangan mereka terus ada dalam kehidupan kami." Ariel menunjuk dadanya dimana semua rasa sakit itu berada.
Prisa mendekat dan memeluk Ariel. Mereka memang baru kenal namun menurut Prisa, Ariel adalah wanita yang jujur karena berani mengekspresikan perasaannya secara terang-terangan. "Walau kita baru bertemu, aku sudah suka sama Kakak. Aku hanya bisa memberi semangat untuk Kakak. Aku yakin, hanya masalah waktu saja sampai Kak Robbie menyadari kalau penghuni hatinya sudah berganti."
Ariel yang sedih jadi tersenyum mendengar ucapan Prisa. "Kamu ini, masih remaja namun pemikirannya sangat dewasa. Kebanyakan nonton film-" Belum selesai Ariel bicara, Prisa menutup mulutnya.
"Di sini hanya ada kita berdua saja. Memang siapa yang akan mendengarnya?" tanya Ariel seraya melihat ke sekeliling mereka. Tak ada orang sama sekali.
__ADS_1
"CCTV di sini sudah canggih. Bisa merekam sekaligus suaranya. Kita harus hati-hati kalau bicara. Ingat, ini rahasia kita berdua, oke?" jawab Prisa.
"Oh oke. Maaf, hampir saja aku membocorkan rahasia kita. Sudah malam, kembalilah ke kamarmu. Besok kamu harus sekolah bukan? Tidurlah!"
Prisa menahan tawanya melihat Ariel yang begitu mudahnya percaya dengan apa yang ia katakan. "Kak Ariel ... tidak masuk ke dalam kamar?" tanya Prisa.
"Nanti saja. Aku mau menenangkan diriku sedikit lebih lama. Kamu masuk saja duluan. Aku nyusul!"
Prisa pun meninggalkan Ariel. Saat berada di dalam rumah, ia mengeluarkan ponsel miliknya dan berbicara di telepon. "Kakak sudah dengar semuanya bukan? Aku hanya bisa membalas kebaikan Kakak dengan cara ini. Kelak, kalau aku meminta sesuatu sekalipun agak aneh, Kakak harus mengabulkan permintaanku! Janji ya!"
"Terima kasih kamu sudah meneleponku di saat yang tepat. Kamu tahu saja kalau Kakakmu adalah makhluk paling tidak peka se-jagad raya. Iya, nanti Kakak akan mengabulkan permintaan kamu. Hanya sekali ya, tak ada dua kali!" jawab Om Bobby.
__ADS_1
"Siap. Paling aku hanya meminta dinikahkan sama Kakak." Prisa tertawa kecil. "Selamat meminta maaf ya. Lakukan dengan benar. Buktikan ketulusan Kakak pada Kak Ariel! Good luck!"
****