Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Tangisan Penyesalan Ariel


__ADS_3

"Sudah, Kak, jangan didengarkan wanita itu! Kak Ariel tuh wanita baik. Jangan pernah percaya dengan ucapan orang yang sudah gagal. Dia saja yang tidak bisa menjaga keluarganya sendiri." Prisa memeluk Ariel dan berusaha menenangkan kakak iparnya yang menangis pilu tersebut.


"Kalau memang dia wanita baik-baik, kenapa Mama kamu tidak merestui? Jelas karena Mama kamu tahu bagaimana sepak terjang dia sebagai wanita simpanan. Sudahlah Prisa, jangan sok membelanya. Dia tuh wanita hina, jangan sok jadi wanita terhormat deh. Sekarang kamu jadi simpanan siapa? Robbie? Uh ... aku makin penasaran. Memangnya boleh ya ada wanita simpanan di komplek ini?" Tante Dena melirik ke kiri kanan. Dia melihat para warga mulai bisik-bisik dengan tatapan marah ke arah Ariel. Strateginya berhasil. Ia membuat Ariel makin dimusuhi dan sebentar lagi akan ditendang dari komplek ini. "Tak pantas wanita kayak kamu tinggal di komplek mewah ini. Terlalu kotor dan menjijikan!"


"Sudah, Kak, ayo kita pulang saja! Tidak penting mendengarkan ucapan dari nenek sihir macam dia! Pantas Om Sam menceraikannya, kelakuannya seperti itu. Mana ada suami yang betah punya istri seperti itu? Kayak Mak Lampir!" Prisa dengan berani membela Ariel tak peduli lawannya jauh lebih tua darinya.


Prisa menggandeng tangan Ariel dan mengajaknya pergi meninggalkan stand bazar. Untunglah mereka sudah beres-beres dan hanya tinggal mengangkat barang-barang saja. Itu gampang, nanti Prisa akan menyuruh asisten rumah tangga Ariel yang melakukannya. Saat ini yang terpenting adalah mengajak Ariel pergi dari keramaian, menghindar dari tatapan orang-orang yang menatap Ariel dengan tatapan menghina seakan diri mereka lebih baik dan lebih terpuji dibanding Ariel.


Saat melewati orang-orang yang berkerumun, Ariel mendengar ucapan yang sangat menyakitkan hati dari warga sekitar. Air matanya terus mengalir bersama setiap rasa sakit hati dan penghinaan yang ia rasakan.


"Serius dia wanita simpanan? Kok kayak wanita baik-baik ya?"


"Wah gawat, di komplek kita ada wanita enggak bener loh, bagaimana kalau suami kita sampai digoda sama dia?"

__ADS_1


"Tadi katanya dia itu wanita simpanan Bapak Robbie? Bapak Robbie yang ganteng itu? Kok mau sih? Kalau dia banyak penyakitnya gimana? Tau sendiri penyakit kelamin jaman sekarang serem-serem."


"Memangnya boleh ya jadi wanita simpanan tapi bawa anak? Mana anaknya lucu banget lagi! Eh ngomong-ngomong, itu anak siapa ya?"


"Jangan-jangan, dia ikut bazar karena sedang mencari calon target dia berikutnya lagi? Aduh gawat, suamiku tadi beli lagi keripik buatan dia! Jangan sampai suamiku yang jadi target berikutnya nih!"


Prisa terus menggenggam erat tangan Ariel. Ia tak biarkan tangan Ariel lepas dari genggamannya. Prisa akan membawa Ariel pergi dari kumpulan orang-orang jahat, yang tidak tahu apa yang terjadi namun sudah membuat kesimpulan sendiri.


Langkah Prisa terhenti. Ia tak bisa menahan diri mendengar hinaan yang menyakiti hati Ariel. "Kenapa? Kalian merasa diri kalian benar? Ngaca! Jangan sok tahu deh jadi orang! Kak Ariel itu baik, jangan karena kata-kata nenek sihir itu, kalian langsung menelan mentah-mentah begitu saja. Buka pikiran kalian!" kata Prisa dengan berapi-api.


Akhirnya setelah melewati tatapan mata, ucapannya menyakitkan dan kerumunan orang yang ingin tahu apa yang terjadi, Prisa berhasil membawa Ariel pulang ke rumah.


"Mbak, tolong angkut barang-barang di bazar!" Perintah Prisa pada asisten rumah tangga Ariel.

__ADS_1


"Baik." Meski penasaran dengan apa yang terjadi karena nyonya rumahnya pulang sambil menangis, asisten rumah tangga Ariel menurut dengan apa yang Prisa perintahkan.


Prisa pergi ke dapur dan mengambilkan segelas air putih untuk Ariel. "Yang sabar ya, Kak. Aku juga enggak tahu kenapa ada orang kejam macam itu yang diciptakan ke muka bumi ini!"


Ariel tidak meminum air yang diberikan oleh Prisa. Ia masih menangis dengan sangat sedih dan lirih, sampai membuat hati Prisa ikut teriris mendengarnya. Prisa seakan bisa merasakan penderitaan yang Ariel rasakan. Meski belum lama mengenalnya, Prisa tahu kalau Ariel adalah wanita yang baik. Meskipun Prisa tidak tahu bagaimana kelamnya masa lalu Ariel, Prisa yakin pasti ada alasan yang membuat Ariel melakukan hal seperti itu. Prisa lebih memilih untuk mempercayai kakak iparnya daripada mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tante Dena, meskipun Tante Dena sebenarnya adalah korban dari perselingkuhan Om Sam dan Ariel.


"Kak ... sudah, minum dulu ya. Tenangkan diri Kakak lalu cerita sama aku apa yang sudah terjadi. Aku memang masih kecil namun aku bisa menjadi teman curhat Kakak. Aku janji, aku akan simpan cerita yang Kakak ceritakan dan tak akan kuceritakan pada yang lain. Sekarang minum dulu dan tenangkan diri ya." Prisa kembali menyodorkan gelas yang sebelumnya ditolak oleh Ariel.


Kali ini Ariel menerima gelas pembelian Prisa dan menegak habis air putih di dalamnya untuk menenangkan diri. "Aku ... malu, Pris. Aku sangat jahat."


"Sabarlah, Kak. Ini ujian hidup Kakak, memang berat tapi aku yakin Kakak bisa menghadapinya. Kalau memang Kakak malu untuk keluar rumah, di dalam rumah aja ya! Atau ... Kakak bisa pindah ke rumah Kak Robbie yang satu lagi, bagaimana?" usul Prisa.


Ariel menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Tidak perlu, Prisa. Kemanapun aku pergi, aku tetap akan mendapat image yang jelek karena masa laluku yang buruk. Aku memang bukan wanita baik-baik. Wajar kalau Mama kamu tidak menerimaku. Wajar kalau Tante Dena begitu membenciku. Aku memang sejahat itu. Aku tidak pikir panjang sebelum melakukan semua hal ini. Yang aku pikirkan adalah bagaimana cara mendapatkan uang. Bodoh sekali bukan si Ariel ini?"

__ADS_1


"Kak, aku memang belum tahu bagaimana cerita pastinya tentang kehidupan masa lalu Kak Ariel, satu yang aku tahu, Kak Ariel juga tidak ingin bukan melakukan hal itu? Semua terlihat dari wajah Kakak. Terpaksa. Kalau memang Kakak merasa diri Kakak jahat, Kakak salah. Kakak sudah berhasil mengubahnya. Bagiku Kakak itu baik. Kakak wanita yang tulus, terlepas dari masa lalu Kakak, sekarang Kakak tuh udah berubah. Yang berlalu ya udah, biarkan berlalu. Yang terpenting adalah bagaimana cara Kakak menghadapi masa depan," hibur Prisa sambil mengusap punggung Ariel agar Arielyang terus menangis menjadi lebih tenang.


Ariel kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa semudah itu, Pris. Image aku tuh udah terlanjur jelek di mata orang lain. Mau aku berubah sekalipun tetap saja di mata orang lain Aku tuh wanita hina. Wanita jahat. Aku enggak pernah berhak untuk tobat. Aku enggak berhak membuktikan kalau diri aku tuh sudah berubah semua karena masa laluku. Masa lalu yang terus menghantuiku. Masa lalu yang sudah ... entah berapa kali membuat aku mendapatkan karma atas perbuatanku."


__ADS_2