
Om Bobby menatap sisi tempat tidurnya yang kosong. Ariel masih berada di dapur. Ia asyik memasak, mencoba berbagai cara agar kripik yang dibuatnya garing, renyah dan bertahan lama. Hari ini adalah hari kedua Ariel bereksperimen dengan keripik yang ia buat di dapur.
Om Bobby melirik jam dinding di kamarnya. Sudah mau jam 12 malam dan Ariel tak juga masuk ke kamar. Terbiasa tidur dengan Ariel membuat Om Bobby tak bisa memejamkan matanya kalau tak ada Ariel di sampingnya.
Om Bobby pun pergi ke dapur dan melihat Ariel yang menguncir tinggi rambutnya dan mencoba keripik yang ia buat. Sorot matanya terlihat penuh semangat. Om Bobby tak habis pikir, kenapa hanya demi ingin ikut bazar yang untungnya tak seberapa, Ariel sampai mengorbankan waktu istirahatnya? Apa uang bulanan yang ia berikan kurang?
Om Bobby berjalan mendekat dan memeluk Ariel dari belakang. "Masih lama?"
"Ish, kamu ngagetin aku deh. Kenapa? Udah ngantuk ya?" tanya Ariel dengan lembut.
Om Bobby menganggukkan kepalanya. "Iya. Tak ada kamu, aku tak bisa tidur," kata Om Bobby dengan manjanya.
"Manja sekali ya suamiku ini. Sabar ya, sebentar lagi selesai." Ariel memasukkan kripik buatannya ke dalam plastik klip yang ia beli. Ia akan mengetes apakah kripik buatannya tetap garing sampai besok.
"Kamu kenapa sih, begitu gigih membuat kripik? Kamu butuh uang lebih? Kamu tinggal bilang padaku, nanti aku transfer lagi."
Ariel tersenyum mendengar perkataan Om Bobby. "Aku melakukan ini bukan semata-mata karena butuh uang. Aku mau memulai bisnis."
"Bisnis? Jualan kripik? Bikin kamu capek saja. Untungnya tidak seberapa tapi kamu seharian di dapur. Kalau kelelahan dan kamu jatuh sakit bagaimana? Bukankah akan semakin rugi nantinya?"
Ariel memasukkan kripik ke dalam plastik klip yang sudah ia isi keripik dalam satu box. Kalau sampai besok keripik buatannnya tetap garing, ia hanya perlu menempel sticker yang sudah ia pesan. Ariel tinggal mencoba membuat kripik yang lain untuk ia jual.
"Memang sekarang bikin aku capek, namun saat nanti bisnis ini semakin berkembang, aku hanya tinggal duduk manis dan memantau karyawanku bekerja. Aku mau belajar membuat bisnis. Aku mau maju. Aku mau membuktikan kalau aku punya kemampuan. Uang pemberianmu yang aku tabung selama ini, akan aku pakai sebagai modal. Aku tak akan meminta modal darimu. Aku mau mandiri. Kamu hanya cukup mendoakanku saja ya!" kata Ariel dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan semua ini? Aku pikir karena uang yang kukasih kurang," tanya Om Bobby.
"Tidak kurang, Sayang. Sama sekali tak kurang, lebih malah. Aku ingin menyibukkan diriku agar tidak melulu memikirkan ucapan Mamamu. Dibalik perkataan pedasnya yang menyakitkan hati, aku menjadi termotivasi untuk membuktikan kehebatanku padanya. Aku memang kurang pintar dalam nilai kuliah, maklum, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan hinaku sampai menomordukan belajar dan aku menyesali kebodohanku ini. Namun aku punya kelebihan. Membuat keripik ini adalah kelebihanku. Aku akan tambah rajin belajar agar keripikku disukai banyak orang."
"Kamu begitu sakit hati ya dengan ucapan Mamaku? Entah bagaimana aku meminta maaf padamu menggantikan Mamaku. Kamu kuat Sayang, kamu tuh wanita hebat," kata Om Bobby dengan penuh penyesalan.
"Tak apa. Luka itu akan sembuh seiring berjalannya waktu. Aku berusaha mengambil sisi positifnya saja. Aku akan mengembangkan kemampuanku lagi agar kamu bangga padaku. Tolong dukung aku ya, Beb. Aku mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
"Tentu, Sayang. Aku akan mendukung kamu. Kamu mau aku temani?"
"Tak usah. Sudah mau selesai. Hanya tinggal menutup klip plastik saja, selesai deh!"
"Biar aku yang kerjakan. Kamu istirahatlah. Ini mudah. Percayakan padaku, oke?" Om Bobby mengambil alih pekerjaan Ariel dan membiarkan Ariel beristirahat.
Ada yang menjulang tinggi tapi bukan menara, melainkan Joni. Selalu saja Joni bereaksi setiap melihat Ariel. Menghirup aroma tubuhnya saja bisa membuat Joni yang semula tertidur pulas tiba-tiba terbangun dan menuntut untuk dipuaskan.
"Jangan sekarang ya, Jon. Kasihan Mama Ariel capek. Bagaimana kalau nanti subuh saja? Kita kasih waktu Mama Ariel istirahat agar fit dan bisa menggoyang kita dengan heboh?" Om Bobby bicara dengan Joni dalam hati. Aneh memang.
Om Bobby merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu menepuk sisi sebelahnya yang kosong. "Yuk bobo, Yang!" ajak Om Bobby.
"Oke. Aku taruh handuk dulu ya!" Ariel menjemur handuk miliknya di gantungan handuk lalu masuk ke dalam selimut dan memeluk Om Bobby.
"Kamu wangi sekali," puji Om Bobby.
__ADS_1
"Habis mandi, Beb. Wajar wangi."
"Oh iya aku lupa, aku sudah memesan tempat tidur khusus untuk Galang. Rencananya aku akan mendekor ulang dan membuat kamar anak." Om Bobby mengecup rambut Ariel yang masih agak basah sedikit sehabis keramas meski sudah ia keringkan. Harum shampo memenuhi hidung Om Bobby. Wangi sekali.
"Benarkah? Ya ampun, Beb, kamu baik sekali pada Galang. Terima kasih banyak ya, Beb." Ariel mengangkat wajahnya dan mengecup bibir Om Bobby cepat sebagai bentuk terima kasihnya. "Kamu selalu baik pada kami. Entah bagaimana kami membalas kebaikanmu."
"Apa sih membalas kebaikan? Aku tak butuh dibalas. Bisa hidup bersama kalian adalah kebahagiaan untukku. Kamu sudah dengar dari Prisa tentang aku yang sulit memiliki anak bukan? Aku senang bisa bertemu dengan Galang, aku akhirnya bisa memiliki anak lelaki meski bukan anak kandungku sendiri." Om Bobby menatap langit-langit kamar dengan tatapan sedih.
"Jangan berkata begitu, Beb. Tak ada yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan. Manusia bisa saja mengatakan kalau kamu akan sulit memiliki anak namun kalau Tuhan sudah mengijinkan, tak ada yang tak mungkin bukan? Kita hanya disuruh menunggu dan bersabar sampai Tuhan siap menitipkan kita anak. Selama apapun itu, aku akan tetap menemani kamu. Kita akan bersama selamanya. Kamu, aku, Galang dan anak kita."
Ucapan Ariel membuat Om Bobby terharu. Ia menarik Ariel dalam dekapannya dan mengecup kening Ariel dengan penuh kasih. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah hadir di hidupku."
"Kalau berterima kasih, bilang sayang dong sama aku. Kali ini aku paksa, bukan karena aku meragukanmu namun terkadang perasaan itu harus diucapkan. Bilang begini ya, Ariel aku sayang kamu!" Ariel mengajari Om Bobby mengungkapkan isi hatinya.
"Malu aku."
"Ayolah ... hanya aku saja yang dengar kok," bujuk Ariel.
"Malu."
"Yaudah aku tutup mata deh biar kamu percaya diri." Ariel menutup matanya dan menunggu Om Bobby mengatakan perasaannya dengan jujur dan lantang.
"Ariel ... aku ... cinta kamu!"
__ADS_1
***