
"Hey, jauhkan tanganmu dari istriku!" tegur Om Bobby dengan nada tak bersahabat.
Wawan mengacuhkan Om Bobby dan lebih memilih menagih jawaban Ariel. "Kamu habis nangis? Kenapa? Disakitin sama dia?" cecar Wawan.
Ariel melepaskan tangan Wawan. "Aku tak apa."
"Jangan bohong kamu, Riel. Kalian bertengkar?" tanya Wawan sambil terus menatap Ariel dengan lekat.
"Aku tak apa, Mas," jawab Ariel lagi.
"Jangan campuri urusan kami," tegur Om Bobby yang kedua kalinya. Lagi-lagi Wawan mengacuhkan Om Bobby.
"Dia nyakitin kamu? Diapain kamu sama dia?" tanya Wawan yang mulai terbakar emosi. Wawan memang sudah banyak menyakiti Ariel namun bagi Wawan, Ariel tetaplah wanita yang ia cintai. Wawan sudah menyesali perbuatannya yang menyakiti hati Ariel. Ia sudah kehilangan Ariel dan Galang, itu adalah balasan yang setimpal atas perbuatannya di masa lalu. Ia merasa tak rela ada lelaki lain yang menyakiti hati Ariel.
"Aku tak apa, Mas. Aku akan pulang sekarang." Ariel kembali melangkah namun Wawan mencegatnya. "Mas, please. Jangan buat keadaan semakin runyam. Masalahku sudah banyak," pinta Ariel dengan suara lemah. Lelah sekali hatinya hari ini harus menghadapi cobaan yang amat berat. Ia tak mau masalahnya semakin bertambah banyak.
"Jangan bohong, Riel. Aku tahu kamu ada masalah. Katakan padaku, biar aku yang akan membelamu nanti!" kata Wawan dengan penuh semangat.
Om Bobby tersenyum mengejek mendengar apa yang Wawan katakan. "Membela? Enggak salah tuh? Bukannya dulu kamu yang sudah banyak menyakiti Ariel?" sindir Om Bobby yang kesal Ariel terus ditahan dan tak diijinkan pergi.
"Justru karena aku sudah menyakiti Ariel, Aku tak mau dia disakiti lagi. Kamu sudah berjanji padaku kalau kamu menyakiti Ariel, aku akan mengambil Ariel dari sisimu!" kata Wawan sambil menatap ke arah Om Bobby dengan tatapan penuh emosi.
"Cih, siapa yang berjanji? Aku? Sekalipun aku tak pernah melakukan perjanjian seperti itu sama kamu. Aku enggak akan melepaskan Ariel selamanya. Masalah yang terjadi antara aku dan Ariel, itu urusan kami. Kamu enggak berhak ikut campur dalam rumah tangga kami. Kamu hanyalah orang luar, hanya masa lalu yang sudah dikubur rapat oleh istriku," balas Om Bobby.
"Oh ya? Justru orang luar seperti aku yang lebih bermakna di mata Ariel dibanding denganmu! Aku yang tulus mencintai dan mau menerima Ariel apa adanya. Bukan kamu yang hanya bisanya menyakiti hati Ariel saja!" balas Wawan tak mau kalah.
Mendengar jawaban Wawan, Om Bobby tertawa terbahak-bahak. "Hei, kamu belum bangun tidur ya? Sana, cuci muka dulu! Kalau perlu, basahi rambut kamu agar kepala kamu dingin dan jernih. Sudah lupa ya siapa yang membuat Ariel sangat menderita? Kamu! Siapa yang melakukan KDRT? Kamu! Siapa yang menelantarkan Ariel dan Galang? Kamu juga, bukan? Jangan bicara tentang siapa yang paling menyakiti Ariel, karena jawabannya adalah kamu. Kuakui, memang ada masalah dalam rumah tangga kami. Hal itu wajar, namanya juga orang hidup. Kalau tidak ada masalah ya mati! Jangan sok deh jadi pahlawan. Urusi saja hidupmu!"
__ADS_1
Wawan mengepalkan tangannya dengan kesal. "Kalau begitu, akan aku rebut kembali Ariel dan Galang! Mereka milikku, sampai kapanpun akan menjadi milikku!"
Om Bobby kembali tersenyum. Ia berjalan mendekat dan langsung mencengkram kerah baju Wawan lalu mengangkatnya dan memojokkannya ke dinding. "Coba saja kalau berani. Kamu lakukan itu, aku pastikan kamu hanya akan tinggal nama saja. Jangan pernah ambil keluargaku, atau aku akan menukarnya dengan nyawamu!"
Om Bobby benar-benar marah. Baru kali ini Ariel melihat Om Bobby marah, sangat berbeda dari Om Bobby yang Ariel kenal. Ariel bahkan sampai tak mengenalinya.
Galang yang menyaksikan semua pertengkaran di depannya pun menangis ketakutan. Tangisan Galang membuat Om Bobby seakan tersadar dari emosinya. Ia melepaskan Wawan lalu menggendong Galang. "Maafin Om Papa ya, Nak. Maaf. Kita pulang ya!"
Om Bobby menarik tangan Ariel dan mengajaknya pergi dari rumah Wawan. Om Bobby diam saja sepanjang jalan, ia sibuk menenangkan dirinya. Hanya suara ocehan Galang yang membuat perjalanan pulang mereka sedikit ceria.
*****
Ariel menemani Galang bermain sambil menonton TV. Sejak pulang dari rumah Om Bobby si Bandung, Ariel masih terngiang dengan ucapan menyakitkan yang dikatakan Mama Tita. Dirinya merasa kalau dirinya tak berharga sekali, entah bagaimana caranya agar dirinya lebih dihargai.
"Ma, ke taman yuk!" ajak Galang. "Main sepeda!"
"Ayo." Ariel mengiyakan ajakan Galang. Sekarang Ariel benar-benar menjadi nyonya rumah. Semua pekerjaan rumah kecuali memasak sudah ada asisten rumah tangga yang mengerjakan. Ariel punya banyak waktu luang sekarang. "Mama juga butuh udara segar."
Ariel dan Galang pun pergi ke taman. Galang asyik bermain sepeda dengan bebas sementara Ariel biasanya mampir di tukang jajanan, lumayan jajan cemilan.
"Minggu besok akan ada bazar loh di taman. Pasti ramai deh," kata salah seorang ibu-ibu yang biasanya nongkrong di taman menemani anaknya bermain sambil menyuapinya makan.
"Wah asyik dong. Bakalan banyak makanan nih. Aku mau hunting ah," jawab ibu-ibu yang lain.
"Iya nanti kita jalan-jalan. Banyak yang jualan pasti soalnya penghuni komplek yang banyak duitnya akan keluar dan beli. Ladang cuan tuh. Kalau aku tidak repot sama anak, aku mau daftar deh untuk ikut."
Ariel yang sejak tadi mendengarkan pun merasa tertarik. Entah apa yang akan Ariel jual nanti yang pasti Ariel akan menyibukkan dirinya agar tak terus teringat ucapan menyakitkan Mama Tita.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Kalau mau daftar jualan kemana ya?" tanya Ariel sambil tersenyum akrab.
"Sama Pak RT. Kalau Mbak mau daftar, ikut aja!"
"Iya, Bu. Saya mau coba ikut. Nanti saya bilang sama Pak RT deh, terima kasih ya Bu, informasinya." Ariel mengeluarkan ponsel miliknya dan membuka Googel. Ia asyik sendiri mencari sesuatu yang bisa ia buat lalu jual.
"Kayaknya jualan keripik kentang dan kerupuk ikan bakalan laku deh. Aku bisa nih bikin kayak begini," batin Ariel.
Ariel merasa tiba-tiba menjadi bersemangat. Ia tak mau berlarut-larut dengan kesedihannya. "Galang, ayo kita pulang!"
Ariel langsung mencoba membuat keripik kentang dengan bahan seadanya. Ia asyik di dapur dan tak menyadari kalau suaminya sudah pulang kerja. Pelukan Om Bobby dari belakang membuatnya terkejut. "Ish, kamu ngagetin aku saja!"
"Sibuk sekali sih kamu. Buat apa?" tanya Om Bobby.
"Aku mau buat keripik."
"Keripik? Untuk apa?"
"Untuk aku jual di bazar. Sebentar lagi matang. Kamu coba ya!" Ariel mengambil keripik kentang pedas yang ia buat, meniupnya agar tak panas dan menyuapi suaminya. "Gimana? Enak tidak?"
"Enak sih rasanya tapi ...."
"Tapi apa?"
"Tapi tidak garing. Kayaknya kamu tidak jago deh. Sudah tak usah jualan. Kita jadi pembeli aja ya. Nanti kamu bebas mau jajan apa saja," bujuk Om Bobby.
"Yah ... melempem ya? Tenang, masih ada waktu. Besok aku akan mencoba lagi sampai berhasil. Aku pasti bisa!"
__ADS_1
****