
Ariel merasa sangat marah dan dadanya seolah sesak mengetahui kalau suaminya digoda wanita lain. Sebagai mantan wanita penggoda, Ariel merasa ini adalah karma atas perbuatannya di masa lalu. Dulu, Ariel pernah menggoda Noah dan menawarinya tidur bareng secara gratis, padahal Ariel tahu kalau Noah adalah kekasih sahabatnya, Luna.
Ariel meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Ia mencari nomor Luna dan menghubungi sahabatnya tersebut.
"Hallo, Lun," kata Ariel saat sambungan teleponnya dijawab oleh Luna.
"Hei, Riel, apa kabar?" jawab Luna dengan suara riang dan hangat.
Ariel tersenyum, sahabatnya tersebut hidupnya tak lebih baik darinya. Namun Luna beruntung bisa bertemu lelaki baik dan kini hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
"Kabarku baik, Lun. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Ariel seraya mengusap rambut Galang yang tertidur pulas di sampingnya
"Baik, Riel. Ada apa kamu meneleponku? Ada masalah?" tanya Luna dengan nada khawatir.
"Oh, tidak ada masalah kok, Lun. Maaf ya aku mengganggu kamu malam-malam begini," jawab Ariel.
"Ish ... apanya yang mengganggu. Aku malah senang ditelepon kamu. Kamu kemana saja, kok tak pernah memberi kabar?" tanya Luna.
"Aku ... mengalami banyak hal beberapa waktu kemarin Lun. Aku dan Mas Wawan sudah bercerai," kata Ariel dengan suara pelan.
"Hah? Bercerai? Kenapa? Bukankah Mas Wawan amat mencintai kamu? Bukankah kalian hidup bahagia, Riel?" Luna terlihat begitu terkejut dengan perkataan Ariel.
"Mas Wawan memang mencintaiku ... dulu. Dia berubah dan pada akhirnya kami memutuskan bercerai." Ariel memilih merahasiakan kisah Wawan pada Luna. Biarlah ia menyimpan rapat rahasia keburukan ayah dari anaknya.
"Ya ampun, Riel. Kamu pasti sedih banget ya dan aku tak ada di samping kamu. Apa yang bisa aku bantu untuk meredakan sedikit kesedihan kamu, Riel?"
__ADS_1
Ariel tersenyum kecil. Pantas kalau ia mendapat karma saat ini. Ia dulu begitu jahat pada sahabatnya sendiri. Pasti Tuhan murka dan kini Ariel mendapat balasan atas kesalahannya di masa lalu. "Aku tak apa-apa, Lun. Aku kini sudah memulai hidup baru. Aku sudah menikah lagi, ya ... meskipun secara siri."
"Hah? Serius? Dengan siapa? Aduh, kok aku bisa ketinggalan banyak berita tentang kamu ya, Riel? Kamu sih orangnya terlalu tertutup. Cerita dong sama aku, ada apa. Kamu membuat aku sampai ketinggalan banyak berita begini tentang kamu. Kamu menikah dengan siapa?"
Ariel kembali tersenyum mendengar omelan Luna. Omelan sayang dari seorang sahabat yang begitu memperhatikannya. "Dengan sugar daddy aku," jawab jujur Ariel.
"Hah? Sugar daddy kamu? Om Sam?" Luna sampai kaget berkali-kali mendengar jawaban Ariel.
"Bukan. Om Bobby namanya."
"Hah? Tunggu, bukankah kamu cuma sekali menjadi sugar baby? Kok bisa ada Om Bobby?" Ariel pun menceritaka bagaimana di masa sulitnya ia kembali menjalani profesi sebagai sugar baby. Luna agak kecewa dengan jalan yang Ariel tempuh, andai ia tahu kesulitan Ariel, pasti ia akan menolong sahabatnya tersebut. Mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Om Bobby ... dia mencintai kamu?" tanya Luna dengan hati-hati, tak mau menyakiti hati sahabatnya.
"Aku ... tak tahu. Dia tak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Yang pasti, aku adalah pawang untuk Joni."
"Ya, aku bahagia selama berada di dekat Om Bobby. Aku mencintainya. Aku merasa aman saat berada di dekatnya. Galang pun amat menyayanginya."
"Syukurlah. Aku senang mendengar kamu bahagia, Riel."
"Terima kasih, Lun. Sebenarnya, tujuan aku menelpon kamu hari ini adalah untuk meminta maaf atas semua kesalahanku di masa lalu sama kamu. Aku adalah seorang sahabat yang jahat. Aku dulu merebut Noah dari kamu. Aku menggoda Noah bahkan aku sampai hamil anaknya. Apa yang aku lakukan itu sungguh perbuatan yang sangat jahat dan pasti sangat menyakiti kamu. Aku minta maaf, Lun. Aku menyesal sudah menyakiti kamu."
"Kamu sudah meminta maaf beberapa kali padaku, Riel. Aku sudah memaafkan kamu. Memang semua itu adalah jalan hidupku. Berkat kejadian itu, aku bertemu lelaki baik yang kini menjadi suamiku. Sudahlah, jangan dibahas dan dipikirkan lagi ya."
"Rasanya, kata maaf saja tak cukup untuk menghapus semua dosaku. Sekarang, aku merasakan apa yang kamu rasakan, Lun. Perasaan takut, marah dan rasa tak terima saat lelaki yang menjadi milikku digoda oleh wanita lain." Mata Ariel kembali memanas teringat bekas tanda kepemilikan di dada Om Bobby.
__ADS_1
"Digoda wanita lain? Jangan bilang kalau Om Bobbymu digoda wanita lain?" tanya Luna.
"Ini adalah karmaku, Lun. Karma karena sudah merebut Noah." Air mata Ariel akhirnya menetes juga. Perasaan sesak yang ia tahan di dalam hati kini keluar juga.
"Sst, jangan bicara begitu. Suami digoda wanita lain itu banyak, Riel. Kamu lupa kalau di luar sana banyak wanita penggoda yang sangat suka dengan lelaki kita? Yang terpenting, apakah suami kita tergoda? Kalau tidak, itu artinya kamu istimewa di matanya." Nasehat Luna.
Ariel terdiam. Ariel memang melihat kejujuran dalam setiap ucapan Om Bobby. Suaminya tidak tergoda dan masih bisa menahan diri. Apa yang Luna katakan memang benar. Ariel istimewa di mata Om Bobby, yang tidak tergoda dengan kecantikan sang model yang pasti lebih cantik darinya. "Kamu benar, Lun. Terima kasih banyak atas nasehatmu."
Ariel mengakhiri panggilannya setelah mengucapkan maaf sekali lagi. Hatinya yang tadi marah dan sesak kini hanya menyisakan rasa marah saja. Bukan marah pada suaminya melainkan pada wanita centil yang sudah berani menggoda suaminya.
****
Ariel mengangkat wajahnya dan berjalan dengan penuh percaya diri. "Saya mau bertemu dengan model yang bernama Sinta!" kata Ariel pada resepsionis di kantor Om Bobby.
"Sinta? Maaf, ada keperluan apa ya?" tanya resepsionis yang bertugas seraya mengingat-ingat dimana dirinya pernah melihat wanita berkaca mata hitam di depannya.
Ariel menurunkan kaca matanya. Tak ada senyum si wajahnya sama sekali. Aura marah dalam dirinya begitu kentara. "Saya mau bicara dengannya!"
Resepsionis tersebut akhirnya ingat siapa wanita di depannya. Wanita yang pernah datang bersama anak kecil yang amat disayangi bos tempatnya bekerja. Resepsionis tersebut yakin, wanita di depannya memiliki hubungan khusus dengan bosnya.
"Sinta ... sedang di ruang 3. Mohon ditunggu seben-" Belum selesai resepsionis tersebut bicara, Ariel sudah masuk ke dalam ruang 3. Ariel tahu dimana ruangan tersebut dari sorot mata resepsionis yang mengarah ke ruangan tersebut dengan takut-takut. "Bu, tunggu dulu!"
Ariel mengacuhkan ucapan resepsionis dan menatap wanita cantik yang berada di depannya. "Kamu ya namanya Sinta?" tanya Ariel.
Wanita itu mengerutkan keningnya. "Iya, kenapa ya?"
__ADS_1
****