
Ariel datang bersama Galang ke kantor Om Bobby. Baru kali ini Ariel menginjakkan kaki di kantor suaminya. Kantor Om Bobby berada di salah satu gedung pencakar langit.
"Pak, ada yang mencari Bapak, seorang perempuan masih muda dan anak kecil," kata Bayu memberitahu Om Bobby.
"Suruh masuk ke sini saja!" Om Bobby kembali berbicara dengan sutradara mengenai konsep iklan yang akan dibuat. Ia dan para kru sudah menunggu kedatangan Galang dan Ariel.
Om Bobby tersenyum saat melihat Ariel datang dengan mendorong stoller Galang. Wajah Ariel agak pucat namun ia berhasil menyembunyikannya dengan make up. Ariel balas tersenyum ramah kepada para kru yang tersenyum padanya.
Om Bobby mendekati Galang dan menggendongnya. "Galang suka minum susu tidak?" tanya Om Bobby.
"Suka!" jawab Galang dengan yakin.
"Galang suka mainan?" tanya Om Bobby lagi.
"Suka!"
"Oke. Om akan kasih Galang susu dan mainan kalau Galang ...." Om Bobby mengarahkan Galang harus berbuat apa. Anak itu menurut saja apa yang Om Bobby arahkan.
Om Bobby memberi kode pada kru dan sutradara untuk memulai syuting. Galang melakukan apa yang tadi Om Bobby ajarkan. Ia berlari sambil tertawa dan terlihat begitu menikmati susu yang diminumnya. Ekspresi natural Galang membuat sutradara mendapatkan gambar yang bagus tanpa perlu banyak adegan pengulangan.
Syuting dengan Galang tak memakan waktu lama. Anak itu begitu lucu dan menggemaskan, Galang tak takut berada di antara orang banyak. Para kru semua senang bekerja sama dengan Galang, si anak ceria yang mudah beri pengarahan. Bahkan sutradara memuji ekspresi Galang yang natural saat menyukai susu yang diminumnya.
"Terima kasih, Galang!" Beberapa kru melambaikan tangan pada Galang yang begitu nyaman berada di gendongan Om Bobby.
Ariel sejak tadi duduk di pojokan dan memperhatikan Galang syuting. Ariel merasa tubuhnya kurang sehat. Melayani Om Bobby di bawah shower yang mengalir rupanya membuat Ariel masuk angin. Ariel memendam sendiri rasa sakitnya. Ia tak mau Om Bobby khawatir dan merasa tak enak. Sudah menjadi tugasnya melayani suami dengan sepenuh hati.
"Ayo, ke ruangan Om. Nanti Om kasih mainan!" ajak Om Bobby.
Mendengar kata mainan membuat Galang berseru kegirangan. Om Bobby menghampiri Ariel dan mengajaknya ikut serta. Om Bobby belum tahu kalau Ariel tak enak badan. Ia sibuk mengurus syuting yang tak juga selesai.
Sebelum keluar dari studio tempat syuting, Om Bobby berpesan pada Bayu, "Yu, bilang sama cewek yang lolos casting alat kontrasepsi dan kru yang lain untuk memulai syuting iklan besok!" perintah Om Bobby.
__ADS_1
"Baik, Pak."
Om Bobby pun pergi meninggalkan anak buahnya yang langsung membicarakannya setelah ia pergi.
*"Eh, anak siapa tuh yang tadi sama si bos?"*
*"Anaknya mungkin?"*
*"Masa sih?"*
*"Lihat aja, tuh anak nurut banget sama si bos. Pasti anaknya deh. Eh, bukannya si bos itu duren ya alias duda keren?"*
*"Katanya sih duren, terus kalau itu anaknya, lalu cewek yang tadi diam saja di pojokan itu ibu anaknya?"*
*"Yah ... si bos udah laku dong berarti? Kita enggak ada kesempatan nih buat deketin lagi dong?"*
*"Ceweknya cantik sih tapi kayaknya masih banyak pacar si bos yang cantik dan seksi deh selain cewek itu. Apa si bos enggak salah pilih tuh?"*
****
Ariel duduk di sofa yang nyaman sambil menatap ruangan Om Bobby yang bagus. Ada beberapa koleksi mainan mobil-mobilan langka miliknya. Galang sedang memainkannya dengan asyik.
"Tidak, Om."
Om Bobby duduk di samping Ariel dan secara tiba-tiba mengecup pipinya. "Loh, kok pipi kamu hangat?" Om Bobby memeriksa kening Ariel dengan telapak tangannya. "Kamu demam."
Om Bobby menatap Ariel dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Kamu sakit? Kok kamu tidak bilang kalau sakit? Seharusnya kamu jangan memaksakan diri jika memang sakit."
Ariel tersenyum kecil. "Aku tak apa, Om."
"Tak apa bagaimana? Suara kamu saja lemas begitu. Sudah, ayo kita ke dokter sekarang!" kata Om Bobby tak terbantahkan.
__ADS_1
Om Bobby menaruh Galang di stoller dan menggandeng tangan Ariel sambil mendorong stoller Galang. Sikap Om Bobby yang menunjukkan kemesraannya tentu saja membuat karyawannya semakin membicarakannya di belakang. Om Bobby tak peduli, yang terpenting adalah menyembuhkan Ariel terlebih dahulu.
Om Bobby mengantar Ariel ke dokter. "Ibu Ariel kelelahan dan demam, butuh istirahat yang cukup. Saya akan berikan obat penurun panas dan vitamin. Perbanyak istirahat ya, Bu," kata dokter yang memeriksa.
"Baik, Dok."
Om Bobby makin merasa bersalah. Semua karena ia terlalu menuruti Joni yang seakan bangkit dari tidur panjangnya. "Maafkan aku ya, Riel. Karena melayaniku, kamu jadi kelelahan," kata Om Bobby dari hati terdalam.
"Tak apa, Om. Sudah tugasku untuk melayani Om. Aku 'kan istri, Om," kata Ariel sambil tersenyum lemah.
Sesampainya di rumah, Om Bobby membayar rasa bersalahnya dengan mengurua Galang dan Ariel yang sakit. Om Bobby menyuruh Ariel istirahat dan Galang ia yang mengurus.
"Aku sudah enakkan kok, Om. Bukankah Om harus berangkat kerja karena ada syuting iklan penting?" kata Ariel keesokan harinya.
Ariel sudah tidak demam. Ia sudah cukup istirahat. Om Bobby benar-benar memaksa Ariel istirahat, bahkan asisten rumah tangga yang biasa pulang pergi pun disuruh menginap demi menjaga Galang dan Ariel.
Om Bobby menatap Ariel dengan lekat. Wajah Ariel sudah tak pucat dan tak lagi demam. "Baiklah. Aku akan ke kantor. Kalau kamu demam lagi, kabari aku ya!"
"Iya."
Om Bobby pun pamit untuk bekerja. Ia mengecup pipi Ariel lalu memegang keningnya untuk memastikan kalau Ariel sudah benar-benar sehat. "Aku kerja dulu ya!"
"Iya." Baru satu langkah Om Bobby pergi, Ariel membuat langkah kaki Om Bobby terhenti dengan ucapannya. "Hati-hati ya, Suamiku!"
Om Bobby berbalik badan dan tersenyum. "Iya ... istriku, eh Ayangku eh Mommy Ariel. Ah, aku bingung mau memanggil kamu apa."
Ariel tersenyum lebar melihat Om Bobby yang malu-malu sambil garuk-garuk kepala. Om Bobby bukan orang yang romantis, perlu wanita seperti Ariel yang mendobrak tembok kaku dirinya. "Panggil Ayang juga boleh."
"Iya ... Ayang," kata Om Bobby sambil tersenyum. Om Bobby berbalik badan dan hendak pergi namun ucapan Ariel kembali menghentikan langkahnya.
"Aku akan segera sembuh, Beb. Aku juga tak sabar untuk bersilahturahmu dengan Joni lagi," kata Ariel dengan suara menggoda.
__ADS_1
Om Bobby tersenyum dipanggil Beb oleh Ariel. Ia kembali berbalik badan dan balas menggoda Ariel. "Nanti saat silahturahmi sama Joni, kamu panggil Bebnya dengan suara serak kamu yang seksi itu ya. Pulihkan diri kamu karena Joni sudah tak sabar ingin digoyang sama kamu ... Ayangku!"
****