Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Menunaikan Janji


__ADS_3

Om Bobby berangkat pagi sekali untuk bekerja. Syuting hari ini rencananya di daerah Bogor. Tak mau terjebak macet, terpaksa Om Bobby berangkat pagi.


Ariel juga sedang bersiap-siap untuk mengajak Galang bertemu dengan Wawan, Papa kandungnya. Terakhir kali Galang bertemu dengan Wawan adalah saat di Mall waktu itu. Sekarang, Ariel menepati janjinya untuk mempertemukan Galang dan Wawan.


Restoran cepat saji yang terletak tak jauh dari rumah Om Bobby tersebut, siang ini nampak agak kosong. Maklum, hari kerja, kalau weekend biasanya lumayan penuh. Ariel menuntun Galang yang hari ini mengenakan baju kodok dengan topi bergambar sapi. Anak itu begitu lucu dan tak rewel diajak berjalan kaki oleh Ariel.


Sepanjang jalan, mulut mungilnya terus bertanya akan diajak kemana. Ariel mengatakan terus terang kalau mereka akan bertemu dengan Papanya Galang. Awalnya Galang mau menolak, namun saat Ariel memberitahunya kalau Wawan sudah menyiapkan mainan yang dijanjikannya, anak itu akhirnya kembali ceria.


Wawan melihat Ariel dan Galang yang berjalan bergandengan dengan memakai payung. Wawan menduga kalau Ariel dan Galang pasti tinggal tak jauh dari tempat mereka bertemu hari ini. Wawan berdiri dan menghampiri Ariel dan Galang dengan senyum lebar di wajahnya.


"Hi, Galang!" Wawan mendekat dan langsung ingin menggendong Galang. Tentu saja anak itu tak mau, trauma masa lalu rupanya tak mudah hilang meski Wawan kemarin sudah membuatnya tertawa tetap saja saat bertemu Galang akan kembali takut.


"Masuk dulu yuk! Galang mau main perosotan bareng Papa tidak?" bujuk Wawan.


Galang yang semula bersembunyi di belakang tubuh Ariel kini mengintip. Ia hafal tempat ini karena beberapa kali Om Bobby mengajaknya. Ada perosotan yang sangat Galang sukai.


Dengan mudahnya Galang mengiyakan ajakan Wawan. Ia menganggukkan kepalanya, kesempatan ini digunakan Wawan untuk menggendong Galang dan membawanya ke dalam. "Ayo, masuk, Riel!" ajak Wawan.


Ariel mengikuti langkah Wawan menuju satu meja yang letaknya di depan prosotan. Sengaja Wawan menempati tempat tersebut agar mudah mengawasi Galang. Di atas meja sudah ada ayam goreng, nasi, kentang, es krim dan juga mainan yang disediakan Wawan.


"Ayo, duduk, Riel. Aku sudah pesan makanan dan minuman. Makanlah!" kata Wawan pada Ariel.

__ADS_1


Kini gantian Wawan berbicara pada Galang. "Galang mau lihat mainan dulu atau mau langsung main prosotan?" tanya Wawan.


"Mau pocotan!" jawab Galang tak sabaran.


"Oke. Ayo, Papa temani!" Wawan dan Galang pun mainan prosotan meninggalkan Ariel.


Ariel memperhatikan bagaimana Wawan bermain dengan Galang. Wawan seakan kembali menjadi Wawan yang dulu, Wawan yang penyayang. Suami yang perhatian dan pernah Ariel cintai.


Ternyata memang benar, judi dan minuman bisa merubah seseorang. Wawan yang dulu penyayang bisa kasar karena minuman dan judi. Kini setelah lepas dari keduanya, Wawan kembali menjadi sosok penyayang lagi. Sayang, Wawan kembali setelah rumah tangga mereka hancur. Sungguh harga mahal yang harus ia bayar.


Wawan membiarkan Galang main seorang diri. Ia duduk di seberang Ariel yang tak menyentuh sama sekali makanan dan minuman yang disajikannya. "Loh, kok enggak dimakan sih?" tanya Wawan.


"Aku masih kenyang, Mas," jawab Ariel sambil terus mengawasi Galang.


"Enggak kok, biasa saja," jawab Ariel.


"Kamu ... bekerja apa di sana? Kembali seperti dulu?" tanya Wawan dengan hati-hati. Ia tak mau Ariel marah dan tak memberinya ijin bertemu Galang lagi.


"Tidak. Aku menjaga rumah Om Bobby dan menyiapkan keperluannya."


Wawan menatap Ariel yang tak menatapnya saat berbicara. Ariel terus mengawasi Galang seakan takut anak itu kabur. Ariel kini terlihat lebih kurus namun malah lebih cantik. Pakaian yang dikenakannya membuat Ariel terlihat elegan meski hanya blouse dan celana jeans. Terlihat mahal. Wajah Ariel juga lebih cerah, beda saat menjadi istri Wawan dulu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan perasaanmu pada Om itu? Masih tidak berbalas?" tanya Wawan.


"Aku datang menemuimu bukan untuk membahas kehidupan pribadi dan perasaanku, Mas. Aku datang untuk menepati janjiku, mengijinkan kamu bertemu Galang," jawab Ariel dengan tegas.


"Aku hanya penasaran saja. Aku kenal kamu. Saat kamu mencintai seseorang, kamu akan menjadi bodoh. Saat dulu mencintai pacarnya sahabatmu, kamu bahkan sampai aborsi. Lalu saat mencintaiku, kamu ... masih bertahan memiliki suami buruk sepertiku. Apa dengan lelaki itu kamu masih mencintainya dengan bodoh?" tanya Wawan.


Ariel tak suka dengan pertanyaan Wawan. Ia menatap balik Wawan dan menjawab pertanyaannya dengan ketus. "Itu bukan urusan kamu, Mas!"


"Aku ... hanya iri." Wawan menghembuskan nafas dalam. "Aku iri melihat kamu mencintai lelaki lain dan itu bukan aku. Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku akan berhenti main judi dan mabuk-mabukan lalu akan membayar semua kesalahanku pada kamu dan Galang."


Ariel tertawa kecil. Tawa mengejek. Sudah ratusan kali Ariel mengingatkan Wawan, tetap saja bagi lelaki itu judi dan alkohol lebih penting dibanding keluarga.


"Mungkin kamu tak akan mempercayai perkataanku. Aku mengerti, siapa yang akan mempercayai ucapan dari seorang pemabuk dan tukang judi seperti aku? Setelah aku kehilangan semua, aku baru menyadari kalau selama ini yang aku cari bukanlah harta, kebahagiaan saat minum atau mungkin kepuasan batin saat menang judi. Aku kehilangan semua dan aku sangat menyesal. Aku ingin kembali sama kamu dan Galang. Sayangnya, kamu menutup pintu untuk aku bisa mengetuk hati kamu kembali. Aku berharap suatu hari nanti pintu hati kamu akan terbuka dan kamu akan membiarkan aku untuk mengobati semua luka yang pernah aku perbuat." Wawan menatap Ariel dengan penuh harap.


"Aku sudah berhenti minum. Aku juga sudah tak pernah lagi berjudi. Aku bekerja keras sampai aku akhirnya dapat promosi. Aku sudah memperbaiki hidupku, Riel. Katakan padaku, apalagi yang harus aku lakukan untuk menunjukkan sama kamu kalau aku sudah menyesal?" Wawan meraih tangan Ariel dan menggenggamnya, Ariel langsung menarik tangannya dan melepaskan tangan Wawan.


Ariel bersikap tak peduli dan tak terpengaruh dengan ucapan Wawan. "Aku udah bilang sebelumnya sama kamu, kedatangan aku ke sini adalah untuk menunaikan janjiku mempertemukan kamu dengan Galang, bukan mendengarkan bagaimana perasaan kamu dan penyesalan kamu yang sudah enggak ada gunanya di hidupku. Sekarang, sekalipun kamu sudah berubah, semuanya akan tetap sama. Aku sudah pergi dan enggak akan pernah kembali lagi."


"Kita masih bisa rujuk, Riel. Kita masih bisa membangun satu keluarga yang utuh dan penuh cinta. Galang akan tetap memiliki aku dan kamu sebagai orang tuanya. Aku akan berikan apa saja demi membahagiakan kamu," bujuk Wawan.


"Aku sudah bilang semua itu terlambat, Mas. Kenapa aku harus kembali sama kamu? Semua sudah tidak mungkin. Aku kini sudah punya suami." Ariel menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Aku adalah istri dari Om Bobby, itulah pekerjaanku sekarang. Menjadi istri yang mengurus rumah dan suaminya."

__ADS_1


****


__ADS_2