Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Pelukan Menenangkan


__ADS_3

Prisa menangis seraya menganggukkan kepalanya. Tidak ada masalah dengan Mamanya saja, Kak Robbie jarang pulang, apalagi setelah ada masalah?


"Aku akan sering mengunjungi Kakak," kata Prisa.


"Good. Rajin belajar ya. Kakak yakin kamu akan dapat kampus terbaik. Adik Kak Robbie pintar, tunjukkan kepintaran kamu sama Kakak. Jangan jadi anak nakal ya!" Om Bobby mengusap rambut Prisa dengan penuh kasih sayang.


Prisa mengangguk lalu melepaskan pelukan Om Bobby. Ia memaksakan senyum di wajahnya agar sang Kakak pergi dengan hati yang sedikit lebih baik. Prisa mengantar kepergian Kakaknya sampai depan. Lambaian tangannya menyertai sampai mobil yang Om Bobby dan Ariel tumpangi pergi dan menghilang di tikungan.


Prisa menghapus air mata di wajahnya dengan kasar. Ia masuk ke dalam rumah dan disambut tatapan tajam Mamanya yang tak suka karena Prisa berada di pihak sang Kakak.


"Kenapa kamu membela apa yang Kakakmu lakukan? Kamu tahu bukan kalau pilihan Kakakmu kali ini salah? Seharusnya kamu tegur dN berada di pihak Mama, bukannya mendukung dan malah membuat Kakakmu besar kepala karena ada yang dukung," omel Mama Tita.


Prisa menghentikan langkahnya dan menatap sang Mama dengan tatapan tajam. "Kalau begitu, pilihan aku tidak mendukung Mama adalah pilihan yang tepat. Mama tak pantas mendapat dukunganku!"


"Prisa! Jangan ikut-ikutan kurang ajar seperti Kakakmu!" bentak Mama Tita.


"Aku tak akan bersikap seperti ini kalau Mama menghormati keputusan Kak Robbie. Sayangnya, Mama terlalu egois dan menganggap diri Mama lebih baik dari Kak Ariel padahal kenyataannya ... Kak Ariel tak beda jauh dengan Mama." Prisa meninggalkan sang Mama dan masuk ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu kamar dan menyetel musik dengan kencang. Meredam kemarahan dan kesedihannya seorang diri, seperti biasanya.


****


"Sudahlah, jangan diambil hati ucapan Mama. Terlalu menyakitkan untuk kamu ingat. Lupakan saja." Om Bobby melirik Ariel yang duduk di sampingnya. Sejak berangkat dari Bandung sampai sudah hampir sampai di rumah Wawan, Ariel hanya diam saja sambil menatap pemandangan dari luar jendela.


Mobil Om Bobby berhenti di belakang lampu merah. Angin semilir bertiup membuat pohon-pohon bergoyang dan daun beterbangan. Dengan tatapan kosong, Ariel menatap daun yang hendak jatuh namun kembali diterbangkan angin, terbang lagi dan akhirnya jatuh ke atas tanah.

__ADS_1


Hidup Ariel tak ubahnya dengan daun kering tersebut. Gugur dari ranting lalu tertiup angin, belum sampai tanah sudah ada angin lagi yang bertiup, menerbangkannya lebih tinggi namun malah membuatnya merasakan rasa sakit yang lebih lagi saat terjatuh.


Baru saja ia berharap akan kehidupannya dan Galang yang lebih baik saat bersama Om Bobby, dirinya malah dihina dan diinjak bagai kecoa yang amat menjijikan. Mau membela diri pun tak bisa karena sejatinya semua itu benar adanya.


"Aku tak ingin menyimpan semuanya di dalam hatiku. Terlalu menyakitkan. Namun ucapan Mama kamu bak lem Korea yang melekat erat di hatiku. Susah untuk dilepaskan," jawab Ariel.


Om Bobby meraih tangan Ariel dan mengecupnya. Tangan yang memiliki telapak agak kasar karena selama ini selalu bekerja keras mengurus suami dan anaknya. Tangan yang semula halus kini menjadi kasar karena harus memakai sabun yang murah demi menghemat uang belanja yang hanya seratus ribu sebulan.


"Kamu tahu, menikahi kamu itu sungguh hal yang tak pernah ada di pikiranku sama sekali. Ibaratnya, aku sudah mati rasa. Tak ada satu pun wanita yang terlihat menarik di mataku. Tak ada satu pun yang mampu menyaingi pesona Lisa dalam hidupku, sampai akhirnya kamu datang." Om Bobby kembali melajukan mobilnya ketika lampu merah berubah menjadi lampu hijau. Mobil melaju pelan karena jalanan macet akibat banyaknya volume kendaraan.


"Aku sudah bertekad akan hidup sendiri saja, tanpa pasangan dan menua, bahkan mati tanpa ada yang menemani. Happy-happy meski Joni tak bisa bereaksi. Satu-satunya yang aku khawatirkan adalah adikku, Prisa. Bagaimana hidupnya tanpa aku? Lalu aku mengenal kamu. Kamu tidak masuk ke dalam hidupku dengan mengetuk pintu terlebih dahulu dengan pelan, kamu langsung mendobrak hidupku. Kamu membangunkan Joni yang selama ini tertidur pulas. Dalam hatiku berkata, kamu adalah wanita yang berbeda,"


"Bukan karena kamu mampu membangunkan Joni. Bukan karena aku merasa kamu mirip Lisa saat tersenyum. Bukan. Aku melihat kamu adalah sosok ibu yang kuat. Saat kamu menyuapi anakmu, Galang dan memberikannya perlindungan dari kejamnya takdir hidup kalian, di situ aku melihat sisi lainmu. Kamu wanita kuat. Kamu punya tekad kuat untuk membahagiakan anakmu. Kamu hebat. Itu yang membuatku kagum,"


Air mata Ariel kembali menetes. Ia hapus dengan kasar sambil memasang senyum getir. "Aku tidak spesial. Aku hanyalah mantan wanita malam. Wanita yang menjual keperawanan dan mau dijadikan simpanan hanya demi uang. Aku tak hebat. Aku hina, seperti yang Mama kamu katakan."


"Tidak. Mama sudah salah," elak Om Bobby.


"Mama kamu tak salah. Memang benar aku sehina itu. Memang benar aku telah merusak rumah tangga Om Sam. Kalau saja aku tidak dibutakan dengan uang, aku akan berhenti saat tahu Om Sam sudah punya istri. Kalau saja aku tidak serakah, aku tak akan meniduri pacar sahabatku secara cuma-cuma hanya atas nama cinta. Aku hina. Aku memang sehina itu." Ariel menangis sesegukan. Ucapan Mama Tita memang sangat menusuk hatinya, menghancurkan sisa-sisa harga diri dalam dirinya. Ibaratnya, Ariel seperti dikuliti hidup-hidup tanpa bisa melawan.


"Oh, Sayang ...." Om Bobby menarik Ariel dalam pelukannya. Beruntung jalanan macet jadi Om Bobby bisa memberikan pelukan hangat untuk menenangkan Ariel. "Maafkan Mamaku ya. Maafkan ucapannya yang pedas itu ya. Maaf ... sekali."


Tiin ... tiin!

__ADS_1


Suara klakson membuat Om Bobby melepaskan pelukannya. Ia menjalankan mobilnya karena mobil di depannya sudah maju, banyak pengendara motor yang protes karena Om Bobby tak kunjung jalan.


"Mau berhenti di suatu tempat dahulu? Kita bisa bicara dengan tenang. Bagaimana kalau di restoran depan sana?" tawar Om Bobby.


"Tak usah. Aku ingin bertemu Galang. Hanya Galang yang bisa meredakan kesedihan yang aku rasakan," tolak Ariel.


Om Bobby menghela nafas dalam. "Baiklah. Kita bicarakan di rumah ya."


Kedatangan Ariel disambut dengan pelukan hangat Galang. Anak itu amat merindukan Mamanya padahal hanya menginap sehari saja di rumah neneknya. "Mama ... Mama kemana? Galang kangen sama Mama." Ucapan Galang sudah semakin jelas seiring bertambah usianya.


"Mama pergi sama Om Papa. Galang senang tidak menginap di rumah Papa?" Ariel menggendong Galang dan mencium pipi gembilnya yang menggemaskan.


"Senang tapi Galang mau sama Mama aja." Galang kembali memeluk Ariel seakan takut ditinggalkan lagi.


"Yaudah kalau mau sama Mama. Kita pulang ya." Ariel pamit pada Ibu Sari namun saat hendak melangkah keluar rumah, mereka berpapasan dengan Wawan yang baru pulang bekerja.


"Kamu sudah mau jemput Galang, Riel?" tanya Wawan seraya menatap Ariel dengan lekat.


"Iya, Mas. Aku bawa Galang pulang ya!" jawab Ariel. Baru saja Ariel melangkah, tangan Wawan memegang lengannya, membuat langkahnya terhenti.


"Tunggu. Mata kamu kenapa? Kamu habis nangis?"


****

__ADS_1


__ADS_2