
"Tak ada yang harus kita bicarakan lagi!" tolak Ariel. "Pergilah, jangan sampai suamiku melihat keberadaanmu!" usir Ariel.
Noah berdiri dan menatap Ariel dengan lekat. Jarak mereka yang dekat membuat Noah menyadari perubahan Ariel. Nampak jauh lebih cantik dari sebelumnya. "Aku hanya ingin minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu. Boleh kasih aku waktu sebentar?"
"Pergilah!"
Ariel terkejut mendengar suara Om Bobby yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Hampir saja ia meloncat kaget karena merasa ketahuan sudah berbicara dengan lelaki lain saat suaminya pergi sebentar saja.
"Beb, aku tidak-" Belum selesai Ariel bicara, Om Bobby sudah memotong ucapannya.
"Aku tahu. Pergilah. Selesaikan apa yang belum kalian selesaikan di masa lalu!" kata Om Bobby sambil tersenyum menenangkan.
Lagi-lagi Ariel merasa beruntung bisa memiliki suami sebaik Om Bobby, yang sangat pengertian dan open minded. Tidak berpikiran sempit dan mudah berburuk sangka.
"Aku ijin sebentar ya, Beb," pamit Ariel.
Om Bobby menjawabnya dengan senyuman. Ia kini duduk di samping Galang dan menawarinya makan.
"Oke, kita bicara di depan saja," kata Ariel.
__ADS_1
"Oke." Noah pun berjalan terlebih dahulu. Ia memilih sudut yang sepi agar bisa berbicara dengan bebas.
"Cepatlah, aku tak bisa berlama-lama meninggalkan suami dan anakku," kata Ariel dengan ketus namun jika dicermati ucapannya mengandung kesombongan dan rasa bangga karena kini dia sudah memiliki suami dan bukan wanita murahan lagi seperti dulu saat Noah mengenalnya.
"Aku ... mau minta maaf atas apa yang terjadi di antara kita, di masa lalu. Saat itu, aku sungguh belum dewasa. Aku hanya lelaki egois dan lebih mementingkan perasaannya sendir. Aku tahu, waktu itu kamu sangat terluka atas penolakan dariku. Aku tak bisa menerima saat Luna meninggalkanku demi laki-laki lain. Jujur saja, saat itu aku sangat jahat sama kamu, Riel. Aku memanfaatkan perasaan kamu ke aku demi keuntungan pribadiku. Aku salah. Aku akui itu,"
"Namun aku yang bodoh ini tak menyadari kesalahanku sampai akhirnya kamu mengatakan kalau kamu sudah menggugurkan bayi kita, anakku. Pulang dari pesta malam itu aku menyesal sekali, sungguh sangat menyesal. Dulu aku pikir kalau anak yang kamu kandung adalah anak laki-laki yang selama ini menjadikanmu sebagai wanita simpanannya. Aku tak percaya kalau itu adalah anakku. Aku sangat menyakiti hatimu karena aku pikir kamu terbiasa berganti pria sesukamu,"
"Awalnya aku ragu sama kamu namun aku sadar kalau kamu tak akan mungkin berbohong saat mengatakan itu. Entah mengapa sejak saat itu aku terus dilanda rasa bersalah dan menyesal. Andai waktu itu aku bertanggung jawab mungkin aku sudah memiliki anak kandungku sendiri. Mungkin aku tak perlu mengalami kegagalan yang terus-menerus. Aku sudah menuai karma atas apa yang kau lakukan di masa lalu kemarin." Noah menunduk dan memainkan jari jemarinya. Ia terlihat begitu menyesal atas apa yang telah dilakukannya di masa lalu.
"Karma? Maksud kamu apa?" Ariel justru lebih tertarik mendengar Noah sudah mendapatkan karma atas kesalahan di masa lalunya. Ternyata bukan hanya Ariel yang mendapatkan karma atas perbuatan buruknya, Noah juga. Ia kini penasaran dan ingin tahu apa yang Noah alami sampai akhirnya lelaki sombong itu mau menurunkan harga dirinya untuk meminta maaf pada Ariel.
Ariel melihat harga diri Noah yang tercoreng saat mengatakan hal tersebut. Noah yang selama ini dikenal sebagai laki-laki tampan dan banyak yang diidolakan saat mereka duduk di bangku kuliah dulu, kini hanyalah laki-laki yang merasa dirinya memiliki kekurangan yang sangat sulit untuk disembuhkan.
Lagi-lagi Ariel merasa bersyukur telah memiliki Galang, anak yang lahir dari rahim yang dulu hampir saja tak bisa diselamatkan jika Luna tidak membawanya tepat waktu. Ariel juga merasa kalau ia tak akan mungkin bisa memiliki anak sampai akhirnya Galang hadir dalam hidupnya dan menjadikannya wanita yang sempurna.
Ariel merasa kalau dirinya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Noah saat ini. Perasaan takut, malu dan khawatir tentang masa depan. Rasanya semua rasa benci hilang dalam sekejap.
Tak ingin membuat Noah semakin terbebani, Ariel pun mengucapkan kata-kata untuk menghiburnya Noah. "Yang sabar ya. Jadikan itu sebagai cambuk untuk lebih dekat lagi kepada Sang Pencipta. Percayalah, manusia bisa mengatakan A, namun jika Tuhan berkehendak lain, manusia bisa apa?"
__ADS_1
Kata-kata Ariel membuat Noah terhibur. Tanpa terasa matanya memanas dan si sombong Noah terus menahan air mata yang ingin turun. Ia tak mau menangis di depan wanita karena merasa dirinya akan terlihat sangat lemah. Ia pun tersenyum kecil. Noah mengingat saat-saat mereka bersama dulu, sebenarnya Ariel adalah teman yang asik, sayang Noah terlalu mencintai Luna sampai tak melihat sisi positif Ariel selain menjadikannya objek pemuas hasratnya semata.
"Terima kasih, Riel. Kamu mau 'kan maafin aku?" Noah kembali menatap Ariel dengan lekat.
Ariel memang sudah berubah, Dia terlihat lebih keibuan dan jauh lebih cantik dari Ariel yang ia kenal dulu. Mungkin karena aura bahagia yang diberikan oleh suaminya yang membuat Ariel menjadi terlihat semakin cantik seiring bertambahnya usia.
"Tentu. Tak ada gunanya juga aku menyimpan dendam sama kamu. Aku dan kamu, kita berdua sudah melakukan kesalahan di masa lalu. Wajar kalau kita mendapatkan balasan atas apa yang kita lakukan dulu. Bukan hanya kamu saja yang mendapatkan karma atas kesalahan kita, aku juga. Aku bersyukur masih bisa memiliki Galang, jika saat itu Luna telat membawaku ke rumah sakit, mungkin rahimku sudah tidak bisa diselamatkan dan selamanya aku tak akan bisa memiliki anak dari rahimku sendiri. Aku berharap kamu juga bisa memiliki anak sepertiku, cobalah ke dokter dan bertobat. Siapa tahu, Tuhan akan mengampuni semua kesalahan kamu. Terima kasih atas keberanian kamu hari ini. Aku bangga sama kamu. Aku pergi dulu ya, keluargaku menunggu!" Ariel tersenyum lalu menepuk bahu Noah pelan sebelum pergi meninggalkannya.
Rasanya satu beban berat yang selama ini terus menghimpit hati dan pikiran Ariel sudah tercabut sepenuhnya. Rasa marah, dendam dan sakit hati atas apa yang Noah perbuat di masa lalu meluap saat mendengar kata maaf darinya. Ariel berjalan dengan langkah ringan menuju meja di mana sudah ada Om Bobby dan Galang yang sedang menikmati makanan.
Ariel tersenyum lebar seraya duduk di samping Om Bobby dan memeluk lengannya lalu menyandarkan kepalanya di bahu kekar suaminya yang sibuk menyuapi Galang dengan penuh kasih. "Oh, Beb, aku sangat beruntung sekali memiliki kamu, Sayang. Terima kasih telah hadir di hidupku. Love you more more more more more!"
Om Bobby tersenyum mendengar ucapan penuh cinta dari Ariel. "Ada apa ini Mama Ariel tiba-tiba bilang love you love you love you? Pasti semakin merasa bersyukur ya sudah menjadi istrinya Papa Bobby?" goda Om Bobby.
"Iya dong. Siapa sih yang tidak bersyukur memiliki suami sebaik kamu, Sayang? Sekarang, suami yang baik ini harus nyuapin aku makan ya! Jangan cuma Galang saja yang diperhatiin, aku juga!" kata Ariel dengan manja.
"Boleh, Siapa takut? Sekarang Papa Robbie akan menyuapi Mama Ariel tapi nanti malam Mama Ariel yang akan membahagiakan Om Bobby. Jangan lupa siapkan goyangan mautnya ya!"
*****
__ADS_1