
Mata Ariel memanas mendengar ucapan yang begitu mengharukan dari Om Bobby. Bukan ucapan I love you seperti yang selama ini ia inginkan namun ucapan Om Bobby kali ini begitu tulus dari hati yang terdalam, ia ingin menunjukkan kalau dirinya memang benar-benar menyesal sudah tanpa sengaja telah menyakiti hati Ariel.
Tanpa sadar Ariel meneteskan air matanya. Air mata haru, air mata bahagia, air mata penuh rasa syukur karena pada akhirnya Ariel berhasil mengetuk pintu hati Om Bobby. Apa yang Om Bobby katakan adalah ucapan penyesalan karena selama ini menganggap dirinya seolah tenggelam dalam masa lalu. Ini adalah salah satu bentuk kejujuran yang selama ini Ariel ingin dengar.
"Tentu. Mulai sekarang aku akan bersikap egois. Aku akan menegurmu kalau kamu salah. Aku akan berkata dengan lantang kalau kamu adalah milikku. Aku akan mengatakan pada semua orang kalau kamu adalah lelaki yang sangat aku cintai. Meskipun aku tak pernah bisa bersanding dengan orang yang sudah tiada, namun aku bisa membuktikan sama kamu kalau aku bisa memberikan kebahagiaan yang lebih lagi. Maaf jika aku masih banyak kekurangan. Maaf jika aku belum bisa lebih baik dari almarhum istrimu. Namun satu yang pasti, antara aku dan mantan istrimu punya satu kesamaan yakni kami sama-sama mencintai kamu dari hati terdalam, Sayang!" kata Ariel sambil tersenyum di antara tetes air mata yang memaksa turun tanpa dikomando.
Om Bobby tersenyum dan ikut meneteskan air mata haru. Ia menarik Ariel dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Ternyata selama ini apa yang ia perbuat sudah sangat menyakiti wanita yang amat mencintainya. Ternyata selama ini ia terlalu terpaku dengan kenangan masa lalu sampai melupakan kalau ada wanita yang diam-diam sudah menempati ruang hatinya. Sulit untuk mengatakan I love you namun tak sulit bagi Om Bobby untuk membuktikan kalau dia mencintai Ariel dengan tulus.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mau bersabar menghadapi keegoisanku. Aku senang sekali bisa menjadi suamimu." Om Bobby mengecup bibir Ariel dengan penuh kasih. Ia hanya menciumnya sebentar lalu tersenyum. "Tidurlah dahulu. Isi tenagamu. Aku ada sedikit pekerjaan yang harus aku kerjakan. Setelah selesai, bersiaplah menerima hukuman dariku. Kamu akan kubuat meneriakkan namaku dengan suara seksimu itu beberapa kali!"
"Ish ... bisa saja kamu, Beb." Ariel tersenyum malu. Senang sekali hatinya kalau Om Bobby menggodanya seperti itu. "Kalau begitu, aku akan mengisi tenagaku agar aku bisa bersuara seksi saat menjadi pawang Joni."
Ariel berdiri namun tak langsung pergi. Ia membungkukkan tubuhnya lalu berbisik pelan. "Jangan lama-lama, aku punya gaya baru yang ingin aku praktekkan bersama Joni!"
"Gaya baru?" Om Bobby tersenyum penuh maksud.
"Iya. Yang membuat Joni seakan diobrak-abrik oleh goyanganku." Ariel tersenyum menggoda Om Bobby.
"Kalau begitu, ayo, sekarang saja. Aku akan melupakan semua pekerjaan sialan ini dan siap menerima gaya barumu. Yuk!" Om Bobby langsung membuka kancing bajunya yang paling atas. Ariel cepat-cepat menahan tangannya.
"Santai. Pawangnya Joni mau bobo dulu ya! Mau ngecharge energi dulu. Maklum, gaya baru, tenaga harus full. Selamat bekerja, Ayang Bebku. Jangan lama-lama ya, tak sabar mau digoyang bukan?" Ariel mengedipkan sebelah matanya yang masih agak bengkak sehabis menangis lalu melenggang dengan santai ke tempat tidur.
__ADS_1
"Wah ... kita digodain sama Mama Ariel nih, Jon. Setelah selesai dengan pekerjaan, kamu harus bekerja sama denganku ya, Jon. Kita buat Mama Ariel sampai serak dan kita gempur gawang pertahanannya. Kita kalahkan dia bersama, Jon!" Mendengar Om Bobby yang berbicara sendiri pada Joni, Ariel tertawa terbahak-bahak.
"See you, Joni!" ucap Ariel seraya menarik selimut lalu bersiap tidur.
****
Prisa menatap Ariel dan Om Bobby bergantian saat sarapan pagi bersama. Suara Prisa sampai serak membangunkan kedua orang di depannya. Mereka pasti habis bercumbu semalaman, terbukti dari mata mereka yang ada kantong mata berwarna gelap dan beberapa kali menguap.
Susah sekali membangunkan keduanya. Dalam hati Prisa mengutuk dua orang di depannya yang enak bersenang-senang sementara dirinya dilarang menonton film biru.
Prisa geleng-geleng kepala dengan pasangan yang semalam bertengkar hebat namun kini sudah baikkan kembali. Begitu mudahnya amarah berganti. Benar-benar mereka berdua dialiri arus listrik perpaduan antara gairah dan cinta. Inilah yang dinamakam kucin (kuli cinta). Amazing.
"Udah baikkan nih kayaknya?" Prisa mengambil satu sendok nasi goreng sosis dan memakannya dengan lahap. "Sampai lupa mau membuatkanku sarapan. Bukankah kemarin Kak Ariel berjanji mau membuatkanku sarapan?" sindir Prisa.
"Ish, jelas kalian kesiangan. Sampai serak suaraku memanggil kalian namun kalian tak kunjung bangun. Benar-benar ya kalian ini, rumah ini hanya dipakai untuk memadu kasih saja," sindir Prisa.
"Hey, anak kecil jangan bilang begitu!" tegur Om Bobby. "Kamu belum tahu urusan orang dewasa!"
Ariel menahan tawanya mendengar ucapan Om Bobby. Andai Om Bobby tahu kalau gaya yang semalam Ariel praktekkan didapat dari Prisa, entah apa yang akan Om Bobby lakukan. Mungkin akan mengamuk dan mengomeli Prisa habis-habisan namun ujung-ujungnya meminta stok film biru seperti yang Ariel lakukan kemarin.
"Ya ... habis kalian susah dibangunkan sih!" Prisa melirik Ariel yang menahan tawanya sampai wajahnya memerah. Sorot mata Prisa seolah mengancam Ariel agar jangan membocorkan rahasianya pada sang kakak.
__ADS_1
"Kami ... kelelahan. Banyak kerjaan. Ditambah lelah di perjalanan dari Jakarta. Wajar kalau tidak tahu kamu bangunkan. Udah deh jangan bawel. Kenapa juga sih kamu memaksa kami harus sarapan bareng?" protes Om Bobby.
"Memangnya tidak boleh aku ingin sarapan bersama Kakak dan Kak Ariel? Aku bosan sarapan sendiri terus!" keluh Prisa.
"Boleh kok. Tentu saja boleh. Prisa, nanti kamu main ke Jakarta ya. Kamu nginep di rumah kakakmu. Aku janji, akan masakkin kamu makanan yang lezat dengan tangan saktiku ini. Aku juga akan ajak kamu jalan-jalan, kamu mau kemana? Ragunan mau? Nanti kita bisa lihat gajah, macan dan banyak hewan lain. Aku temani. Mau ya?" bujuk Ariel.
Mendengar ucapan Ariel, Om Bobby dan Prisa kompak tertawa terbahak-bahak. "Loh, kok kalian tertawa sih? Memangnya aku aneh ya?" tanya Ariel.
"Iyalah kamu aneh," jawab Om Bobby sambil menghapus air matanya yang menetes karena tertawa terlalu kencang.
"Aneh kenapa?"
"Kak, aku udah besar," jawab Prisa cepat.
"Memang kenapa? Memang kalau sudah besar tidak boleh ke Ragunan?" jawab Ariel.
"Boleh saja, hanya cara Kak Ariel bicara tuh seakan aku tak pernah lihat gajah dan teman-temannya, Kak. Sumpah ya, Kak Ariel tuh lucu. Pantas Kak Robbie jadi sering tertawa. Kalau Kak Ariel mau mengajakku jalan-jalan, bagaimana kalau ke Mall dan belikan aku outfit kekinian? Aku suka ke Zarah, Uniqlou, Bershhka-"
"Enggak jadi!" potong Ariel. "Budget aku cuma Ragunan. Lebih dari itu, sama Kakak kamu saja!"
"Oh ... mulai pelit ya sama adik ipar?" Ariel dan Prisa masih saling berbalas kata ketika suara hak sepatu terdengar memasuki rumah. Mereka yang tertawa sambil saling meledek tak menyadari kedatangan seseorang yang tak diharapkan sama sekali.
__ADS_1
"Ramai sekali. Ada apa ini?"
*****