
"Kalau menurutku Kakak bukanlah bodoh. Kakak hanya sedang berada pada suatu keadaan dimana melakukan hal yang salah adalah sebuah jalan keluar terbaik. Ada begitu kata, andai aku begini, andai aku begitu, andai aku kaya, andai aku punya banyak uang, andai aku punya orang tua yang bisa menghidupiku, andai aku tidak melakukan hal itu yang sekarang Kakak sesali. Percayalah, itu hanya membuat Kakak menyesali masa lalu yang sudah terjadi. Cobalah Kakak sadari, tanpa masa lalu yang buruk, Kakak dan Kak Robbie mungkin tak akan pernah bisa bertemu seperti sekarang,"
"Kalian berdua bisa bertemu, semua karena takdir. Ibaratnya, Kakak harus menginjak lumpur terlebih dahulu baru bisa bertemu Kak Robbie yang nantinya akan membersihkan lumpur di kaki Kakak. Semua ini takdir, Kak. Meski menyakitkan namun ada hikmah di balik semuanya." Ucapan Prisa begitu dewasa, sangat tak sesuai dengan usianya. Ariel seperti sedang curhat pada orang yang umurnya sama dengan dirinya, bukan dengan anak remaja yang tak pernah takut berbicara ketus pada siapapun.
Ariel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya bengkak dan ia merasa letih sekali hari ini. Rasanya membuat keripik banyak tak sebanding lelahnya bila dibanding dengan menghadapi hinaan yang hanya berlangsung tak sampai setengah jam saja. Lelah batin, capek perasaan dan emosi yang panas serta meluap-luap.
"Entah apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Mungkin kamu benar, aku akan mengurung diri di rumah untuk sementara waktu, tapi mau sampai kapan? Sampai semua orang melupakan apa yang terjadi di bazar hari ini? Rasanya tak mungkin sekali. Aib seseorang itu kalau sudah dibuka, maka selamanya orang lain akan memandang kita sebagai orang yang menyandang aib dan membuat kita terlihat begitu kotor, mau berapa kali pun kita mandi dan membersihkan semua kesalahan di masa lalu, selamanya tak akan bisa membersihkan semuanya." Ariel menyandarkan kepalanya di sofa empuk yang tak lagi terlihat nyaman. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Banyak sekali yang ada pikirkan Ariel saat ini. Bagaimana perlakuan tetangganya sekarang terhadap mereka? Bagaimana caranya memberitahu pada Om Bobby apa yang sudah terjadi? Bagaimana membersihkan namanya? Bagaimana agar Om Bobby tidak ikut terseret dengan masalahnya? Bagaimana dengan Galang, apakah anak itu akan sama nasibnya seperti Ariel yang harus terus berada di dalam rumah padahal anak itu sangat menyukai jalan-jalan di taman? Bagaimana hidup di antara tetangga yang sudah memandang rendah diri kita?
Ariel merasa tak sanggup menghadapi semua ini sendirian. Prisa masih terlalu kecil namun sudah banyak membelanya hari ini. Om Bobby adalah laki-laki yang berhati mulia, rasanya tak pantas jika Om Bobby terus mendapatkan hinaan karena sudah menikahi wanita sepertinya. Siapa yang bisa membelanya? Tak ada! Orang tuanya pun tak mungkin membela, mereka di kampung sibuk mengurusi sawah dan kebun untuk biaya hidup mereka sehari-hari.
Ariel harus mengandalkan dirinya sendiri. Mungkin beberapa hari ini ia akan tetap berada di dalam rumah, selanjutnya ia akan belajar untuk berani keluar rumah dan menghadapi mereka semua. "Terima kasih ya, Prisa. Aku sudah lebih tenang sekarang. Apa yang Tante Dena katakan memang benar. Kamu jangan terlalu lama berada di dekatku. Aku enggak mau nama baik kamu jadi jelek karena kamu membantuku. Cukup aku saja yang mengalami nasib buruk ini. Aku bisa sendiri."
"Tapi, Kak-"
Ariel berdiri lalu mengusap rambut Prisa sambil memaksakan senyum di wajahnya. "Aku tidak apa-apa. Wanita sepertiku seharusnya sudah terbiasa menerima hinaan karena masa laluku yang hina. Tak apa, tenanglah. Istirahatlah, sudah malam. Kakak juga mau istirahat." Ariel lalu meninggalkan Prisa dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Galang nampak sudah tertidur pulas. Anak itu kelelahan dan langsung tertidur pulas saat dibawa pulang oleh asisten rumah tangga Ariel. Setelah membersihkan tubuhnya, Ariel lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di samping Galang. Ia memeluk anak semata wayangnya dengan perasaan yang sedih.
Ariel memikirkan bagaimana nasibnya kelak. Tentu saja ia juga memikirkan bagaimana nasib Galang ke depannya. Baru saja mereka mau memulai hidup yang baru, hidup yang bahagia dan bersih, sudah ada cobaan berat yang harus mereka hadapi. Air mata Ariel kembali menetes, sekuat mungkin ia menahan suaranya agar tidak membangunkan Galang yang tertidur pulas.
"Bahkan aku pun tak bisa bebas menangis. Apa yang bisa aku lakukan dalam hidup ini? Apakah wanita hina sepertiku tak bisa memiliki kesempatan untuk berubah? Apakah aku tak berhak bahagia?" batin Ariel.
Terlalu lelah dengan semua masalah dan pekerjaan hari ini membuat Ariel tertidur pulas. Ariel tak tahu kalau om Bobby sudah pulang ke rumah. Om Bobby melihat rumahnya dalam keadaan gelap, artinya semua penghuni rumah sudah tertidur pulas. "Tumben, sudah pada tidur? Apa mereka belum pulang ya? Tapi kok tadi di tempat bazar sudah tidak ada tenda milik Ariel?" Om Bobby membuka pintu kamarnya, tentu saja tidak ada Ariel di sana. Dia pun memutuskan untuk membuka pintu kamar Galang. Benar saja, Ariel tertidur pulas sambil memeluk Galang dengan erat. Om Bobby ingin membangunkan Ariel, namun tak tega melihat Ariel yang begitu kelelahan. Ia pun menutup rapat kembali pintu kamar dan membiarkan Ariel istirahat malam ini.
Baru saja melangkah, Prisa datang menghadang sang Kakak. "Kak, aku mau bicara!"
Keesokan paginya Ariel sudah melaksanakan kegiatannya seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan, baju ganti untuk Om Bobby dan juga memandikan Galang. Ariel menutupi kesedihannya dengan senyum di wajah. Prisa yang tahu apa yang sudah terjadi memilih untuk diam dan tidak banyak komentar. Ia sudah melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Ariel. Selanjutnya biar Ariel yang harus menghadapinya sendiri.
Rencananya Prisa akan pulang hari ini. Prisa merasa bersalah atas apa yang menimpa Ariel, secara tidak langsung semua karena dirinya. Kalau saja dirinya tidak mengirimkan foto Ariel dan sang kakak yang sedang berbahagia, mungkin Mamanya tak akan marah dan menyuruh Tante Dina untuk datang.
Prisa menatap Ariel dengan tatapan sedih. Entah mengapa ia seperti bisa merasakan kesedihan mendalam yang Ariel rasakan saat ini. Senyum di wajah Ariel adalah suatu tipuan untuk menutupi luka hati yang sebenarnya.
"Kak, aku mau pulang ya!" kata Prisa pada semuanya.
__ADS_1
Ariel tak berkata apa-apa, sejujurnya ia setuju Prisa pulang cepat. Ariel tak mau Prisa dihina oleh para tetangga karena membela dirinya. Sudah cukup masalah yang terjadi kemarin, Ariel tak mau masalahnya semakin melebar ke mana-mana.
"Sekarang? Yaudah, Kakak juga ada syuting di Bandung. Biar Kakak antar saja!" Om Bobby memang jadwalnya sedang padat, kemarin ke Tangerang, sekarang ke Bandung. Om Bobby rencananya akan meeting dengan pengusaha sayuran segar online bernama Ibu Wulandari.
"Wah, Kebetulan sekali ya. Kamu jadi bisa bareng sama Kakakmu. Hati-hati di jalan ya, Sayang! Antar Prisa sampai rumah," kata Ariel sambil tersenyum.
Meihat Ariel tersenyum, hati Prisa kembali sakit. Ia tahu senyum Ariel tuh begitu pura-pura. Sayangnya sang Kakak seolah tidak peka, mungkin karena Om Bobby sedang sibuk menyuapi Galang sampai tidak memperhatikan kalau mata Ariel bengkak habis menangis semalaman.
"Kamu mau ikut juga, Sayang? Maksud aku, kamu enggak perlu ke rumah Mama, kita jalan-jalan saja di Bandung, mau?" tawar Om Bobby.
"Tak perlu, Beb. Aku di rumah saja. Aku tak mau mengganggumu bekerja."
"Oke. Hati-hati di rumah ya. Aku cuma sebentar kok," kata Om Bobby.
Prisa menatap Kakaknya dengan tatapan tajam. "Kok Kak Robbie begitu sih? Bujuk dong! Dasar laki-laki tidak peka!"
****
__ADS_1