Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Nyonya Besar


__ADS_3

Seorang wanita cantik dengan kulit kuning langsat dan berwajah manis meski di usianya yang tak lagi muda, terlihat turun dari taksi silver yang ditumpanginya. Perempuan tersebut mendorong koper yang harganya puluhan juta tersebut dengan begitu anggun. Ia berjalan menuju pintu gerbang rumahnya yang besar dan megah.


Melihat kedatangan sang pemilik rumah, security yang bertugas dengan sigap membukakan pintu seraya menunduk hormat pada majikan yang selama ini telah menggajinya tersebut. "Terima kasih. Tolong bawakan koper saya," perintah wanita cantik tersebut. Gaya bicaranya tegas tanpa basa basi, membuat siapapun menaruh hormat padanya.


"Baik, Nyonya!" jawab security dengan penuh hormat. Security tersebut lalu menghubungi pelayan di dalam rumah dan meminta untuk bersiap menyambut kedatangan Nyonya rumah mereka.


Wanita yang merupakan pemilik rumah tersebut berjalan dengan sangat anggun seraya mengangkat kepalanya dan masuk ke dalam rumah. Rasanya, angin pun tak berani menerbangkan rambutnya karena terlalu segan. Bak seorang nyonya besar, sudah ada pelayan yang langsung membukakan pintu sebelum wanita anggun itu memegang gagang pintunya. Kedatangannya benar-benar disambut oleh para karyawannya namun tidak dengan anak-anaknya yang sedang asyik mengobrol sambil tertawa di ruang makan, tak menyadari kedatangannya karena terlalu seru dengan percakapan yang terjadi.


Ada hal yang berbeda yang didengar oleh wanita anggun tersebut. Kebiasaan mereka adalah makan tanpa bersuara. Kali ini, justru anak-anaknya makan sambil tertawa dan mengobrol. Suara tawa mereka terdengar sampai ke ruang tamu. Langkah wanita tersebut berhenti bersama rasa penasaran yang begitu besar. "Ada siapa?" tanya wanita anggun tersebut pada pelayan yang dengan setia berjalan di belakangnya sambil sedikit membungkukkan badannya sebagai wujud rasa hormat.


"Ada Non Prisa dan Tuan Robbie." Pelayan tersebut tak tahu siapa wanita yang dibawa oleh tuannya karena itu dia tidak berani menyebutkan siapa wanita tersebut. Ia berpikir kalau wanita itu hanyalah teman tidur semata bukan istrinya.


"Robbie? Kapan dia datang?" Kening wanita anggun itu mengernyit.


"Kemarin malam, Nyonya," jawab pelayan tersebut dengan jujur.


"Tumben sekali Robbir datang," gumam wanita tersebut yang kembali melanjutkan langkahnya.


Wanita itu kembali mengernyitkan keningnya melihat ada perempuan lain di ruang makan mereka yang ikut tertawa dengan akrab dan lepas bersama anak-anaknya. Rasa penasaran yang memuncak membuat wanita anggun tersebut langsung bersuara agar keberadaannya segera diketahui.


"Ramai sekali. Ada apa ini?"

__ADS_1


Suara derai tawa dan kata-kata saling meledek yang semula terdengar kencang memenuhi ruang makan kini langsung berubah sunyi. Kompak semuanya terdiam dan langsung menatap ke arah wanita anggun tersebut. Mereka terkejut. Mereka tidak menyangka kalau sang pemilik rumah akan pulang secara mendadak.


"Mama?" Robbie dan Prisa akhirnya bersuara.


Wanita anggun itu tak melihat ke arah anaknya. Ia malah melihat sosok wanita yang duduk di samping Robbie, anaknya. Tentu saja ia tidak mengenal wanita tersebut. Rasa penasarannya dan ingin tahunya semakin memuncak. Ia berjalan mendekat untuk mencari tahu siapakah tamu yang datang ke rumahnya kali ini. Apakah hanya teman tidur atau wanita spesial di hati anak lelakinya?


"Hai, Ma! Kapan sampai?" Robbie si anak sulung yang terlihat sangat tampan dan gagah berdiri lalu berjalan mendekat dan langsung cipika-cipiki kepada wanita anggun tersebut. Mereka saling berpelukan dan melepas rindu. Robbie jarang sekali pulang ke Bandung. Anaknya tersebut lebih suka menghabiskan waktunya di Jakarta dan menyimpan semua kesedihannya dengan bekerja keras dan bersenang-senang.


Wanita anggun tersebut melirik anak remajanya yang terlihat acuh dan malah memilih untuk menghabiskan makanannya dibanding menyambut kedatangannya. Anak remaja itu memang agak keras wataknya. Semakin dipaksa, ia akan semakin melawan, mirip sekali dengannya.


"Baru saja sampai. Kamu kapan datang? Sama siapa?" Wanita anggun itu secara terang-terangan menatap ke arah Ariel yang kini menundukkan wajahnya.


"Semalam. Oh iya, aku belum mengenalkan sama Mama." Om Bobby memanggil Ariel dan memintanya mendekat. "Kenalkan, Ma. Ariel."


"Apakah dia salah satu wanita murahan yang dibayar anakku?" batin wanita anggun tersebut seraya menatap Ariel dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Ariel memakai baju setelan tidur. Belum mandi dan mengikat rambutnya dengan asal. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan kalau dia kurang tidur. Wajahnya tak lebih cantik dari Lisa, mantan istri Robbie. Rasa penasarannya semakin besar, tak lebih baik dari Lisa namun anaknya bahkan sampai membawanya pulang ke rumah. Seberapa spesialnya wanita di depannya?


"Riel, ini Mama Tita, Mamaku dan Prisa." Om Bobby yang memperkenalkan Mamanya pada Ariel karena sang Mama hanya diam seraya menatap istrinya bak melihat alien.


"Mama sudah sarapan belum? Ayo kita sarapan bareng!" Om Bobby merangkul Mamanya dan mengajaknya ke meja makan. Mama Tita duduk di kursi kebangsaannya tanpa banyak kata. Ariel dan Om Bobby juga kembali ke kursi mereka masing-masing.

__ADS_1


"Kenapa kamu tak menyambut kedatangan Mama?" tanya Mama Tita pada Prisa yang terlihat acuh dan menikmati sarapannya.


"Aku lagi makan. Lapar. Mama mau sarapan apa?" tanya balik Prisa dengan santainya.


Mama Tita hendak marah namun langsung menahan dirinya. Ia tak bisa marah pada pemilik tunggal seluruh kekayaan ini. Ya, Prisa adalah ahli waris seluruh harta kekayaan Papanya setelah meninggal.


Setelah bercerai dari suami pertamanya -Papanya Robbie- Mama Tita bertemu Papanya Prisa. Mereka menikah sampai Papanya Prisa yang kaya raya tersebut meninggal dunia dan mewariskannya pada Prisa. Dengan uang dari Papanya Prisa, Mama Tita bisa hidup senang dan menyuntikkan dana yang besar ke perusahaan Robbie.


"Apa saja," jawab Mama Tita yang kini kembali menatap Ariel yang terlihat tak lagi berselera makan. Hanya suapan kecil yang dikunyah pelan seakan sadar kalau nyonya rumah akan mengintimidasinya dengan segera.


"Pacar baru kamu atau teman tidur?" Mama Tita menunjuk Ariel dengan menggerakkan alisnya.


"Ma, jangan gitu dong bicaranya," tegur Om Bobby. "Ariel lebih dari itu."


"Lebih dari siapa? Jauh dibanding Lisa! Tak ada anggun-anggunnya! Kamu tak salah mencari teman tidur? Ketemu dimana? Club malam?" cecar Mama Tita.


"Ma!" tegur Om Bobby yang mulai terbakar emosi. Mamanya memang kalau bicara sering menyakiti hati orang lain.


"Memangnya apa yang Mama katakan salah?" Mama Tita memakan sarapannya dengan santai. Mirip sekali dengan Prisa yang tak peduli pada kedatangan Mamanya tadi.


"Salah. Sangat salah. Mama sudah membandingkan Ariel dengan Lisa. Mereka berbeda. Ariel ya Ariel. Lisa ya Lisa. Mereka punya keistimewaannya sendiri, meskipun keduanya sama-sama berstatus istriku," jawab Om Bobby dengan kesal.

__ADS_1


Mama Tita langsung tersedak mendengar kata istriku. "Uhuk! Uhuk! Apa? Istrimu?"


****


__ADS_2