
Ariel sedang mengayun ayunan Galang yang minta di ayun agak kencang. Mereka tertawa tanpa menyadari kalau orang- orang yang berhati jelek sedang berjalan ke arah mereka.
"Eh, perempuan murahan, ngapain kamu berkeliaran di taman?" tanya salah seorang ibu-ibu penghuni komplek pada Ariel.
Ariel terkejut karena tiba-tiba saja dirinya dikepung oleh rombongan ibu-ibu. Ia melepaskan pegangannya pada ayunan Galang dan tak lagi mendorongnya. Ariel menatap satu persatu ibu-ibu yang melihatnya dengan tatapan marah.
"Maaf, Bu, saya sedang menemani putra saya bermain. Tidak salah bukan?" tanya balik Ariel dengan tenang.
"Apa? Kamu merasa tidak salah? Jelas salah dong. Wanita kayak kamu tuh enggak boleh berkeliaran apalagi di komplek mahal seperti kami. Jujur aja deh, kamu lagi nyari target bukan? Kenapa, Pak Robbie yang selama ini memelihara kamu, mau menendang kamu keluar dari rumah? Kamu lagi nyari backup? Jangan harap deh!" cibir salah seorang ibu-ibu pada Ariel.
"Maksud Ibu apa ya? Maaf Bu, saya cuma sedang menemani anak saya bermain, bukan mencari backup seperti yang Ibu katakan. Ibu lihat 'kan, saya berdua dengan anak saya. Kalau memang saya berniat jahat dan ingin menggoda laki-laki lain di komplek ini, saya akan memakai pakaian seksi untuk menarik perhatian mereka. Buktinya saya pakai pakaian yang sopan bukan? Dan ibu lihat sendiri saya bersama anak saya. Tak mungkin saya melakukan perbuatan tercela di depan anak saya. Saya juga seorang ibu, saya enggak akan berbuat hal yang hina di depan anak saya sendiri!" balas Ariel dengan tenang namun kata-katanya terdengar tegas dan tajam.
"Mana ada sih maling yang mau mengaku?" Ibu-ibu yang lain mengiyakan saja ucapan pedas dari ibu-ibu yang seenaknya menuduh Ariel.
"Oh maaf, Bu, saya bukan maling. Untuk apa saya mengaku? Masalah yang terjadi di masa lalu, itu urusan saya. Semua sudah berakhir. Sekarang saya sudah menikah. Sudah punya keluarga. Tolong hargai saya. Satu lagi, jangan mengatakan hal yang belum ibu-ibu ketahui dengan benar dan menuduh saya, apalagi di depan anak saya. Meskipun masih kecil, namun anak saya punya perasaan, dia tahu kalau Mamanya sedang disakiti orang lain. Permisi!" Ariel menghentikan ayunan Galang dan menggendongnya.
__ADS_1
Galang tentu saja protes. Ia masih mau bermain namun sikap tegas Ariel tak bisa Galang bantah. "Kita main di rumah saja ya. Lebih nyaman. Mama yang akan temani Galang bermain. Bagaimana kalau kita membuat rumah dari kardus bekas? Kita buat rumah yang nyaman dan bisa untuk mainan robot-robotan Galang tinggal di dalamnya. Bagaimana? Lebih seru bukan daripada main ayunan? Kita pulang aja ya!"
Bukan Ariel namanya kalau tidak bisa membujuk Galang. Mendengar bujuk rayu Ariel, Galang pun tergoda. Ia tahu kalau sang Mama sudah berjanji, pasti akan ditepati. Ariel pun mengacuhkan ibu-ibu yang membicarakannya seperti mendengar suara lebah yang berdengung di belakangnya. Ariel berjalan terus sambil bernyanyi agar Galang tidak mendengar suara-suara sumbang tentang dirinya.
Sesampainya di dalam rumah, sambil menahan air mata dan emosi Ariel menunaikan janjinya pada Galang. Ia membuatkan rumah-rumahan dari kardus bekas seraya mengajak Galang bermain. Ia tidak mau Galang melihatnya sedih. Ariel hanya ingin menunjukkan pada Galang sosok seorang ibu yang tegar dan kuat sehingga bisa melindungi Galang dari siapapun yang mencoba untuk menyakitinya.
Ternyata cobaan Ariel tidak begitu saja hilang. Sikap Ariel yang cuek membuat ibu-ibu yang berada di taman tadi tidak terima dengan perlawanan yang Ariel berikan. Mereka yang sudah termakan dengan ucapan Tante Dena semakin emosi dan menganggap kalau Ariel adalah wanita hina yang tak pantas berada di komplek mereka yang terhormat ini.
"Ibu-ibu dengar sendiri bukan, wanita murahan itu malah balik ngomelin kita loh! Siapa dia? Dia tidak berhak mengomeli kita, baru jadi wanita simpanan saja sudah belagu!" kata salah seorang ibu-ibu mulai mengompori ibu-ibu yang lainnya.
"Iya, saya paling tidak setuju dia tinggal di komplek ini. Bapak mertua saya yang mendengar kejadian di bazar malam kemarin malah menanyakan tentang wanita murahan itu. Bapak mertua saya yang tua itu saja tergoda, apalagi suami kita yang masih pada muda? Enggak deh, amit-amit, wanita kayak gitu tuh jangan dibiarin terlalu lama tinggal di komplek ini. Dia sedang mencari mangsa, benar kata wanita yang waktu itu marah-marah di bazar, Ariel itu bukan wanita yang benar, dia punya niat jahat!" tambah ibu-ibu yang lain.
"Lalu kita harus apa? Kita enggak bisa berbuat apa-apa. Kalau minta tolong sama suami kita, kayaknya mereka ada di pihak wanita murahan itu," kata ibu-ibu yang pertama kali mengompori ibu-ibu yang lain.
"Ya ... kalau kita enggak bisa berbuat apa-apa, kita suruh saja pihak yang berwenang untuk turun tangan langsung. Pak RT dan Pak RW, contohnya. Kalau masih kurang kuat wewenangnya, saya akan hubungi Pak Lurah, kebetulan Pak Lurah masih saudara sama saya, pasti mau membantu. Pokoknya kita harus usir wanita itu dari Komplek ini secepatnya!"
__ADS_1
"Saya setuju. Kalian dengar sendiri bukan, katanya dia itu simpanannya Pak Robbie, simpanan, ya ... tidak jauh beda dengan kumpul kebo. Kalian tahu 'kan kalau ada pasangan yang melakukan kumpul kebo, maka mereka akan bawa sial bagi tetangga 40 rumah di kiri, kanan, depan dan belakangnya. Pantas, bisnis suami saya jadi seret, rumah saya tuh enggak jauh dari rumah mereka. Kena sial saya gara-gara perbuatan mereka yang suka berzina!"
"Iya juga ya. Saya juga apes nih, uang saya hilang terus. Jangan-jangan juga kena sial gara-gara mereka?"
"Bisa jadi, Bu. Memang kalau ada orang yang berzina bikin semua apes. Ya udah, kita langsung ke rumah Pak RT dan Pak RW malam ini juga, kita usir wanita itu dari komplek ini, sebelum dia mulai melakukan tipu muslihat untuk menggoda suami-suami kita. Kita yang harus turun tangan sendiri mengamankan dan melindungi keluarga kita dari wanita murahan itu ibu-ibu, setuju?"
"Setuju!"
Bak massa yang ingin berdemo, para ibu-ibu itu pun langsung pergi ke rumah Pak RT. Mereka menyampaikan keluhan mereka tentang keberadaan Ariel yang dianggap sebagai wanita murahan di komplek perumahan mereka. Apa yang terjadi saat bazar pun diceritakan kembali oleh mereka dengan ditambahi bumbu cerita sendiri. Latar belakang Ariel yang mantan simpanan sampai membuat rumah tangga orang lain hancur pun tak luput dari gunjingan mereka. Semuanya menjelek-jelekan Ariel sampai akhirnya Pak RT pun terpaksa mengikuti kemauan mereka demi alasan ketentraman bersama.
Setelah dari rumah Pak RT, mereka pun melapor pada RW. Dari yang semula hanya 5 orang ibu-ibu kini menjadi banyak orang yang setuju untuk mengusir Ariel dari komplek perumahan mereka, termasuk beberapa bapak-bapak pun ikutan.
"Ibu-ibu dan bapak-bapak tenang ya, malam ini setelah jam 07.00 malam kita berkumpul di depan rumah Bapak Robbie untuk melakukan tindakan tegas yakni pengusiran terhadap Ibu Ariel. Siapkan diri semuanya, ingat, jangan ada yang emosi. Bagaimanapun kita harus menyelesaikan masalah ini dengan jalan musyawarah. Tujuan kita adalah menghindari adanya tindakan perzinahan di komplek kita. Sekarang bubar saja dahulu, kita berkumpul lagi nanti malam!" perintah Pak RW dengan tegas.
"SIap, Pak!"
__ADS_1
*****