Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Kekesalan Om Bobby


__ADS_3

Ariel tak mungkin melarang Wawan untuk mendekati Galang. Bagaimanapun Galang adalah anak kandung Wawan. Wawan berhak untuk dekat dengan Galang.


"Galang! Hi! Masih ingat Papa?" Wawan tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Galang.


Senyum di wajah Galang menghilang kala melihat Papanya. Rupanya anak itu masih menyimpan memori buruk tentang bagaimana Wawan memperlakukannya dulu. Galang langsung memeluk Om Bobby dan bersembunyi di dada kekar lelaki yang kini memiliki kedekatan emosional dengannya.


Wawan berjalan mendekat dan berusaha membujuk Galang dengan nada suara yang bersahabat. Senyum di wajahnya selalu tersungging agar Galang yakin kalau dirinya tidak menyeramkan seperti dahulu. "Galang apa kabar?"


Galang mengacuhkan Wawan. Tak kehabisan akal, Wawan melirik mainan yang dipegang Galang. "Wah, mainannya bagus ya? Namanya siapa mainan yang Galang beli?"


Galang berhasil terpancing. Ia melihat mainan miliknya dan menjawab pertanyaan Wawan. "Sapidelmen," jawab Galang dengan ucapan yang belum benar.


"Oh ... Spiderman. Bisa terbang tidak?" tanya Wawan lagi.


"Tidak bica," jawab Galang.


"Wah, sayang ya. Galang mau membuat Spidermannya terbang tidak?" bujuk Wawan.


"Mau!" Mata Galang terlihat berbinar dan bersemangat mendengar bujukan Wawan.


"Boleh. Papa akan buat Galang terbang bersama Spiderman. Ayo, Galang pegang Spidermannya!" Galang menuruti perkataan Wawan. Ia meminta turun dari Om Bobby yang seakan enggan melepas Galang. Ariel memberi kode pada Om Bobby agar membiarkan Wawan mendekati Galang.


Wawan mengangkat Galang dan membuatnya terbang seperti pesawat terbang. Galang kembali tertawa, anak itu bahkan melupakan rasa takutnya pada Wawan dengan cepat.


Ariel melipat kedua tangannya di dada. Ia tersenyum melihat Galang yang tidak takut lagi saat berdekatan dengan Wawan. Berbeda dengan Ariel, Om Bobby malah menatap kedekatan Galang dan Wawan dengan tatapan tak suka.


"Kenapa sih kamu membiarkan dia mendekati Galang lagi? Kalau Galang sampai ketakutan seperti sebelumnya bagaimana?" gerutu Om Bobby.


Ariel menoleh ke arah Om Bobby yang memanyunkan bibirnya sambil menatap Galang dan Wawan dengan lekat. Ariel tersenyum melihat sikap posesif Om Bobby yang bak anak kecil, tak mau Galang dekat dengan yang lain selain dirinya.

__ADS_1


"Mas Wawan itu Papa kandungnya Galang, Om. Biarkan saja ia mendekati dan mengambil hatinya," bujuk Ariel.


"Huh, mengaku Papa kandung tapi tega menelantarkan anak sendiri," gerutu Om Bobby pelan.


Kalau sudah seperti ini, Om Bobby terlihat begitu menggemaskan di mata Ariel. Ariel bisa melihat betapa sayangnya Om Bobby pada Galang sampai tak mau ada yang dekat dengannya selain Om Bobby seorang.


"Om cemburu? Gemas deh aku melihatnya," ledek Ariel.


"Galang itu sudah seperti anakku. Awas saja kalau dia sampai membuat Galang ketakutan lagi!"


Percakapan Ariel dan Om Bobby terhenti kala Wawan yang sudah selesai bermain dengan Galang datang mendekat. Wawan terlihat berkeringat sehabis mengangkat Galang sambil mengajaknya berputar-putar. Galang tak lagi takut dan terus tertawa bahagia.


"Cium Papa dulu dong!" Wawan menunjuk pipinya, dengan sukarela Galang mengecup pipi Wawan. "Pintar. Galang mau mainan yang bisa terbang tidak?"


"Mau," jawab Galang dengan cepat.


"Oke. Nanti Papa belikan ya!" Mendengar janji Wawan, Galang berseru kegirangan.


Ariel melihat Wawan sudah kembali menjadi Wawan yang dikenalnya dulu. Wawan yang hangat dan tak bau alkohol lagi. "Aku tinggal di rumah ... Om Bobby." Ariel melirik suaminya yang berwajah masam.


"Oh, kalau mengganggu, kita bisa bertemu di luar. Aku akan jemput dan kita bisa jalan-jalan bertiga dengan Galang," kata Wawan yang mengacuhkan keberadaan Om Bobby.


"Kalau mau beri mainan, kirim lewat paket juga bisa, bukan?" sindir Om Bobby.


"Bisa saja kirim lewat paket namun saya memang mau menghabiskan waktu dengan anak kandung saya. Tak masalah bukan?" balas Wawan tak mau kalah.


Sebelum Om Bobby membalas Wawan dan menimbulkan keributan, Ariel dengan cepat menjawab pertanyaan Wawan. "Nanti kabari saja ya, Mas, lewat pesan."


"Oke. Aku balik kerja dulu." Wawan lalu pamit pada Galang yang tak lagi takut padanya.

__ADS_1


Ariel menyuruh Galang melambaikan tangannya saat Wawan pergi. Wajah Om Bobby makin seperti diselimuti awan hitam saja. Suram.


"Kamu mau kirim-kiriman pesan gitu sama dia?" tanya Om Bobby saat Wawan sudah tak terlihat lagi.


"Ya ... mau bagaimana lagi, Om. Wawan itu-" Belum selesai Ariel bicara, Om Bobby sudah memotong ucapannya.


"Aku tahu. Dia Papa kandungnya Galang, tapi bukan berarti dia bisa sering ketemu kamu dan Galang dong. Pakai alasan mau kasih mainan segala lagi. Huh, sok baik. Biasanya juga tak mau peduli sama Galang," kata Om Bobby dengan kesal.


"Ayo, Galang sama Om Saja!" Om Bobby mengambil Galang dalam gendongan Ariel dan berjalan mendahului Ariel. Ia terlihat kesal sekali. Om Bobby sendiri tak tahu kenapa hatinya bisa semarah ini. Om Bobby sadar kalau Wawan adalah Papa kandung Galang, wajar kalau Wawan ingin dekat dengan anaknya. Namun ada rasa tak rela dalam diri Om Bobby saat seseorang yang sudah dianggap miliknya ternyata ada yang memiliki sebelumnya. Bahkan lebih berhak darinya.


Suasana hati Om Bobby pun berubah keruh tak lagi ceria seperti sebelumnya. Om Bobby tetap menunaikan janjinya membelikan baju tidur seksi untuk Ariel namun ia sendiri yang memilihkan lalu mengajak Ariel dan Galang pulang.


Di perjalanan pun Om Bobby terus bad mood. Ada yang menyalip kendaraannya, langsung ia mengumpat kesal. Beruntung Galang tidur di car seat belakang jadi tak mendengar ucapan kasar Om Bobby saat mengumpat.


Ariel tak berani berkata apa-apa. Ia takut Om Bobby akan semakin marah. Sesampainya di rumah, Galang kembali dikuasai oleh Om Bobby. Om Bobby mengajaknya bermain sampai Galang kelelahan dan tidur cepat malam ini.


"Om, aku tidur di kamar Om malam ini atau di kamar Galang?" tanya Ariel.


"Terserah!" Om Bobby masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya untuk meredam kemarahan yang sejak tadi ia rasakan.


Di bawah air shower, Om Bobby memejamkan matanya, berharap air yang dingin bisa mendinginkan kepalanya. "Kenapa aku marah? Apa yang membuatku marah? Ariel yang baik pada Wawan atau Galang yang mudah menerima Wawan lagi?" batin Om Bobby.


"Om?" Suara Ariel terdengar memanggil Om Bobby di depan kamar seraya mengetuk pintu.


Om Bobby tersenyum jahil, sebuah ide cemerlang melintas dalam pikirannya. Om Bobby mematikan shower dan bersembunyi di belakang pintu kamar mandi.


"Om?" Ariel kembali memanggilnya karena Om Bobby tak juga menyahut. Ariel membuka pintu kamar dan mencari keberadaan Om Bobby.


"Om?" Ariel tak menemukan Om Bobby dimanapun. Ia pun memutuskan memeriksa di kamar mandi. Ariel membuka pintu kamar mandi dan tak menemukan suaminya. Saat Ariel hendak menutup pintu, tangan Om Bobby menariknya ke dalam.

__ADS_1


"Ayo, mau kemana? Jangan harap bisa pergi. Tuh lihat, dengar suara kamu saja Joni sudah bereaksi! Ayo, tanggung jawab!"


****


__ADS_2