Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Kemeja Om Bobby


__ADS_3

"Lalu bagaimana caranya aku keluar dari ruangan kamu dengan baju yang robek seperti ini?" tanya Ariel sambil menatap tajam suaminya yang tersenyum dan tak merasa bersalah.


"Ya ... pakai kemejaku, mau?" tawar Om Bobby Ariel.


"Kemeja kamu? Ya ampun Beb, pasti karyawan kamu akan mencurigai aku. Aku tadi datang mencari ribut dengan memakai blus tapi aku pulang dengan kemeja kamu. Kita akan jadi bahan omongan satu kantor nanti." Protes Ariel.


Om Bobby mengangkat kedua bahunya. "Biarkan saja. Aku tidak peduli mereka mau menggosip apa tentang aku," jawab Om Bobby dengan entengnya.


"Kalau mereka berpikir aku ini wanita murahan, bagaimana? Memang sih, sebelumnya aku memang wanita murahan, tapi sekarang 'kan sudah tidak. Aku tidak mau mereka berpikir yang tidak tidak tentang aku."


"Memangnya siapa yang berani berpikir seperti itu? Biar aku ulek pikirannya yang sempit itu! Sudah, kamu pakai kemeja aku saja. Aku banyak kemeja ganti bersih kok di ruangan ini." Om Bobby pergi mengambil sebuah kemeja ganti yang masih bersih miliknya dan memberikan pada Ariel. Tentu saja kemeja tersebut kebesaran di tubuh Ariel yang kecil.


"Ternyata tubuh kamu besar juga ya, Beb!" protes Ariel seraya mengikat bagian bawah kemeja agar terlihat lebih modis saat ia kenakan.


"Memangnya, kamu enggak pernah merasa kalau aku ini memang besar badannya? Atau, kamu terlalu menikmati setiap permainanku sampai tak sadar kalau lelaki yang berada di depan kamu ini tubuhnya besar, berotot dan sangat seksi." Tak hanya menggoda Ariel, Om Bobby memajukan dirinya dan kembali mengecup pipi Ariel.


"Mungkin kamu benar, di saat Joni sedang beraksi terkadang untuk bernafas saja aku suka lupa. Apa yang Joni lakukan benar-benar membuat pikiranku tidak konsentrasi. Aku hanya merasakan rasa enak, ketagihan dan tidak mau berhenti. Menurut kamu kalau seseorang sedang dalam posisi seperti itu apakah dia bisa mengingat lawan mainnya itu besar atau tidak? Aku sih tidak merasa berat saat kamu berada di atasku, tapi saat memakai kemeja kamu ini, aku baru sadar ternyata kamu besar," ledek Ariel yang juga tersenyum jahil.


"Mulai deh nakal. Nanti Joni hukum! Ayo, kita pergi sekarang!" Om Bobby merangkul Ariel dan mengajaknya pergi. Ariel mengambil tas miliknya dan menunggu Om Bobby menelepon Bayu untuk membereskan ruangannya.


Tak mau ada gosip tentang mereka, Ariel memilih berjalan di depan Om Bobby. Benar saja, setiap yang berpapasan dengannya pasti menatap dengan tatapan ingin tahu. Ulah Ariel yang mengajak ribut Sinta tentu menjadi pusat perhatian dan pembicaraan. Kini, Ariel berjalan dengan kemeja besar, yang pasti bukan miliknya.


Langkah Ariel terhenti kala berpapasan dengan Bayu. Bayu mengangguk hormat padanya dan pergi ke ruangan Om Bobby untuk membereskan kekacauan yang terjadi.

__ADS_1


Tak disangka, Ariel berpapasan dengan Sinta yang baru selesai pemotretan terakhir untuk iklan alat kontrasepsi. Ariel menunjukkan sikap ketidaksukaannya secara terang-terangan. "Apa?"


"Dih, cewek gak jelas," balas Sinta.


"Kamu yang gak jelas!" balas Ariel yang memang sumbu pendek. Kembali terbayang bekas kepemilikian di tubuh lelakinya, emosinya kembali tersulut.


Terpaksa Om Bobby turun tangan menenangkan emosi Ariel. "Sudahlah, kita pergi saja!" ajak Om Bobby seraya memegang bahu Ariel dan mengajaknya turun lewat lift.


Sinta menatap pemandangan di depannya dengan tak percaya. Ternyata wanita gila yang tadi mencengkram kerah bajunya adalah kekasih Om Bobby, lelaki yang ia goda kemarin. Sinta kesal dan merasa kalah dengan wanita yang tak lebih cantik darinya. Apalagi saat melihat wanita itu memakai kemeja milik Om Bobby, apa yang sudah mereka lakukan di dalam?


Sementara itu, Bayu terbelalak melihat isi ruangan bosnya. Ia pikir ada gelas tumpah yang harus ia bersihkan ternyata ini lebih parah lagi. Telepon kantor nampak dibiarkan menggantung. Kertas berserakan di lantai dan alat tulis yang bertebaran di mana-mana.


"Oh shiitt, Bos! Apa yang habis kamu lakukan? Jadi benar wanita itu adalah wanitamu? Oh My God, siapapun dia, tolong jangan sering datang ke kantor ini atau aku harus bekerja ekstra!" keluh Bayu.


Bayu membuang sampah bekas kegilaan bosnya. "Kayaknya ... wanita itu lebih jago goyang dibanding Sinta. Argh, mereka melakukan berapa gaya sih? Kenapa sampai super berantakan begini?"


****


Ariel sengaja menurunkan kaca jendela mobil demi menikmati hembusan angin segar yang menerpa wajahnya dan menerbangkan anak rambutnya tersebut. Rupanya Om Bobby memilih untuk pergi ke Bandung. Ariel pasrah saja mau diajak kemana dengan suaminya.


"Masih kesal?" tanya Om Bobby seraya melirik Ariel yang terlihat cantik dengan kemeja kebesaran yang dikenakannya.


"Sedikit," jawab Ariel. Dipejamkan matanya seraya memenuhi paru-parunya dengan udara segar.

__ADS_1


"Jangan marah terus ya. Percaya sama aku. Aku tak akan mengkhianati kamu." Om Bobby mengambil tangan Ariel dan mengecupnya. Wajah Ariel jadi memerah dengan perlakuan istimewa yang Om Bobby berikan untuknya.


"Aku akan berusaha untuk mempercayai kamu. Tolong jangan berurusan dengan wanita seperti itu lagi, oke?"


"Aku tak bisa berjanji karena pekerjaanku menuntutku untuk bertemu dengan para model cantik yang mungkin akan melakukan apa saja agar keinginannya terwujud. Termasuk menawarkan kenikmatan padaku. Namun aku akan berusaha menjaga diriku agar tak ada yang bisa menyentuh Joniku selain kamu. Aku akan menjaga diriku agar tak menyakiti hati kamu lagi. Kamu mau percaya padaku bukan?"


Ariel mengangguk seraya tersenyum. "Aku percaya." Ariel memajukan dirinya seraya mengecup pipi Om Bobby. "Maaf kalau aku terlalu posesif. Aku hanya. ... terlalu takut kehilanganmu. Aku ... sangat mencintaimu."


Ariel menatap ekspresi wajah Om Bobby saat ia mengatakan hal itu. Suaminya tak membalas pernyataan cintanya seperti yang biasa Wawan lakukan. Om Bobby malah terkesan kikuk dan bingung mau mengatakan apa.


"Tak apa. Aku sadar kok siapa aku. Aku tak meminta kamu membalas perasaanku. Bisa melayani kamu saja aku sudah senang," kata Ariel sambil menahan hatinya yang terasa sakit.


"Aku-"


"Kita mau kemana? Kok menuju komplek perumahan? Bukannya kita mau menginap di hotel?" Ariel memotong ucapan Om Bobby. Ia tak mau hatinya bertambah sakit dan memilih untuk mengalihkan percakapan mereka.


Om Bobby menghentikan mobilnya di sebuah rumah mewah dengan beberapa mobil di garasi mobilnya. "Untuk apa ke hotel kalau bisa ke rumahku sendiri?"


"Hah? Rumah kamu?"


Om Bobby turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ariel. "Bukan rumahku sih, lebih tepatnya rumah Mamaku. Ayo, kita masuk!"


****

__ADS_1


__ADS_2