
Ariel berjalan mendekati Sinta dan menarik kerah bajunya. Tatapannya tajam dan perkataannya penuh ancaman. "Jangan pernah sekalipun berpikir untuk menggoda lelakiku!"
"Heh, siapa kamu? Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku!" balas Sinta.
Ariel tertawa mengejek. "Tanganku kotor? Heh, wanita murahan! Kamu tuh lebih kotor dariku. Kamu menganggap diri kamu bidadari yang suci? Cih, mana ada bidadari yang masuk ke kamar lelaki dan menggodanya untuk berbuat mesum!"
Sinta terbelalak kaget mendengar perkataan Ariel. Sinta yakin malam itu tak ada yang mengetahui apa yang dilakukannya selain dirinya dan Om Bobby. Lantas, kenapa wanita bar-bar di depannya bisa tahu?
"Kenapa? Heran bagaimana aku bisa tahu? Mau aku bongkar di depan semua orang bagaimana kelakuan kamu yang memalukan itu?" ancam Ariel.
"Siapa kamu?" tanya Sinta. Keningnya berkerut dalam seraya menatap wanita yang marah besar di depannya. Kerah bajunya masih dicengkram dengan kuat.
"Aku peringatkan, jangan pernah berniat sedikit saja untuk menggoda lelakiku. Kalau sampai kamu melakukannya lagi, aku akan melakukan yang lebih lagi dari ini!" Ariel melepaskan cengkramannya dengan agak keras sampai Sinta jatuh di kursi.
"Heh, siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk dan mengancam artisku? Mana security?" Manajer Sinta segera melindungi artisnya. Tak mau Ariel sampai melukai artis andalannya.
"Oh ... jadi kamu managernya? Tolong ajari artismu untuk menjaga sikapnya. Jangan sampai dia menggoda lelakiku lagi atau aku bisa melakukan hal yang lebih gila lagi dari ini!" ancam Ariel tanpa kenal takut.
"Artisku bukan wanita seperti itu. Jaga ucapanmu . Aku bisa tuntut kamu!" ancam manajer Sinta yang tak terima artisnya dijelekkan oleh orang lain. Image Sinta adalah artis baik-baik, bukan wanita penggoda seperti yang Ariel katakan.
"Oh ... silahkan saja. Aku akan tuntut balik. Memang kamu pikir aku takut?" balas Ariel.
Suasana di luar ruang 3 mulai ramai. Suara keributan yang terdengar sampai ke ruangan lain membuat siapapun yang mendengarnya jadi penasaran. Bayu yang sedang berjalan berhenti untuk melihat ada keramaian apa di ruang 3.
Mata Bayu terbelalak melihat Ariel yang tanpa kenal takut memarahi Sinta dan manajernya. Bayu memang tak tahu ada hubungan apa antara Ariel dengan bosnya namun satu yang pasti, Ariel memiliki tempat spesial bagi bosnya. Jika terjadi sesuatu pada Ariel, ia juga pasti akan disalahkan.
__ADS_1
"Permisi, tolong beri jalan!" Bayu membuka jalan dan masuk ke dalam ruang 3. Ariel tanpa takut terus membalas ucapan manajer Sinta. Bayu kagum dengan keberanian Ariel. "Ada apa ini?"
Sinta langsung berakting layaknya wanita lemah yang butuh perlindungan. "Mas Bayu, ada wanita gila yang datang dan mengancamku. Dia langsung menarik kerah bajuku, bar-bar sekali kelakuan wanita tak berpendidikan ini!"
Bayu mengacuhkan ucapan Sinta. Ia melihat Ariel kembali tersulut emosinya. Keadaan akan semakin kacau jika dia tak turun tangan. "Maaf, Bu, bisa ikut saya?" tanya Bayu pada Ariel. Terdengar nada bicaranya seakan menaruh hormat pada Ariel.
"Mas, kok malah mengajak wanita kayak begini pergi sih? Bagaimana bisa perusahaan besar seperti Robbie Entertainment membiarkan wanita bar-bar seperti ini masuk begitu saja? Bagaimana kalau keselamatan artis saya terancam?" kata manager Sinta yang tak terima dengan sikap Bayu.
Bayu menghela nafas dalam, dalam hatinya berharap agar sang bos tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bahaya. Bisa marah besar nanti. "Tolong tenang, biar saya yang urus. Silahkan ikuti saya, Bu," kata Bayu pada Ariel.
Ariel mengarahkan jari telunjuknya pada Sinta lalu mengancamnya. "Ingat, sekali lagi kamu menggoda lelakiku, aku akan melakukan hal yang tak pernah kamu bayangkan dalam hidupmu!"
"Silahkan, Bu!" Bayu membuka jalan agar Ariel bisa lewat. Dalam hati Bayu terus bertanya, siapa lelakiku yang diperebutkan Sinta dan wanita yang kini berjalan di sebelahnya? Apakah lelakiku itu adalah bosnya?
Bayu galau mau membawa kemana. Ia pun memutuskan membawa ke ruangan bosnya saja. Ia berharap keputusannya benar kali ini. "Silahkan duduk."
Bayu mengetuk pintu ruangan bosnya. Ia masuk dan memberirahu pada bosnya apa yang sedang terjadi. "Wanita siapa?"
"Orangnya ada di depan, Pak. Tadi sih bilangnya Sinta sudah berani menggoda lelakiku," lapor Bayu.
"Lelakiku? Kenapa kamu harus melapor padaku? Itu urusan Sinta dan wanita itu. Bukan urusanku!" Om Bobby kembali berkutat dengan dokumen yang sedang diperiksanya.
Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya pikir Bapak kenal dengan wanita itu."
Om Bobby mengangkat kepalanya dan menatap Bayu yang terlihat kebingungan. "Aku kenal? Siapa?"
__ADS_1
"Itu ... Pak, wanita yang datang bersama Galang, model iklan susu uht waktu itu."
Mata Om Bobby terbelalak mendengarnya. "Kalau dia sih aku kenal. Cepat suruh masuk dan tutup pintu dengan rapat. Reschedule semua jadwal sampai aku menghubungi kamu lagi!"
"Ba-baik, Pak!" Masih dengan wajah kebingungan, Bayu cepat-cepat pergi keluar dan mempersilahkan Ariel masuk. Bayu menutup pintu ruangan Om Bobby dengan tanda tanya besar di kepalanya. "Dia siapa? Kenapa harus reschedule semua jadwal? Apa sepenting itu bagi Pak Bos? Lalu yang tadi diributkan, jangan-jangan Pak Bos? Aduh, runyam deh. Nasib orang ganteng memang begitu, diperebutin banyak cewek cantik," batin Bayu.
Om Bobby berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan Ariel yang sedang menekuk wajahnya. "Loh, kamu kok tidak bilang sih kalau mau datang ke kantorku?" Om Bobby memeluk Ariel dan mengecup pipinya.
"Aku bukan datang untuk bertemu kamu, Beb. Aku datang untuk memberi peringatan pada artis centil dan murahan itu agar tidak mengganggu lelakiku lagi!" oceh Ariel.
"Wow, lelakiku? Enak banget sih mendengarnya." Om Bobby merangkul bahu Ariel dan mengajaknya ke kursi kerjanya. Ia menepuk pahanya dan meminta Ariel duduk di pangkuannya.
"Kenapa dia masih ada di perusahaan ini? Kamu tidak pecat saja?" Ariel memanyunkan bibirnya, hatinya masih terasa panas.
"Tidak segampang itu memberhentikan seseorang. Kami terikat kontrak kerjasama dengan nilai kontrak yang jumlahnya fantastis. Dia masih harus melakukan sesi pemotretan untuk iklan, itu sebabnya aku tak bisa langsung memecatnya," jawab Om Bobby. "Kamu sendirian saja? Galang tak ikut?"
"Galang dibawa Mas Wawan. Kata Mas Wawan, Ibu Sari, mantan mertuaku, kangen dengan cucunya."
Mendengar nama Wawan disebut, Om Bobby mencibirkan bibirnya. "Nginep?"
"Iya. Semalam saja."
Sebuah ide tiba-tiba melintas di pikiran Om Bobby. "Yang, mumpung Galang nginep, bagaimana kalau kita kencan?"
"Enggak mau. Aku kesal karena masih ada bekas artis murahan itu di tubuh kamu!" rajuk Ariel.
__ADS_1
"Oh come on. Jarang loh kita bisa bebas kencan. Masalah bekas yang dia buat, bagaimana kalau kamu membuat bekas yang lebih besar dari yang wanita itu buat? Mau ya? Joni kangen kamu, kangen goyangan Mama Ariel. Please ... mau ya?"
****