
Ariel menunjukkan bukti transfer yang dikirimkan oleh Bu Sri kepada suaminya sambil tersenyum lebar. Dengan bangganya Ariel memamerkan hasil kerja keras tersebut. "Beb, bagaimana menurutmu? Lumayan sekali, bukan? Aku bisa mengerjakan pembuatan keripik namun tetap menjadi seorang ibu rumah tangga yang bertanggung jawab. Aku punya bakat bukan?"
Om Bobby tersenyum melihat kebahagiaan Ariel. Ia turut senang mendengarnya. "Iya, kamu memang sangat hebat! Kamu juga sangat berbakat. Aku bangga sama kamu. Aku yakin kamu akan lebih hebat lagi dari sebelumnya," kata Om Bobby menyemangati Ariel.
Memang jumlah yang ditransfer bukanlah nominal yang besar sekali bagi Om Bobby, namun itu adalah suatu pencapaian atas kerja keras Ariel selama beberapa waktu kemarin. Ariel sudah seharusnya mendapat apresiasi atas hasil kerja kerasnya tersebut. Om Bobby tanpa ragu memuji keberhasilan istrinya agar semangat yang dimiliki sang istri tidak akan mengendur.
"Hmm ... Sayang, aku rasa produk kamu sudah waktunya dipromosikan dengan media. Bagaimana kalau aku promosikan di akun sosial media? Kita endorse akun media sosial selebram yang terkenal agar kripik kamu makin laku?" Salah satu dukungan Om Bobby adalah dengan memfasilitasi lewat media iklan. Ia yang hafal sekali dengan dunia periklanan tentu tahu seluk beluk bagaimana membuat produk Ariel semakin laku terjual.
"Aku sih mau, Beb. Bisa kasih aku waktu sedikit? Aku mau merekrut pegawai. Aku tak mungkin membuat semua keripik hanya berdua saja dengan Mbak yang di rumah. Galang juga membantu sih tapi tak banyak." Ariel diam sejenak seakan teringat sesuatu. "Aku tahu!"
Tanpa permisi Ariel pergi meninggalkan Om Bobby yang kebingungan. Ariel mengambil ponsel miliknya lalu menelepon seseorang. Lama sekali. Om Bobby tak sabaran menunggunya.
Wajah Ariel terlihat serius saat berbicara di telepon. Di akhir panggilan, Ariel tersenyum lebar seakan semua masalah sudah diselesaikan. Dengan langkah ringan, Ariel pun mendatangi Om Bobby.
"Sayang, aku mau pulang ke rumah Ibu."
__ADS_1
Perkataan Ariel tentu saja membuat Om Bobby terkejut. Tak ada pertengkaran di antara mereka namun Ariel tiba-tiba minta pulang. Ada apa? Apa salah Om Bobby?
"Sayang, kenapa mau pulang? Aku salah apa? Kamu marah sama aku?" tanya Om Bobby dengan wajah khawatir.
"Marah? Aku tidak marah sama kamu. Aku sudah menemukan cara untuk memproduksi keripikku dalam jumlah besar." Ariel duduk di samping Om Bobby dan mengutarakan idenya. "Jadi begini, Beb, aku ingin menjadi seperti Ibu Jojo, sahabatnya Bu Sri, dia itu pintar sekali. Ibu Jojo punya usaha mengupas bawang. Beliau membuka lahan pekerjaan untuk masyarakat sekitarnya. Ibu-ibu di sekitar rumahnya pun semakin terbantu dengan usaha milik Ibu Jojo. Mereka jadi memiliki penghasilan sendiri,"
" Meskipun tidak besar namun ibu-ibu itu bisa mengisi waktu senggang namun menghasilkan. Aku ingin bisa melakukan sesutu untuk tetangga Ibu di kampung. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya? Kalau aku membuka lapangan pekerjaan untuk mereka berarti aku juga makin bermanfaat untuk sesamaku. Rencananya, semua proses produksi akan dilakukan di kampung. Nanti setelah jadi kripik dan dikemas barulah kita kirim. Ibu dan adikku yang akan mengawasi. Menurut kamu bagaimana?" usul Ariel.
Sebenarnya Ariel teringat dengan salah satu pelajaran saat ia kuliah dulu, membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang sekitar itu akan membantu perekonomian mereka. Dimulai dari perekonomian yang kecil sampai nantinya mereka punya uang dan dapat meningkatkan kehidupan mereka dengan lebih baik lagi.
Meskipun Ariel bodoh dalam pelajaran, namun ia ingin menerapkan ilmu yang ia dapat di bangku kuliah. Nilai bagus tidak menjamin kepintaran seseorang namun jika kita ingin berusaha, kita yang tidak pintar pun bisa bermanfaat bagi orang sekitar. Itu yang Ariel pikirkan.
Mendengar pemikiran Ariel yang begitu amazing, Om Bobby hanya bisa bertepuk tangan dan tersenyum. Ia bangga dengan istrinya. Siapa sih yang akan mengira kalau wanita dengan masa lalu yang buruk seperti Ariel ternyata punya hati yang amat baik. Ia ingin memajukan tetangga-tetangganya di kampung dan memberi mereka lapangan pekerjaan. Hanya seseorang dengan hati malaikat yang bisa melakukan hal seperti itu.
"Aku enggak bisa berkata-kata, Sayang. Bagiku, apa yang kamu lakukan itu sangat hebat. Aku saja tidak bisa seperti itu. Aku bangga sekali sama kamu. Aku enggak pernah mengira kalau istriku ternyata lebih mempedulikan kesejahteraan orang di sekitarnya dibanding diriku sendiri. Kamu itu sebenarnya sangat pintar. Buang semua nilai-nilai kuliah kamu, semua itu tidak penting. Bagiku, kamu tuh jauh lebih pintar daripada yang mendapat IPK 4!" kata Om Bobby dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Kamu tuh terlalu banyak memujiku. Aku malu kalau sampai tidak berhasil. Tenang Beb, aku akan buktikan sama kamu kalau kamu patut bangga memiliki istri sepertiku."
Ariel tidak hanya asal bicara saja. Keesokan harinya dngan diantar Om Bobby, Ariel dan Galang pulang kampung ke rumah kedua orang tua Ariel. Karena sudah lama tidak pulang, kedatangan mereka begitu dinantikan oleh kedua orang tua dan adiknya. Mereka melihat Ariel yang berubah menjadi semakin cantik dan aura bahagia yang terpancar dalam dirinya berbeda dengan saat ia dulu menikah dengan Wawan.
Ibu Ariel senang melihat Ariel sekarang mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar menghargai dan mencintainya. Tentu saja keluarga Ariel tak ada yang tahu bagaimana Ariel diperlakukan oleh mertuanya. Kalau saja mereka tahu, mungkin mereka akan bersedih, untuk itulah Ariel menyembunyikan apa yang terjadi dengan mertuanya dengan rapat. Ariel hanya menceritakan yang baik-baik saja di depan kedua orang tuanya. Biarlah semua kesedihan hidup Ariel yang menanggungnya. Ia cukup membagikan momen bahagia saja agar kedua orang tuanya tenang dan berpikir kalau anak mereka baik-baik saja.
"Apa? Kamu mau membuat keripik? Kamu serius, Riel?" tanya Ibu Ariel tak percaya. Dia pikir, Ariel jauh-jauh datang hanya untuk menengok kedua orang tuanya, ternyata Ariel punya tujuan lain.
"Iya, Bu. Ariel ingin bisnis Ariel berkembang makin besar. Selama ini, Ariel iseng-iseng membuat keripik dan menjualnya di toko kue. Ternyata, permintaan untuk keripik Ariel semakin banyak. Suami Ariel juga ingin mempromosikan keripik ini lewat media sosial dan juga iklan, Ariel sudah tak sanggup mengerjakannya seorang diri. Ariel ingin membuat usaha kecil-kecilan. Rencananya, Ariel akan meminta Ibu dan Yoga untuk membantu mengawasi. Ariel mau membantu tetangga kita untuk memiliki penghasilan, Bu. Ibu mau 'kan membantu Ariel?"
Mata Ibu Ariel berkaca-kaca. Tak pernah ia berpikir kalau anaknya akan peduli pada tetangganya. Sungguh mulia hati Ariel. Ia ingin membantu tetangganya yang kebanyakan hanya ibu rumah tangga tak berpenghasilan. "Mau, Nak. Tentu Ibu mau. Ya Tuhan, kamu sungguh anak yang hebat, Nak. Ibu bangga sama kamu!"
*****
Hi semua!
__ADS_1
Udah baca kisah Prisa belum? Ayo cus baca karena akan rutin up setiap hari loh. Kisahnya dijamin hot dan unpredictable. Dimana sih Thor? Baca komen ya. Judulnya Tante Senang Tante Bayar. Jangan lupa mampir ya 😍😍